SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah Kemarau Mencekik Peternak Sapi Mempawah, Air Langka dan Rumput Mengering

Kemarau Mencekik Peternak Sapi Mempawah, Air Langka dan Rumput Mengering

Sakiman, peternak sapi di Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, yang kelimpungan memberi makan dan minum ternaknya. [SUARAKALBAR.CO.ID/Tim]

Mempawah (Suara Kalbar) – Musim kemarau panjang yang disertai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat.

Para peternak sapi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, juga ikut merasakan beratnya kondisi tersebut.

Sejumlah peternak kini harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan pakan hijau dan air minum bagi ternak mereka. Kondisi itu telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir.

Salah seorang peternak, Sakiman, yang memelihara lima ekor sapi di Parit Mak Elot, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, mengaku kesulitan mendapatkan rumput segar untuk pakan ternaknya.

Menurutnya, rumput yang biasanya mudah ditemukan saat musim penghujan kini banyak mengering. Kalaupun masih tersedia, kualitasnya jauh menurun.

“Sudah dua minggu saya kesulitan. Kalau mencari rumput harus pagi-pagi sekali, sekitar jam lima subuh. Kalau sudah siang susah mencarinya, rumput juga banyak yang kering,” ujar Sakiman, Minggu (30/8/2026) malam.

Tak hanya pakan, persoalan air bersih juga menjadi tantangan serius. Selama ini, Sakiman mengandalkan air parit yang bersumber dari aliran Sungai Mempawah untuk memenuhi kebutuhan minum lima ekor sapinya.

Namun, kondisi sungai yang terdampak musim kemarau membuat sumber air tersebut tak lagi bisa diandalkan.

“Air sungai sekarang asin, bahkan tidak mengalir masuk ke parit. Sudah dua minggu saya kesulitan memberi minum sapi,” katanya.

Untuk mendapatkan air dari sumber lain, peternak harus mengeluarkan biaya tambahan.

Sakiman menyebut harga air yang diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka bisa mencapai lebih dari Rp150 ribu sekali angkut.

“Kalau mau beli air, harganya cukup tinggi, lebih dari Rp150 ribu per pikap,” ungkapnya.

Keterbatasan air tersebut membuat Sakiman khawatir terhadap kondisi kesehatan ternaknya. Ia takut sapi-sapinya lebih mudah terserang penyakit apabila kebutuhan air tidak terpenuhi dengan baik.

Kondisi ini menjadi gambaran lain dari dampak kemarau dan karhutla yang kini dirasakan masyarakat hingga ke sektor peternakan.

Sakiman berharap kondisi kemarau segera berakhir dan hujan kembali turun sehingga ketersediaan air serta rumput hijau untuk pakan ternak kembali normal.

“Harapannya kemarau dan karhutla ini segera berlalu, supaya air dan rumput kembali mudah didapat,” pungkasnya.

Penulis: Distra

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play