3 Jurnalis Tewas Akibat Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon (Suara Kalbar) — Tiga jurnalis dilaporkan tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Israel di wilayah Lebanon selatan, tepatnya di Jezzine, pada Sabtu (28/3/2026) siang waktu setempat. Insiden tersebut menewaskan seluruh penumpang sebuah mobil yang menjadi target serangan, berjumlah empat orang.
Berdasarkan keterangan sejumlah pejabat di Lebanon, para korban yang merupakan jurnalis tersebut diidentifikasi sebagai koresponden Al-Manar, Ali Shoaib, reporter Al-Mayadeen, Fatima Ftouni, serta juru kamera, Mohammad Ftouni.
Seorang jurnalis dari Al-Mayadeen, Jamal Al Gharby, dalam pernyataannya mengecam keras serangan tersebut. Ia menilai insiden itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap prinsip kebebasan pers dan hukum hak asasi manusia internasional.
“Semua perjanjian dan prinsip kebebasan pers runtuh di hadapan tragedi ini. Tidak ada perlindungan bagi jurnalis. Ini adalah realitas baru yang menunjukkan bahwa tidak ada yang aman, baik warga sipil maupun jurnalis,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa para jurnalis menjadi sasaran karena peran mereka dalam mengungkap fakta di lapangan terkait konflik yang berlangsung. Menurutnya, serangan tersebut merupakan upaya membungkam informasi.
Sementara itu, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Ia menegaskan bahwa jurnalis merupakan warga sipil yang dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 1738 yang melarang serangan terhadap jurnalis yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran.
Joseph Aoun juga mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil langkah guna menghentikan serangan di wilayah Lebanon, serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan komunitas pers.
Di sisi lain, pihak militer Israel menyatakan bahwa salah satu korban, Ali Shoaib, disebut sebagai anggota unit intelijen Pasukan Radwan yang berafiliasi dengan kelompok Hizbullah dan diduga beroperasi dengan menyamar sebagai jurnalis. Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Insiden ini kembali menyoroti meningkatnya risiko yang dihadapi jurnalis dalam meliput konflik bersenjata, serta memicu kekhawatiran global terkait perlindungan terhadap pekerja media di zona perang.
Sumber: Xinhua
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






