Pakar Ungkap Cara Bijak Memanfaatkan AI untuk Urusan Percintaan
Suara Kalbar – Pemanfaatan chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini semakin meluas, termasuk dalam urusan percintaan. Mulai dari membantu menyusun profil di aplikasi kencan, memahami isi pesan dari calon pasangan, hingga memberikan masukan saat menghadapi persoalan dalam hubungan.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, para pakar menilai AI sebaiknya hanya dimanfaatkan sebagai alat pendukung, bukan pengganti penilaian pribadi maupun komunikasi yang jujur dengan pasangan.
Director of Relationship Science di aplikasi kencan Hinge, Logan Ury, mengatakan chatbot AI dapat membantu pengguna menyempurnakan profil atau memberikan ide aktivitas saat kencan pertama berdasarkan minat calon pasangan.
Namun, ia mengingatkan agar pengguna tidak menyalin mentah-mentah pesan yang dibuat AI atau memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengubah foto demi menciptakan identitas yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Ketika Anda akhirnya bertemu langsung, sangat penting agar pasangan Anda bertemu dengan orang yang sama seperti yang selama ini mereka ajak berbicara secara online,” ujar Ury, dikutip dari AP, Minggu (28/6/2026).
Senada dengan itu, pelatih hubungan (dating coach) Erika Ettin menyarankan penggunaan AI secara lebih sederhana, misalnya untuk memeriksa tata bahasa, memperbaiki susunan kalimat, atau memberikan masukan terhadap profil dan pesan yang telah disusun sendiri oleh pengguna.
Menurut Ettin, keaslian karakter jauh lebih penting daripada berusaha tampil sempurna melalui bantuan teknologi.
Sementara itu, Director of Vanderbilt University’s Initiative on the Future of Learning and Generative AI, Jules White, menilai kualitas jawaban chatbot sangat dipengaruhi oleh informasi yang diberikan pengguna.
Ia menjelaskan banyak orang hanya memberikan sedikit konteks, tetapi berharap AI mampu memahami situasi secara menyeluruh. Karena itu, pengguna disarankan menyampaikan latar belakang yang lebih lengkap atau meminta chatbot mengajukan pertanyaan tambahan sebelum memberikan saran.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menghasilkan respons yang lebih relevan dibandingkan sekadar mengajukan pertanyaan singkat tanpa penjelasan yang memadai.
General Partner Shumer Capital, Matt Shumer, juga menyarankan agar AI diposisikan sebagai pendamping berpikir, bukan pemberi keputusan akhir. Menurutnya, chatbot lebih bermanfaat jika diminta membantu menganalisis berbagai kemungkinan dibandingkan langsung menyusun jawaban untuk dikirim kepada calon pasangan.
Sebagai contoh, ketika seseorang bingung memahami maksud sebuah pesan, AI dapat dimanfaatkan untuk mengulas berbagai kemungkinan makna sehingga pengguna tetap dapat menentukan respons berdasarkan pertimbangannya sendiri.
Di sisi lain, para ahli mengingatkan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan karena hanya mampu menganalisis informasi yang diberikan oleh pengguna.
Director of the Relationships and Technology Lab di Arizona State University, Liesel Sharabi, menegaskan keputusan terkait hubungan sebaiknya tidak hanya bergantung pada saran chatbot.
“Mudah-mudahan, apabila Anda sedang menghadapi masalah dalam hubungan, Anda tidak akan mengambil semua keputusan hanya berdasarkan pendapat satu teman. Hal yang sama juga berlaku untuk AI. Jadikan AI sebagai salah satu sumber pertimbangan, bukan satu-satunya acuan,” kata Sharabi.






