SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Asisten Setir Otomatis Diselidiki, Kecelakaan Fatal Bayangi Fitur Hands-Free Mobil Modern

Asisten Setir Otomatis Diselidiki, Kecelakaan Fatal Bayangi Fitur Hands-Free Mobil Modern

Investigasi kecelakaan fatal sistem BlueCruise Ford mengungkap bahaya ketergantungan pengemudi pada fitur hands-free yang belum sepenuhnya aman di jalan raya. (Carscoops/DOK)

Suara Kalbar – Industri otomotif global saat ini sedang berlomba-lomba menghadirkan fitur berkendara tanpa tangan (hands-free). Janjinya menggiurkan di mana pengemudi bisa lebih santai sementara mobil mengambil alih kemudi. Namun, realita di lapangan ternyata tidak seindah iklannya. Otoritas keselamatan berkendara di Amerika Serikat kini tengah menyelidiki serangkaian kecelakaan fatal yang melibatkan teknologi asisten pengemudi ini.

Jika bicara soal teknologi setir otomatis yang kontroversial, orang biasanya langsung teringat pada “Full Self Driving” milik Tesla atau taksi robot Waymo. Namun, kini sorotan tajam juga mengarah pada Ford melalui sistem andalannya, BlueCruise. National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) mulai mendalami apakah sistem ini benar-benar aman atau justru memicu kebingungan yang fatal bagi penggunanya.

Salah satu kasus yang mencuat melibatkan seorang insinyur Ford sendiri, Seetaram Palepu. Saat mengendarai truk F-150 terbaru di Ohio, ia mengalami kecelakaan hebat. Menurut pengakuannya di pengadilan, saat ia menginjak rem untuk keluar jalur tol, mobil tersebut justru melesat kencang, menabrak pagar pembatas, hingga terbalik.

“Saat upaya penyelamatan dilakukan, petugas penyelamat bahkan harus memotong badan mobil untuk mengeluarkan ia dan istrinya,” tulis Carscoops, Minggu (15/2/2026).

Menanggapi kejadian tersebut, pihak Ford memberikan pembelaan yang kontras. Mereka menyatakan kepada penyelidik bahwa pengemudi sebenarnya telah mematikan sistem asisten dan justru menginjak pedal gas secara manual. Perbedaan klaim antara data perusahaan dan kesaksian pengemudi inilah yang kini menjadi inti dari perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali saat kecelakaan terjadi.

Kasus lain yang tak kalah tragis menimpa Barry Wooten di Georgia pada tahun 2021. Keluarganya menggugat Ford dengan tuduhan bahwa mobil F-150 miliknya kehilangan kendali saat berada dalam mode “setir otomatis”. Pihak keluarga mengklaim mobil tersebut malah berbelok keluar jalan saat mencoba mengambil pintu keluar tol. Namun, Ford bersikeras bahwa mobil tersebut bahkan tidak dilengkapi perangkat keras untuk menjalankan fitur BlueCruise.

Fenomena ini mengungkap masalah besar dalam industri otomotif yaitu kebingungan pengemudi. Berdasarkan riset internal dan laporan kecelakaan, banyak pengemudi yang salah memahami batasan teknologi ini. Mereka cenderung menjadi kurang waspada, mengabaikan peringatan di dasbor, atau terlalu percaya bahwa mobil bisa menangani segala situasi darurat tanpa bantuan manusia.

Sebenarnya, Ford sudah berusaha mencegah masalah ini dengan memasang kamera pelacak mata untuk memastikan pengemudi tetap melihat ke jalan. Mereka juga memperhalus grafis di layar agar instruksi lebih jelas. Ford mengklaim bahwa jika digunakan dengan benar, BlueCruise justru meningkatkan keselamatan. Mereka mencatat jutaan kilometer telah ditempuh dengan aman menggunakan sistem ini.

Namun, investigasi federal tetap berlanjut menyusul beberapa kecelakaan fatal di tahun 2024. Salah satu poin yang dikhawatirkan adalah keterbatasan sensor dalam mendeteksi kendaraan yang berhenti di jalan tol, terutama pada malam hari. Meskipun teknologi ini semakin canggih, regulator mengingatkan dengan tegas bahwa fitur “asisten” bukanlah pengganti pengemudi yang waspada. Nyawa tetap ada di tangan orang yang duduk di balik kemudi.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan