Benarkah Stres Bisa Menyebabkan Penyakit Jantung? Ini Penjelasan Dokter
Suara Kalbar – Stres dan kelelahan kerap dikaitkan dengan penyakit jantung. Meski demikian, dokter menegaskan kedua kondisi tersebut bukan penyebab utama penyakit jantung, melainkan faktor yang dapat memicu munculnya keluhan atau memperburuk gejala pada orang yang telah memiliki gangguan jantung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Susetyo, menjelaskan bahwa penyakit jantung umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, hingga pola hidup yang tidak sehat. Sementara itu, stres dan kelelahan lebih berperan sebagai pemicu yang dapat memperberat kondisi pasien.
Menurut dr. Susetyo, pada penderita penyakit jantung koroner, stres berat maupun kelelahan dapat meningkatkan risiko munculnya nyeri dada.
Kondisi tersebut terjadi karena saat seseorang mengalami stres, tubuh akan melepaskan hormon stres yang memicu penyempitan pembuluh darah atau vasokonstriksi. Pada pasien yang pembuluh darahnya telah menyempit akibat penyakit jantung koroner, respons tersebut dapat semakin mengurangi aliran darah menuju otot jantung sehingga memunculkan keluhan nyeri dada.
“Kalau penyakit jantung koroner, biasanya terpicu sekali oleh stres atau kelelahan. Namun, kalau gagal jantung, umumnya karena kelelahan,” ujar dr. Susetyo, dikutip dari Antara, Jumat (24/7/2026).
Ia menambahkan, pasien penyakit jantung koroner umumnya lebih rentan mengalami kekambuhan gejala ketika berada dalam kondisi stres berkepanjangan atau mengalami kelelahan fisik yang berlebihan.
Sementara itu, pada penderita gagal jantung, faktor kelelahan cenderung lebih dominan dalam memicu memburuknya kondisi dibandingkan stres emosional.
Meski stres tidak dapat dihindari sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari, dr. Susetyo menekankan pentingnya kemampuan mengelola stres sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.
Mengendalikan stres dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti berolahraga secara rutin, melakukan relaksasi, menjalankan hobi, menjaga hubungan sosial yang baik, hingga berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila tekanan psikologis mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain mengelola stres, dr. Susetyo juga mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan tidur selama 6 hingga 8 jam setiap malam dengan kualitas tidur yang baik.
Istirahat yang cukup berperan penting dalam membantu menjaga fungsi jantung, mengontrol tekanan darah, serta mendukung proses pemulihan tubuh setelah beraktivitas.
Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan jantung harus dilakukan secara menyeluruh melalui penerapan gaya hidup sehat.
Pola hidup tersebut meliputi mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga sesuai kemampuan, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, serta menciptakan lingkungan rumah maupun tempat kerja yang mendukung kesehatan fisik dan mental.
Dengan menerapkan kebiasaan hidup sehat secara konsisten, risiko kekambuhan gejala pada penderita penyakit jantung dapat ditekan, sekaligus membantu menjaga kualitas hidup tetap optimal.
Sumber: Beritasatu.com






