SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Kerja Remote Makin Diminati Generasi Muda Indonesia, Tapi Ada Risiko bagi Kesehatan Mental

Kerja Remote Makin Diminati Generasi Muda Indonesia, Tapi Ada Risiko bagi Kesehatan Mental

Ilustrasi kerja remote. (Pixabay/Stock Snap)

Suara Kalbar – Perkembangan teknologi digital ikut mengubah cara masyarakat bekerja. Jika sebelumnya pekerjaan identik dengan kehadiran di kantor, kini sistem kerja remote semakin banyak dipilih karena memungkinkan pekerja menyelesaikan tugas dari lokasi yang lebih fleksibel.

Perubahan tersebut semakin terasa di kalangan generasi muda Indonesia yang telah terbiasa menggunakan perangkat dan berbagai layanan digital. Sistem kerja jarak jauh tidak hanya memberikan keleluasaan dalam menentukan lokasi bekerja, tetapi juga membuka akses terhadap lapangan pekerjaan di luar daerah hingga pasar kerja internasional.

Minat terhadap pekerjaan internasional yang dapat dilakukan secara remote maupun hybrid pun menunjukkan peningkatan. Berdasarkan laporan Decoding Global Talent 2024 dari SEEK, ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap pekerjaan internasional secara remote atau hybrid meningkat dari 55 persen pada 2020 menjadi 71 persen pada 2023.

Kenaikan tersebut menunjukkan semakin banyak pekerja Indonesia yang tertarik memanfaatkan peluang pasar kerja global tanpa harus meninggalkan tempat tinggal. Jika didukung keterampilan dan infrastruktur digital yang memadai, perubahan ini berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap pasar tenaga kerja Indonesia.

Apa Itu Kerja Remote?

Kerja remote merupakan sistem kerja yang memungkinkan seseorang menjalankan tugas dari luar lingkungan kantor. Pekerja dapat menyelesaikan pekerjaan dari rumah, kafe, ruang kerja bersama, atau lokasi lain selama tersedia koneksi internet dan perangkat digital yang dibutuhkan.

Meski menawarkan keleluasaan dalam menentukan lokasi kerja, sistem remote tidak selalu berarti pekerja bebas menentukan waktu kerjanya sendiri. Pengaturan jam kerja tetap bergantung pada kebijakan perusahaan, jenis pekerjaan, serta kesepakatan antara pekerja dan pemberi kerja.

Tidak semua pekerjaan juga dapat dilakukan secara remote. Pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik, penggunaan fasilitas tertentu, atau interaksi langsung dengan pelanggan tetap mengharuskan pekerja berada di lokasi yang telah ditentukan.

Kerja Remote Diminati Generasi Muda

Salah satu alasan kerja remote semakin diminati adalah fleksibilitas. Pekerja tidak harus selalu berada di kantor untuk menyelesaikan tugas sehingga dapat menyesuaikan aktivitas kerja dengan kebutuhan pribadi, selama target dan aturan perusahaan tetap terpenuhi.

Sistem tersebut juga dapat mengurangi sejumlah pengeluaran rutin. Pekerja yang tidak perlu datang ke kantor setiap hari dapat menghemat biaya transportasi maupun pengeluaran untuk makan di luar rumah.

Waktu yang biasanya digunakan untuk perjalanan menuju dan dari kantor juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Selain itu, kerja remote memberikan keuntungan berupa akses lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Seseorang dapat melamar pekerjaan pada perusahaan yang berada di kota atau bahkan negara lain tanpa harus langsung berpindah tempat tinggal. Bagi generasi muda yang memiliki keterampilan digital, kondisi ini membuka kesempatan untuk bersaing di pasar kerja internasional.

Pekerjaan di bidang teknologi informasi, desain, pemasaran digital, penulisan, penerjemahan hingga sejumlah pekerjaan administratif dapat dilakukan dengan dukungan perangkat dan koneksi internet.

Dampak Kerja Remote

Meningkatnya kerja remote berpotensi mengubah pola pasar tenaga kerja di Indonesia. Salah satu dampaknya adalah terbukanya akses pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat ekonomi maupun kota-kota besar.

Dengan sistem kerja jarak jauh, seseorang tidak selalu harus pindah ke Jakarta, Surabaya, Bandung, atau kota besar lainnya hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

Peluang tersebut dapat membantu memperluas akses terhadap lapangan pekerjaan di berbagai daerah. Kerja remote juga berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi digital karena semakin banyak aktivitas pekerjaan dilakukan melalui platform berbasis teknologi.

Kondisi tersebut kemudian meningkatkan kebutuhan terhadap kemampuan teknologi, komunikasi daring, keamanan digital, serta kemampuan berkolaborasi dengan orang dari berbagai wilayah.

Namun, manfaat kerja remote tetap membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Ketersediaan internet yang merata menjadi salah satu faktor penting agar peluang kerja digital tidak hanya dinikmati masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses teknologi lebih baik.

Peningkatan keterampilan juga menjadi kebutuhan penting. Pekerja yang ingin masuk ke pasar kerja global tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan kemampuan bahasa, komunikasi, manajemen waktu, dan adaptasi terhadap lingkungan kerja yang berbeda.

Dengan modal tersebut, pekerja Indonesia memiliki peluang mendapatkan pekerjaan dari perusahaan luar negeri tanpa harus berpindah negara. Kondisi ini menunjukkan bahwa persaingan tenaga kerja semakin tidak terbatas oleh wilayah geografis.

Kerja Remote Juga Memiliki Risiko terhadap Kesehatan Mental

Di balik fleksibilitas yang ditawarkan, kerja remote juga memiliki tantangan terhadap kesejahteraan pekerja. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 4 Juni 2026 meneliti hubungan antara pola kerja dan kondisi kesehatan mental pekerja.

Penelitian tersebut menganalisis lima survei nasional yang melibatkan 588.322 pekerja di Amerika Serikat selama periode 2011 hingga 2024. Masa puncak pandemi pada 2020 dan 2021 tidak dimasukkan dalam analisis penelitian tersebut.

Hasil penelitian menemukan adanya hubungan antara kerja remote dengan meningkatnya waktu yang dihabiskan seorang diri serta memburuknya kondisi kesehatan mental. Dampak tersebut terutama terlihat pada pekerja yang tinggal sendirian.

Penelitian yang dilakukan Natalia Emanuel, Emma Harrington, dan Amanda Pallais tersebut juga menemukan pekerja yang memiliki pekerjaan yang dapat dilakukan secara remote cenderung menghabiskan lebih banyak waktu seorang diri.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kerja remote diperkirakan dapat menjelaskan sekitar sepertiga dari peningkatan tekanan mental yang diamati selama periode penelitian.

Meski terdapat potensi risiko sosial dan kesehatan mental, minat terhadap kerja remote tetap tinggi. Penelitian yang sama mencatat pekerja pada umumnya bersedia menerima pengurangan pendapatan sekitar 4 hingga 10 persen sebagai imbalan atas kesempatan bekerja secara remote.

Temuan tersebut menunjukkan adanya pertukaran antara fleksibilitas yang diinginkan pekerja dengan potensi konsekuensi sosial yang dapat muncul. Karena itu, penerapan kerja remote perlu mempertimbangkan bukan hanya produktivitas, tetapi juga interaksi sosial dan kesejahteraan pekerja.

Peluang Kerja Global Semakin Terbuka

Meningkatnya minat terhadap kerja remote menunjukkan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memandang pekerjaan. Bagi generasi muda Indonesia, sistem ini menawarkan kesempatan mencari pekerjaan dengan jangkauan lebih luas tanpa harus selalu berpindah tempat tinggal.

Data SEEK yang menunjukkan peningkatan minat terhadap pekerjaan internasional secara remote atau hybrid dari 55 persen pada 2020 menjadi 71 persen pada 2023 memperlihatkan besarnya ketertarikan terhadap peluang kerja lintas negara.

Namun, kerja remote bukan sekadar persoalan bekerja dari rumah. Pekerja tetap membutuhkan keterampilan yang sesuai, koneksi internet stabil, kemampuan berkomunikasi, serta kedisiplinan dalam mengatur pekerjaan.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu memperhatikan kesejahteraan pekerja agar fleksibilitas yang diberikan tidak justru meningkatkan rasa terisolasi. Dukungan terhadap interaksi sosial dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Dengan dukungan infrastruktur digital, peningkatan keterampilan, serta pola kerja yang memperhatikan kesejahteraan pekerja, kerja remote dapat menjadi salah satu bagian dari perubahan pasar tenaga kerja Indonesia sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap peluang pekerjaan di tingkat global.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play