SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Dunia Intelijen Eropa Ragu Damai Rusia–Ukraina Tercapai Tahun Ini

Intelijen Eropa Ragu Damai Rusia–Ukraina Tercapai Tahun Ini

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (AP Photo/Tetiana Dzhafarova/Pool Photo)

Suara Kalbar – Intelijen Eropa pesimistis kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina bisa tercapai tahun ini, meskipun Presiden Donald Trump menyatakan perundingan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) akan terapai dala waktu dekat. Rusia punya tujuan strategis, salah satunya ingin menggulingkan Volodymyr Zelenskiy.

Kepala dari lima badan intelijen Eropa mengatakan Rusia tidak ingin mengakhiri perang dengan cepat. Empat di antaranya menyebut Moskow hanya memanfaatkan perundingan dengan AS untuk mendorong pelonggaran sanksi dan kesepakatan bisnis.

“Pembicaraan ini lebih menyerupai negotiation theatre,” kata seorang kepala intelijen Eropa yang Namanya dirahasikan dikutip dari laporan ekslusif Reuters, Jumat (20/2/2026).

Pernyataan ini menunjukkan perbedaan pandangan yang cukup tajam antara negara-negara Eropa dan AS. Ukraina menyebut Gedung Putih ingin mencapai kesepakatan damai pada Juni 2026, sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November 2026. Trump mengatakan ia yakin Presiden Rusia Vladimir Putin ingin membuat kesepakatan.

“Rusia tidak sedang mencari perjanjian damai. Mereka mengejar tujuan strategis mereka, dan tujuan itu tidak berubah,” kata kepala intelijen Eropa.

Tujuan tersebut termasuk menggulingkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan menjadikan Ukraina sebagai negara “netral” yang menjadi penyangga bagi Barat.

Intelijen Eropa mengungkapkan Rusia tidak ingin perang berakhir dengan cepat karena ekonominya “tidak berada di ambang kehancuran”.

Para kepala intelijen itu tidak menjelaskan bagaimana mereka memperoleh informasi tersebut, tetapi lembaga mereka menggunakan sumber manusia, penyadapan komunikasi, dan berbagai cara lainnya. Semuanya menyebut Rusia sebagai target utama pengumpulan intelijen.

Kementerian Luar Negeri Rusia belum merespons tudingan kepala intelijen Eropa tersebut.

Putin mengatakan ia siap untuk damai, tetapi dengan syaratnya sendiri. Pejabat Rusia menyatakan pemerintah Eropa berulang kali keliru dalam menilai Rusia.

Negosiator Ukraina dan Rusia pekan ini mengadakan pertemuan ketiga yang dimediasi AS pada 2026, tanpa terobosan dalam isu-isu utama, termasuk soal wilayah.

Setelah pertemuan tersebut, Zelenskiy tampak frustrasi karena tidak ada kemajuan berarti dan menyatakan pihak Rusia lebih tertarik membahas akar sejarah konflik daripada mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.

“Saya tidak butuh omong kosong sejarah untuk mengakhiri perang ini dan beralih ke diplomasi. Itu hanya taktik untuk menunda,” tulisnya di X pada Kamis (19/2/2026).

Moskow ingin Kiev menarik pasukannya dari sisa 20% wilayah Donetsk bagian timur yang belum dikuasai Rusia, sesuatu yang ditolak Ukraina.

Intelijen Eropa mengatakan Rusia mungkin akan puas secara teritorial jika berhasil mendapatkan seluruh Donetsk, tetapi itu tidak akan memenuhi tujuannya untuk menggulingkan pemerintahan Zelenskiy yang pro terhadap Barat.

Ada anggapan keliru jika Ukraina menyerahkan Donetsk, kesepakatan damai dengan Rusia akan segera tercapai.

“Jika Rusia mendapatkan konsesi itu, saya kira itu mungkin baru awal dari negosiasi yang sebenarnya,” kata pejabat tersebut, sambil memperkirakan Rusia kemudian akan mengajukan tuntutan tambahan.

Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan para pengkritik tidak melakukan apa pun untuk membantu mengakhiri perang di Ukraina.

“Presiden Trump dan timnya telah melakukan lebih banyak daripada siapa pun untuk mempertemukan kedua pihak guna menghentikan pembunuhan dan mencapai kesepakatan damai,” katanya.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan