BYD Siapkan Divisi Performa, Tantang Dominasi Merek Jepang dan Eropa
Suara Kalbar – Dalam dunia otomotif, keberadaan divisi performa atau mobil kencang bukan sekadar angka penjualan. Kehadiran sub-brand seperti Toyota Gazoo Racing, Nissan Nismo, atau Hyundai N berfungsi sebagai simbol prestise. Divisi ini menunjukkan bahwa sebuah perusahaan tidak hanya peduli pada efisiensi perjalanan dari poin A ke poin B, tetapi juga memahami seni dan kesenangan dalam berkendara.
Selama ini, produsen mobil asal China lebih dikenal dengan fokus mereka pada teknologi pintar, harga yang kompetitif, dan elektrifikasi massal. Namun, seiring dengan posisi BYD yang kini kokoh sebagai produsen otomotif terbesar keenam di dunia, bahkan sempat melampaui penjualan global Ford, strategi mereka mulai bergeser.
“BYD kini tampak siap membangun identitas performanya sendiri untuk bersaing di level yang lebih emosional dengan para penggemar otomotif,” sebut Autoblog, Selasa (17/2/2026).
Sajid Hasan, Chief Product Officer BYD Australia, dalam sebuah wawancara mengungkapkan bahwa tim lokal sedang berkoordinasi dengan kantor pusat di Shenzhen untuk merancang strategi performa global. Menurutnya, sebuah divisi performa yang nyata harus dibangun dari pasar domestik dengan rencana jangka panjang dan substansi yang kuat.

Ini bukan sekadar tentang memberikan stiker baru atau edisi terbatas yang kosmetik, melainkan perubahan mekanis yang nyata. Artinya, BYD tidak tertarik dengan cara instan.
Mereka menginginkan peningkatan performa yang signifikan, mulai dari sistem suspensi yang lebih kaku hingga tenaga mesin atau motor listrik yang lebih buas. Harapannya, model-mesin ini akan memiliki perbedaan karakter yang sangat jelas dibandingkan dengan model standar yang kita temui di jalan raya setiap hari.
Beberapa model sudah mulai masuk dalam radar pengembangan. Salah satu yang paling santer dibicarakan adalah versi agresif dari pikap Shark 6. Mobil ini diprediksi akan menjadi lawan tangguh bagi Ford Ranger Raptor yang selama ini merajai segmen pikap performa tinggi. Dengan bekal teknologi Plug-in Hybrid (PHEV) yang sangat bertenaga, potensi Shark untuk menjadi “predator” di medan off-road sangatlah besar.
Selain pengembangan mobil produksi, dunia balap atau motorsport juga masuk dalam meja diskusi. BYD melihat kompetisi balap sebagai laboratorium terbaik untuk menguji inovasi sebelum teknologi tersebut diturunkan ke mobil massal yang bisa dibeli konsumen. Meski saat ini masih dalam tahap diskusi strategi, arah menuju keterlibatan profesional di lintasan balap terlihat semakin nyata.
Sebenarnya, BYD bukanlah pemain baru dalam hal kecepatan. Melalui sub-brand mewah mereka, Yangwang, BYD telah menciptakan hypercar U9 yang sangat fenomenal. Mobil ini diklaim memiliki tenaga hampir 3.000 tenaga kuda dan kecepatan maksimal melebihi 482 kilometer per jam, lebih cepat dari beberapa model Bugatti.
Keberadaan U9 membuktikan bahwa secara teknis, para insinyur BYD sudah memiliki kemampuan untuk membuat mesin-mesin monster. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membawa teknologi “gila” dari Yangwang tersebut ke model yang lebih terjangkau oleh masyarakat luas.
Jika proyek divisi performa ini benar-benar terwujud, BYD akan menjadi merek China pertama yang secara serius menantang dominasi merek Jepang dan Eropa di segmen mobil antusias. Kita tinggal menunggu waktu hingga “taring” performa dari raksasa China ini benar-benar muncul di aspal jalanan.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






