SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi PACIS 2026 Soroti Dampak AI terhadap Pendidikan dan Dunia Kerja

PACIS 2026 Soroti Dampak AI terhadap Pendidikan dan Dunia Kerja

Ilustrasi artificial intelligence (AI). (Magnific/DC Studio)

Suara Kalbar – Kecerdasan buatan (AI) kini dipandang bukan sekadar terobosan teknologi, melainkan kekuatan disruptif yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga pasar kerja. Menjawab tantangan tersebut, Jakarta menjadi tuan rumah The Pacific Asia Conference on Information Systems (PACIS) 2026, forum bergengsi yang mempertemukan akademisi, pelaku industri, dan pemerintah untuk membahas arah pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Wakil Dekan Internasional Fakultas Teknologi Informasi Universitas Monash, Juliana Sutanto, menegaskan bahwa AI perlu dipahami melalui pendekatan sosio-teknis, yakni dengan menimbang aspek teknologi sekaligus dampak sosialnya. Menurutnya, perkembangan AI harus dikelola secara bijak agar manfaatnya dapat dirasakan luas tanpa menimbulkan risiko yang merugikan masyarakat.

Juliana juga menyoroti tantangan di dunia pendidikan. Ketergantungan mahasiswa terhadap AI untuk memperoleh jawaban instan dinilai dapat mengikis kemampuan berpikir kritis. Karena itu, lembaga pendidikan didorong mengubah sistem evaluasi dengan menekankan proses pembelajaran dan pemahaman, bukan semata-mata hasil akhir.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Adziman, menyatakan bahwa otomatisasi berbasis AI memang berpotensi menggeser sejumlah pekerjaan. Namun, teknologi ini juga membuka peluang profesi baru. Adaptasi melalui transformasi pendidikan, termasuk program microcredential dan pelatihan berbasis AI, dinilai menjadi kunci agar tenaga kerja tetap kompetitif.

Fauzan menambahkan, pemerintah bersama berbagai kementerian dan lembaga, termasuk BRIN, tengah mempercepat pengembangan AI nasional dengan dukungan integrasi data melalui program Satu Data. Penerapannya telah dipetakan di sejumlah sektor strategis, seperti kesehatan untuk diagnosis dini, transportasi melalui persiapan regulasi kendaraan otonom, serta pertanian dan energi guna meningkatkan efisiensi dan inovasi.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play