SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Dunia WHO: Wabah Ebola di Kongo Jadi yang Terbesar dalam Sejarah, 1.587 Orang Meninggal

WHO: Wabah Ebola di Kongo Jadi yang Terbesar dalam Sejarah, 1.587 Orang Meninggal

Sejak 17 Mei 2026, WHO menetapkan wabah ebola di Kongo dan Uganda berstatus sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. (Keystone via AP, File/Martial Trezzini)

Suara Kalbar – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyatakan wabah ebola di Republik Demokratik Kongo (Democratic Republic of the Congo/DRC) terus memburuk dan kini menjadi yang terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Penyebaran virus yang semakin luas, disertai lonjakan jumlah kasus serta tingginya angka kematian, membuat WHO kembali mengingatkan pentingnya peningkatan upaya penanganan untuk mencegah situasi semakin tidak terkendali.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu (1/8/2026), WHO menyebut wabah penyakit akibat virus Bundibugyo ebolavirus masih menunjukkan tren peningkatan.

Lembaga kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyatakan penularan terus berlangsung di berbagai wilayah, sementara jumlah kasus maupun korban meninggal dunia terus bertambah dari pekan ke pekan.

“Wabah penyakit akibat virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo terus meningkat, dengan penularan yang berkelanjutan serta peningkatan jumlah kasus dan kematian yang terus berlanjut,” demikian pernyataan WHO.

Mengutip Antara, Minggu (2/8/2026), WHO menegaskan wabah tersebut kini telah menjadi wabah ebola terbesar yang pernah tercatat di Republik Demokratik Kongo sejak negara itu pertama kali menghadapi penyakit mematikan tersebut.

Hingga Kamis (30/7/2026), WHO mencatat sebanyak 3.605 kasus terkonfirmasi, termasuk 1.587 kematian. Dengan jumlah tersebut, tingkat kematian akibat wabah diperkirakan mencapai sekitar 44 persen.

Menurut WHO, tingginya angka kematian serta terus bertambahnya kasus baru menunjukkan keadaan darurat kesehatan masyarakat masih berkembang dengan sangat cepat.

“Peningkatan jumlah kasus yang terus terjadi, meluasnya penyebaran geografis, dan tingginya angka kematian menunjukkan perkembangan pesat keadaan darurat kesehatan masyarakat ini,” kata WHO.

Dalam sepekan terakhir saja, tercatat terdapat 567 kasus baru dengan 296 kematian. Data tersebut menunjukkan laju penularan virus masih sangat tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi otoritas kesehatan karena penanganan harus dilakukan secara cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas.

Penyebaran wabah juga terus meluas ke berbagai wilayah. Jika pada awalnya terkonsentrasi di Provinsi Ituri, kini virus telah menyebar ke empat provinsi lainnya, yakni Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, dan Tshopo.

Secara keseluruhan, sebanyak 49 zona kesehatan di Republik Demokratik Kongo telah terdampak wabah ebola, sehingga memperbesar tantangan dalam pelaksanaan pelacakan kontak, perawatan pasien, serta distribusi layanan kesehatan.

WHO menilai dibutuhkan peningkatan besar-besaran terhadap respons kesehatan masyarakat, mulai dari penguatan surveilans, deteksi dini, penanganan pasien, hingga perlindungan tenaga kesehatan di lapangan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan laju penyebaran virus sekaligus mengurangi angka kematian yang masih tergolong tinggi.

Sebagai informasi, WHO menetapkan wabah ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) pada 17 Mei 2026.

Status tersebut merupakan tingkat kewaspadaan tertinggi dalam mekanisme tanggap darurat WHO dan menjadi sinyal bagi komunitas internasional untuk memperkuat dukungan terhadap upaya pengendalian wabah di Republik Demokratik Kongo.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play