Mobil Listrik China Diprediksi Tetap Tembus Pasar AS, Meski Terhalang Tarif dan Regulasi
Suara Kalbar – Mobil listrik asal China dinilai masih memiliki peluang menembus pasar Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang, meskipun saat ini menghadapi berbagai hambatan berupa tarif impor tinggi, regulasi yang ketat, serta resistensi dari sebagian pelaku industri otomotif dan pembuat kebijakan di negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen kendaraan listrik China terus memperluas jangkauan bisnisnya ke berbagai kawasan, mulai dari Eropa, Inggris, Asia hingga Australia. Ekspansi itu tidak hanya dilakukan melalui peningkatan ekspor kendaraan, tetapi juga lewat pembangunan fasilitas produksi dan penguatan rantai pasok di berbagai negara.
Direktur Pelaksana Otomotif dan Industri AlixPartners, Stephen Dyer, menilai industri otomotif Amerika masih menghadapi tantangan besar dalam mempercepat transisi menuju kendaraan listrik.
Menurut dia, sejumlah produsen otomotif AS mulai mengurangi agresivitas program kendaraan listrik karena belum mampu menghadirkan produk yang menarik bagi konsumen dengan harga yang kompetitif.
“Perusahaan-perusahaan AS telah mengurangi banyak kampanye kendaraan listrik mereka karena belum mampu menghadirkan produk yang menarik bagi konsumen dengan harga yang terjangkau. Namun jika kendaraan listrik adalah masa depan, Anda tidak bisa bersaing jika tidak ikut bermain di sektor ini,” kata Dyer, seperti dikutip CNBC, Minggu, 7 Juni 2026.
Pandangan serupa disampaikan CEO Dunne Insights Michael Dunne. Ia menyebut China telah menjalankan strategi jangka panjang untuk memperkuat dominasinya di industri kendaraan listrik dunia, mulai dari produksi mobil, truk hingga baterai.
“China memiliki rencana besar untuk mendominasi pasar kendaraan listrik global, termasuk mobil, truk, dan baterai yang menjadi sumber tenaganya,” ujar Dunne.
Menurutnya, jalur paling memungkinkan bagi kendaraan listrik China untuk masuk ke pasar Amerika bukan melalui impor langsung, melainkan lewat kemitraan dengan produsen lokal atau pembangunan fasilitas produksi di kawasan Amerika Utara.
Sejumlah perusahaan otomotif besar di Amerika diketahui telah menjalin kerja sama dengan mitra asal China. Ford, General Motors (GM), dan Stellantis disebut memiliki berbagai bentuk kolaborasi dengan perusahaan kendaraan listrik dari Negeri Tirai Bambu.
Di sisi lain, posisi China dalam industri kendaraan listrik global terus menguat. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan sekitar 55 persen penjualan mobil di China pada 2025 merupakan kendaraan listrik. Produsen China juga menguasai sekitar 60 persen pasar kendaraan listrik dunia.
Pada tahun yang sama, China memproduksi sekitar 16 juta kendaraan listrik, jauh melebihi kebutuhan pasar domestiknya. Kelebihan kapasitas tersebut mendorong ekspor kendaraan listrik China menembus lebih dari 2,5 juta unit dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan sektor otomotif negara itu.
Pendiri Sino Auto Insights, Tu Le, memperkirakan tekanan agar kendaraan listrik China dapat masuk ke pasar Amerika akan semakin kuat seiring meningkatnya penerimaan merek-merek China di Kanada dan Meksiko.
Menurut dia, ketika konsumen Kanada mulai membeli kendaraan listrik China dalam waktu sekitar 18 bulan ke depan, sementara pasar Meksiko telah lebih dulu menerima produk tersebut, tekanan terhadap pasar Amerika akan meningkat secara signifikan.
Dunne bahkan meyakini kendaraan buatan China pada akhirnya akan hadir di jalan-jalan Amerika Serikat.
“Pada 2030, kita akan melihat beberapa bentuk mobil buatan China di jalanan Amerika. Dengan satu atau lain cara, mereka akan menemukan jalan masuk ke sana,” katanya.
Meskipun masih dibayangi hambatan berupa tarif, aturan kandungan lokal, hingga kekhawatiran terkait keamanan perangkat lunak kendaraan, banyak pengamat menilai kendaraan listrik akan tetap menjadi arah utama perkembangan industri otomotif global.
Karena itu, peluang kolaborasi antara produsen otomotif Amerika dan China diperkirakan akan semakin terbuka sebagai upaya menjaga daya saing di tengah perubahan lanskap industri kendaraan dunia.
Sumber: Beritasatu.com






