SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Kubu Raya Panen Perdana Lele Sangkuriang, Warga Teluk Bakung Buka Peluang Ekonomi Baru

Panen Perdana Lele Sangkuriang, Warga Teluk Bakung Buka Peluang Ekonomi Baru

Potret panen perdana budidaya lele Sangkuriang di Desa Teluk Bakung, Sungai Ambawang, Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar).SUARAKALBAR.CO.ID/ist

Kubu Raya (Kalbar) – Budidaya lele Sangkuriang mulai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Teluk Bakung, Sungai Ambawang, Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar).

Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Silvofishery Jahanang Mandiri, warga berhasil melaksanakan panen perdana setelah sekitar dua bulan membudidayakan ikan lele sebagai sumber penghasilan alternatif yang ramah lingkungan.

Panen perdana yang berlangsung pada 28–29 Juli 2026 itu dianggap menjadi langkah awal pengembangan usaha perhutanan sosial di bawah naungan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Teluk Bakung.

Program tersebut didampingi SAMPAN Kalimantan melalui Delta Kapuas Project sebagai upaya memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian kawasan hutan.

Budidaya lele dimulai dengan penebaran benih pada 25 Mei 2026. Setelah masa pemeliharaan sekitar dua bulan, kelompok berhasil memanen hasil budidaya yang kemudian dipasarkan langsung kepada masyarakat maupun pengepul.

Pada panen lanjutan yang dilaksanakan 29 Juli 2026, sebanyak 100,7 kilogram atau 544 ekor lele dipasarkan kepada masyarakat Desa Teluk Bakung. Sementara itu, sebanyak 182 kilogram atau 1.117 ekor dijual kepada pengepul ikan dari Kampung Jawa Tengah.

Hasil tersebut menunjukkan usaha budidaya yang dikembangkan telah memiliki akses pasar dan mulai memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok.

Analis Akuakultur Ahli Muda Dinas Perikanan Kabupaten Kubu Raya, Mugianto, menilai hasil panen tersebut menunjukkan masyarakat memiliki kemampuan mengembangkan usaha budidaya apabila mendapat pembinaan secara berkelanjutan.

“Secara keseluruhan proses pembesaran ikan berjalan dengan baik. Memang masih ada beberapa aspek teknis yang perlu diperbaiki, namun kegiatan ini menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, khususnya di Desa Teluk Bakung,” ujarnya.

Menurut Mugianto, Dinas Perikanan Kabupaten Kubu Raya akan terus mendampingi masyarakat, mulai dari teknik budidaya, pengelolaan kolam hingga pemasaran hasil produksi. Ia juga mendorong anggota KUPS menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) agar kualitas produk tetap terjaga dan mampu bersaing di pasar.

Ketua KUPS Silvofishery Jahanang Mandiri, Yesi Gusmana, mengatakan kelompok yang dipimpinnya beranggotakan 16 orang yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Seluruh anggota sebelumnya telah mengikuti pelatihan budidaya ikan.

Menurutnya, panen perdana menjadi harapan baru bagi masyarakat Desa Teluk Bakung untuk memperoleh sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan.

“Sebanyak 2.000 ekor benih kami pelihara di kolam tanah dan kolam terpal. Dalam waktu sekitar dua bulan dua hari kami sudah dapat melaksanakan panen pertama. Tantangan terbesar saat ini adalah musim kemarau yang menyebabkan pasokan air terbatas, namun kami tetap berupaya menjaga kualitas budidaya,” kata Yesi.

Ia menegaskan, KUPS Silvofishery Jahanang Mandiri dibentuk tidak hanya sebagai kelompok usaha, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat di kawasan hutan desa.

“Kami berharap usaha budidaya lele ini terus berkembang sebagai mata pencaharian baru bagi masyarakat. Dengan adanya usaha ini, masyarakat memiliki peluang meningkatkan pendapatan sekaligus mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dukungan terhadap pengembangan usaha tersebut juga diberikan PT Belantara Sejahtera Mandiri (BSM) sebagai mitra pendanaan dalam Delta Kapuas Project.

Perwakilan PT BSM, Abdurahman Siagian, mengatakan panen perdana menjadi indikator awal keberhasilan pengembangan usaha masyarakat yang dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Pada tahap awal ini kami melakukan uji coba menggunakan dua sistem budidaya, yaitu kolam tanah dan kolam terpal. Hasil evaluasi nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan model budidaya yang paling optimal sehingga pengembangan usaha dapat dilakukan secara lebih efektif,” ujarnya.

Menurut Abdurahman, dukungan terhadap kelompok akan terus diberikan agar usaha budidaya tersebut berkembang menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.

“Kami berharap KUPS Jahanang Mandiri dapat menjadi contoh bagi kelompok usaha perhutanan sosial lainnya. Jika berkembang dengan baik, manfaatnya akan dirasakan oleh lebih banyak masyarakat dan memperkuat ekonomi desa,” katanya.

Pengembangan budidaya lele Sangkuriang merupakan bagian dari pengembangan usaha Perhutanan Sosial yang didampingi SAMPAN Kalimantan melalui Delta Kapuas Project. Program ini mendorong masyarakat mengembangkan usaha produktif yang ramah lingkungan sehingga ketergantungan terhadap pemanfaatan sumber daya hutan secara ekstraktif dapat dikurangi.

Melalui model usaha silvofishery, masyarakat tidak hanya memperoleh sumber pendapatan baru, tetapi juga berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui penguatan ekonomi lokal yang selaras dengan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Penulis: Maria

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play