Sembahyang Rampas Chiong Si Ku di Mempawah, Tradisi Mengantar Arwah ke Nirwana
Mempawah (Suara Kalbar) – Masyarakat Tionghoa di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, kembali menggelar ritual Sembahyang Rampas atau Chiong Si Ku, Kamis (27/8/2026).
Ritual yang bertepatan dengan tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek 2577 tersebut dipusatkan di Kelenteng Yayasan Tri Dharma Mempawah, Jalan Gusti M. Taufik, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir.
Ketua Yayasan Tri Dharma Mempawah, Then Sin Jung atau Selamat, mengatakan Sembahyang Rampas merupakan puncak dari rangkaian ritual sembahyang kubur yang dilaksanakan masyarakat Tionghoa secara turun-temurun setiap tahun.
Menurutnya, tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tionghoa Mempawah selama ratusan tahun, bahkan diyakini telah dilaksanakan sejak sekitar 400 tahun lalu.
“Sembahyang rampas ini merupakan ritual untuk memanggil sekaligus mengantar arwah agar kembali dengan tenang ke nirwana,” ujar Then Sin Jung.
Tahun ini, prosesi Sembahyang Rampas di Kelenteng Yayasan Tri Dharma Mempawah dipimpin oleh sinsang Cung Jie Fung alias Anyam.
Sejak pagi, ritual khusus dilakukan untuk memanggil arwah. Setelah rangkaian sembahyang selesai, prosesi dilanjutkan dengan ritual mengantar arwah yang dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 17.45 WIB.
Dalam pelaksanaan ritual tersebut, masyarakat secara sukarela memberikan berbagai sumbangan berupa makanan, buah-buahan, minuman hingga kebutuhan untuk pembangunan wangkang.
Wangkang merupakan replika kapal laut dan pesawat terbang yang dibuat menggunakan bahan kertas dan kayu. Benda tersebut nantinya dibakar sebagai simbol sarana untuk mengantarkan arwah kembali ke alamnya.
Prosesi pada sore hari diawali dengan Sembahyang Rampas, kemudian dilanjutkan dengan pembakaran wangkang sebagai simbol penghantaran arwah menuju nirwana.
Menariknya, tradisi Sembahyang Rampas di Mempawah tidak hanya terbuka bagi masyarakat Tionghoa. Seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang agama maupun suku, diperbolehkan ikut serta dalam rangkaian tradisi tersebut.
Setelah sinsang menyelesaikan ritual dan memberikan aba-aba khusus, masyarakat diperbolehkan mengambil atau “merebut” berbagai sesajen yang telah disediakan.
Tradisi inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas Sembahyang Rampas atau Chiong Si Ku dan terus dipertahankan masyarakat Tionghoa Mempawah sebagai warisan budaya yang telah berlangsung lintas generasi.
Penulis: Distra
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






