Ekspor Alumina Kalbar Kembali Berjalan, Lebih dari 100 Kapal yang Sempat Tertahan Mulai Beroperasi
Pontianak (Suara Kalbar) – Ekspor komoditas alumina hydroxide dan alumina oxide dari Kalimantan Barat kembali berjalan setelah pemerintah menyelesaikan hambatan administratif yang sempat menahan pengiriman mineral. Pelepasan ekspor dilakukan di Pelabuhan Dwikora Pontianak, Jumat (7/8/2026).
Kepala Staf Kepresidenan RI, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, mengatakan pemerintah telah menyamakan pemahaman antarinstansi terkait pelaksanaan aturan ekspor mineral selama masa transisi regulasi.
“Kesepahaman ini hasil koordinasi KSP pada tanggal 27 Juli 2026 dan rapat teknis lintas instansi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada tanggal 31 Juli 2026 agar surveyor, Bea Cukai, serta kementerian dan lembaga memiliki pedoman yang sama pada masa transisi sambil menunggu penyempurnaan regulasi instansi,” katanya.
Menurut Dudung, hasil koordinasi tersebut telah memberikan kepastian terhadap proses ekspor yang sebelumnya tertunda. PT Sucofindo kini telah memperoleh kepastian untuk menerbitkan 85 laporan surveyor yang sempat tertahan.
“Lebih dari 100 kapal ekspor yang sebelumnya tertahan mulai kembali beroperasi dan berisi hampir 400 ribu ton komoditas mineral dengan nilai sekitar 124 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp2,2 triliun,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekitar 80 ribu ton komoditas lainnya masih dalam proses penyelesaian oleh PT Sucofindo, sehingga total volume yang terdampak penundaan mencapai sekitar 471 ribu ton.
Dudung menyebut pelepasan ekspor PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) menjadi bukti bahwa koordinasi pemerintah mampu mengatasi hambatan ekspor sekaligus menjaga keberlangsungan industri.
“Kembali berjalannya ekspor menjaga keberlanjutan produksi serta lapangan kerja. Pada dua perusahaan alumina yang terkait saja, ribuan tenaga kerja langsung ikut terselamatkan. Belum termasuk pekerja tambang, pengangkutan, pergudangan, pelabuhan, pelayaran, dan usaha pendukung lainnya,” katanya.
Ia menegaskan penyelesaian hambatan tersebut sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
“Ini sesuai dengan arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, agar setiap hambatan kegiatan ekonomi diselesaikan secara cepat, konkret, dan tepat berdasarkan hukum sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Pemprov dorong optimalisasi Pelabuhan Kijing
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan mengatakan kegiatan ekspor alumina sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Namun, prosesnya sempat terganggu akibat persoalan administrasi.
“Sebenarnya bukan masalah ekspor. Pertama, sudah lama ekspornya. Cuma kemarin sempat ada masalah. Alhamdulillah, hal itu sudah diinisiasi sehingga sekarang ekspornya kembali dibuka,” katanya.
Menurut Krisantus, momentum kembali berjalannya ekspor juga harus diikuti dengan percepatan penyelesaian persoalan infrastruktur, terutama pendangkalan Sungai Kapuas yang menjadi jalur pelayaran menuju Pelabuhan Dwikora.
“Hari ini kita ekspor, tetapi Sungai Kapuas dangkal. Sehingga ini perlu juga kita carikan solusi sesegera mungkin. Memangkas birokrasi agar pengerukan Sungai Kapuas juga bisa segera dilaksanakan,” ujarnya.
Ia juga meminta dukungan pemerintah pusat agar Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah dapat segera beroperasi penuh sebagai pelabuhan internasional.
“Saya juga minta kepada Kepala Staf Kepresidenan, mohon bantuannya agar Pelabuhan Kijing juga segera operasional penuh, 100 persen sebagai pelabuhan internasional,” katanya.
Selain itu, Krisantus menyoroti perlunya regulasi mengenai kontribusi sektor pertambangan terhadap pendapatan negara maupun daerah.
“Harus ada regulasi yang mengatur tentang pertambangan emas dan pasir di Provinsi Kalimantan Barat sehingga ada kontribusi terhadap APBN maupun PAD,” ujarnya.
Ia berharap ekspor ke depan dapat dialihkan melalui Pelabuhan Kijing karena tidak menghadapi kendala kedalaman alur sungai seperti di Pontianak.
Pelindo siapkan operasional penuh Pelabuhan Kijing
Direktur Komersial Pelindo, Farid Padang, mengatakan ekspor alumina melalui Pelabuhan Dwikora sebenarnya telah berlangsung secara rutin dengan volume sekitar 1.000 boks kontainer setiap bulan.
“Tujuannya Jepang, Korea, China, dan India. Memang kemarin kita sedikit bermasalah karena aturan. Alhamdulillah, dengan datangnya Pak Dudung, persoalan itu bisa dipecahkan sehingga ekspor bisa langsung dari sini,” katanya.
Farid mengatakan Pelindo bersama Pemerintah Provinsi Kalbar akan menjaga kedalaman alur pelayaran di Sungai Kapuas agar aktivitas ekspor tetap berjalan.
“Insyaallah kita akan usahakan pengerukan sehingga kedalaman tetap terjaga. Jangan sampai ada kendala akibat pendangkalan di Pontianak,” ujarnya.
Sementara itu, Pelabuhan Kijing ditargetkan mulai meningkatkan aktivitas ekspor pada bulan depan. Pelindo akan menambah peralatan bongkar muat yang didatangkan dari Medan.
“Bulan depan alat datang dari Medan. Dua RTG dan dua QC akan siap di sana. Secara bertahap sebagian pelayanan akan dipindahkan ke Kijing,” katanya.
Farid menambahkan, pada bulan depan juga direncanakan kedatangan kapal langsung dari China yang akan melakukan kegiatan ekspor melalui Pelabuhan Kijing.
“Bulan depan kita juga melakukan direct call kapal dari China yang langsung membawa muatan ke China melalui Kijing,” ujarnya.
Penulis: Maria





