Menelusuri Peran Strategis Masjid Kerajaan dalam Dakwah Islam di Kalbar: Dari Sintang hingga Sanggau
Pontianak (Suara Kalbar) – Eksistensi kerajaan Islam di Kalimantan Barat tidak dapat dipisahkan dari peran sentral masjid sebagai pusat dakwah, pendidikan, hingga aktivitas sosial masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi rutin yang digelar Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUSHA) IAIN Pontianak bertajuk “Peran Masjid Kerajaan dalam Dakwah Islam di Kalimantan Barat” yang dilaksanakan secara daring, Jumat (08/05/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan Dr. Zulkifli, S.Ag., M.A., Wakil Dekan I FUSHA IAIN Pontianak sekaligus Dosen Sejarah Peradaban Islam dan Direktur eLSIM Kalbar, sebagai narasumber utama. Kegiatan dimoderatori oleh mahasiswa bernama Tamim dan membedah hasil riset sejarah tahun 2025 yang telah diterbitkan dalam bentuk buku.
Dalam paparannya, Dr. Zulkifli menjelaskan bahwa keberadaan Masjid Jami pada masa kerajaan Islam di Kalimantan Barat selalu berkaitan erat dengan pusat pemerintahan kerajaan atau keraton.
“Istana atau keraton dan masjid adalah simbol nyata dari perpaduan politik dan agama,” ujar Dr. Zulkifli.
Ia menuturkan, secara geografis, keraton dan masjid kerajaan di Kalimantan Barat umumnya dibangun di tepian Sungai Kapuas. Selain menjadi jalur transportasi utama pada masa lampau, sungai juga memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan bersuci sebelum beribadah.
Dalam riset tersebut, terdapat tiga masjid kerajaan yang menjadi fokus kajian sejarah dakwah Islam di Kalbar, yakni Masjid Jami Sultan Nata Sintang, Masjid Jami At-Taqwa Sekadau, dan Masjid Jami Sultan Ayyub Sanggau.
Masjid Jami Sultan Nata Sintang disebut sebagai yang tertua di antara ketiganya. Masjid ini didirikan pada 12 Muharram 1083 Hijriah atau sekitar tahun 1672 Masehi oleh Maulana Sultan Nata Muhammad Syamsuddin.
Sementara itu, Masjid Jami At-Taqwa Sekadau mulai dibangun pada tahun 1804 M di masa pemerintahan Pangeran Kesuma Negara. Adapun Masjid Jami Sultan Ayyub Sanggau berdiri pada periode Perang Diponegoro, sekitar tahun 1825-1828 M, yang dibangun oleh Sultan Ayyub Paku Negara.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid-masjid kerajaan tersebut juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penyebaran dakwah Islam yang mendorong proses Islamisasi masyarakat lokal.
Dr. Zulkifli menjelaskan, proses konversi agama di kalangan masyarakat Dayak kemudian melahirkan identitas budaya baru. Masyarakat Dayak yang memeluk Islam selanjutnya dikenal sebagai kelompok “Senganan” atau melebur dalam identitas Melayu.
Menurutnya, perubahan keyakinan itu turut memengaruhi pola hidup masyarakat, termasuk dalam hal konsumsi makanan dan minuman yang sesuai syariat Islam. Namun demikian, kondisi tersebut justru melahirkan budaya toleransi dan hospitalitas yang kuat di tengah masyarakat.
“Masyarakat Dayak pada masa itu bahkan memisahkan peralatan memasak khusus untuk menghormati keluarga atau kerabat mereka yang telah memeluk Islam,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, perkembangan dakwah Islam melalui masjid turut melahirkan berbagai tradisi budaya hasil akulturasi yang masih bertahan hingga kini. Tradisi tersebut di antaranya Terempoh di Sintang, ritual tolak bala Faraje di Sanggau, serta Mulang Hajat di Sekadau.
Pada akhir diskusi, Dr. Zulkifli mengajak generasi muda untuk merefleksikan kembali fungsi masjid sebagaimana pada masa Rasulullah SAW, yakni sebagai pusat kegiatan sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Masjid tidak hanya sekadar tempat ibadah mahdhah. Idealnya, masjid juga dilengkapi fasilitas pengembangan ekonomi warga, pusat pendidikan, hingga layanan cek kesehatan gratis bagi jamaah setelah salat Jumat,” pungkasnya.
Diskusi akademik tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda dalam merawat warisan peradaban Islam di Kalimantan Barat sekaligus mengembangkan fungsi strategis masjid di tengah kehidupan masyarakat modern.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





