SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Eks Insinyur SpaceX Uji Air Jadi Bahan Bakar Roket Lewat Misi Falcon 9

Eks Insinyur SpaceX Uji Air Jadi Bahan Bakar Roket Lewat Misi Falcon 9

Roket Luar angkasa diluncurkan di dekat Bowen, Australia. (Gilmour Space Technologi)

Suara Kalbar – Para ilmuwan sejak lama mengusulkan penggunaan es air di Bulan agar astronot di masa depan memiliki pasokan bahan bakar untuk kembali ke Bumi.

Mantan insinyur SpaceX Halen Mattison melalui perusahaannya, General Galactic, berupaya menguji konsep tersebut secara langsung. Mengutip Wired, perusahaan rintisan itu berencana meluncurkan satelit seberat 1.100 pon pada Oktober menggunakan roket Falcon 9 sebagai bagian dari uji coba ambisius.

Misi tersebut bertujuan menguji air sebagai bahan bakar untuk dua sistem propulsi, yakni listrik dan kimia. Pada propulsi listrik, dorongan dihasilkan dengan menembakkan aliran plasma menggunakan medan magnet.

Sementara pada propulsi kimia, bahan bakar dibakar pada suhu dan tekanan tinggi guna menghasilkan gaya dorong. Dalam skema propulsi kimia, General Galactic akan memisahkan hidrogen dan oksigen dari air melalui proses elektrolisis.

Hidrogen kemudian dibakar dengan oksigen sebagai oksidator untuk menghasilkan dorongan. Pada eksperimen terpisah, oksigen hasil elektrolisis akan diubah menjadi plasma dengan arus listrik kuat untuk menguji propulsi listrik.

Perusahaan menargetkan pembuktian bahwa air dapat menghasilkan dorongan kecil dan stabil pada sistem listrik, sekaligus semburan dorongan lebih kuat tetapi berdurasi singkat pada sistem kimia.

Mattison menyatakan teknologi tersebut berpotensi memberi keunggulan tambahan bagi aset militer di orbit. Dalam beberapa tahun terakhir, satelit Amerika Serikat dibayangi satelit China dan Rusia dari jarak dekat, memunculkan kekhawatiran bahwa di masa depan satelit mungkin perlu bermanuver untuk menghindari ancaman.

Meski demikian, penggunaan air sebagai bahan bakar roket masih menyisakan banyak pertanyaan.

Konsultan General Galactic sekaligus mantan teknolog NASA, Ryan Conversano, mengingatkan bahwa oksigen terionisasi berpotensi merusak perangkat elektronik satelit melalui proses korosi.

“Hal itu membuat pemilihan material dan perancangan perangkat menjadi sangat, sangat menantang,” ujarnya.

Selain itu, sistem elektrolisis yang dibutuhkan untuk memisahkan air juga menambah massa keseluruhan wahana, sehingga dapat mengurangi efisiensi dibanding bahan bakar roket kimia konvensional.

Keraguan kalangan ilmuwan pun masih kuat. Namun, riset terkait pemanfaatan air dan oksigen dari sumber daya lokal di Bulan maupun Mars terus berkembang. Para peneliti tengah mencari cara mengekstraksi air dari regolit Bulan atau batuan Mars untuk mendukung eksplorasi jangka panjang.

Jika berhasil, teknologi ini berpotensi menjadi solusi penting bagi misi antariksa masa depan, terutama bagi awak yang menghadapi keterbatasan bahan bakar sebelum perjalanan pulang ke Bumi.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan