SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Krisis BBM di Rusia Dongkrak Penjualan Mobil Listrik China, Permintaan Naik Berkali-kali Lipat

Krisis BBM di Rusia Dongkrak Penjualan Mobil Listrik China, Permintaan Naik Berkali-kali Lipat

Pabrik mobil listrik China (Chinatopix Via AP)

Suara Kalbar – Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Rusia mulai mengubah tren pasar otomotif di negara tersebut. Kelangkaan bensin dan solar, disertai antrean panjang di SPBU serta lonjakan harga, mendorong semakin banyak masyarakat beralih ke mobil listrik dan kendaraan hybrid.

Dikutip dari Reuters, Jumat (3/7/2026), gangguan pasokan BBM dipicu meningkatnya serangan Ukraina terhadap sejumlah infrastruktur energi Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Situasi itu membuat pemerintah Rusia memberlakukan pembatasan distribusi bahan bakar di berbagai wilayah.

Perhitungan Reuters menunjukkan harga bensin eceran di sejumlah daerah telah melonjak hingga menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Eropa.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada perubahan perilaku konsumen. Meski sebelumnya pasar mobil listrik di Rusia berkembang relatif lambat akibat jarak antarkota yang jauh, cuaca ekstrem, serta keterbatasan infrastruktur pengisian daya, krisis BBM kini membuat kendaraan listrik semakin diminati.

Pendiri EN Cars, sebuah diler kendaraan listrik di Moskwa, Yevgeniy Zabelin, mengungkapkan permintaan mobil listrik buatan China mengalami lonjakan signifikan sejak pasokan bahan bakar mulai terganggu.

“Sejak situasi bahan bakar menjadi rumit, permintaan meningkat berkali-kali lipat,” ujar Zabelin.

Menurutnya, sebelum terjadi krisis, diler hanya mampu menjual sekitar dua hingga tiga unit mobil listrik setiap bulan. Kini, penjualan meningkat drastis menjadi dua hingga tiga unit setiap hari.

Lonjakan tersebut terjadi pada berbagai segmen, mulai dari kendaraan listrik dengan harga terjangkau hingga model premium.

Sementara itu, Direktur Eksekutif lembaga riset otomotif Rusia Autostat, Sergei Udalov, menyebut penjualan mobil listrik maupun kendaraan plug-in hybrid memang mengalami peningkatan. Namun, pertumbuhan pasar masih tertahan karena produsen dan importir belum memiliki stok yang cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan.

Ia menilai, apabila krisis BBM berlangsung lebih lama, penjualan kendaraan listrik diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan.

“Jika krisis ini terus berlanjut, penjualan akan meningkat tajam dalam waktu dekat, dan China akan menjadi pihak yang paling diuntungkan,” kata Udalov.

Meningkatnya permintaan tersebut sekaligus memperkuat posisi produsen otomotif asal China di pasar Rusia. Di tengah krisis energi, kendaraan listrik dinilai menjadi alternatif yang lebih ekonomis karena mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan bensin dan solar yang saat ini masih terbatas.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play