Wagub Kalbar Krisantus: Gawai Nosu Minu Podi Jaga Eksistensi Dayak di Tengah Globalisasi
Sanggau (Suara Kalbar) – Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menegaskan Gawai Dayak Kabupaten Sanggau Nosu Minu Podi ke XXII bukan sekadar pesta budaya. Kegiatan ini menjadi upaya nyata menjaga eksistensi masyarakat adat Dayak di tengah derasnya arus globalisasi.
Hal itu disampaikan Krisantus saat membuka Gawai Dayak Nosu Minu Podi di Rumah Betang Dori Mpulor, Selasa (07/07/2026).
“Tentu ini adalah tahun ke-22. Nosu minu podi ini bukan hanya sekedar ritual. Bukan hanya sekedar perlombaan-perlombaan. Bukan hanya sekedar MBG. Bukan hanya sekedar tumbuhnya UMKM-UMKM,” kata Krisantus.
Menurutnya, tujuan sesungguhnya dari pelaksanaan Nosu Minu Podi adalah menjaga keberadaan masyarakat adat Dayak.
“Tetapi tujuan yang sesungguhnya bagi masyarakat Dayak secara umum adalah menjaga eksistensi masyarakat adat Dayak di tengah arus globalisasi. Kita sadari bersama bahwa suku apapun yang tidak melestarikan adat budayanya maka akan menjadi sebuah suku yang hilang di telan masa,” ujarnya.
Krisantus mengaku bangga dengan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat yang terus menunjukkan eksistensinya melalui berbagai kegiatan budaya, termasuk Gawai Nosu Minu Podi yang sudah berjalan selama 22 tahun.
“Saya bangga dengan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat ini yang sudah menunjukkan eksistensi,” katanya.
Dalam sambutannya, Krisantus juga merespons penyampaian Pemontuh Agung DAD Sanggau Paolus Hadi terkait empat pilar eksistensi masyarakat adat.
“Wujud dari semua yang disampaikan itu adalah Dayak sekarang sudah berdaulat di bidang politik. Apa contohnya berdaulat di bidang politik? Yang pidato ke depan ini, dari tadi kalau saya lihat Dayak semua itu,” ucapnya disambut tepuk tangan hadirin.
Ia berharap momentum Gawai ini dapat memperkuat semangat generasi muda Dayak untuk terus melestarikan bahasa, adat istiadat, dan wilayah adat. Selain itu, UMKM dan ekonomi kreatif yang tumbuh saat Gawai juga diharapkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Pemerintah Provinsi Kalbar, kata Krisantus, akan terus mendukung kegiatan budaya sebagai bagian dari upaya pelestarian identitas daerah sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Sementara itu Bupati Sanggau Yohanes Ontot menegaskan Gawai Dayak merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus bangga dan aktif melestarikan budaya Dayak.
“Secara filosofis dan spiritual, gawai adalah bentuk ungkapan syukur, dan berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa,” kata Yohanes.
Bupati menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian adat. Menurutnya, budaya merupakan identitas yang harus terus dijaga agar tidak tergerus zaman.
“Saya mengajak seluruh masyarakat, seterusnya generasi muda Dayak untuk terus bangga dan aktif dalam melestarikan adat dan seni adat, bahasa, budaya kita orang Dayak,” ujarnya.
Ia menilai Gawai bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga ruang untuk mempererat persatuan, memperkenalkan budaya kepada publik luas, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat melalui UMKM dan kegiatan seni.
Yohanes Ontot menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Gawai hingga memasuki tahun ke-22.
“Terima kasih banyak kepada seluruh masyarakat Dayak, terutama para Ketua DAD, para Camat, para teman-teman, para Ketua Adat yang sudah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Gawai yang sampai hari ini sudah 22 tahun,” ucapnya.
Ia berharap dukungan semua pihak terus berlanjut agar Gawai Dayak Nosu Minu Podi tetap menjadi agenda budaya besar di Sanggau yang mampu memperkuat jati diri masyarakat adat dan menjadi daya tarik wisata budaya di Kalimantan Barat.
Penulis: Darmansyah






