SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Persaingan Elon Musk dan Jeff Bezos Memanas, SpaceX–Blue Origin Kejar Pangkalan Bulan Sebelum China

Persaingan Elon Musk dan Jeff Bezos Memanas, SpaceX–Blue Origin Kejar Pangkalan Bulan Sebelum China

Elon Musk dan Jeff Bezos bersaing membangun pangkalan di bulan demi mendukung misi manusia serta jaringan AI sebelum target pendaratan China pada tahun 2030. (Business Insider/DOK)

Suara Kalbar – Persaingan ruang angkasa antara dua orang terkaya di dunia, Elon Musk dan Jeff Bezos, kini semakin memanas. Baik SpaceX maupun Blue Origin kini mengalihkan fokus utama mereka untuk membangun pangkalan di bulan, dengan ambisi besar membawa manusia kembali ke permukaan bulan sebelum misi serupa yang direncanakan China pada tahun 2030 terlaksana.

Dikutip Reuters, Sabtu (14/2/2026), Elon Musk, CEO SpaceX, kini mulai membicarakan rencana pembangunan “Moonbase Alpha“. Melalui berbagai wawancara podcast dan pertemuan internal, Musk mengungkapkan ambisinya untuk memasang perangkat peluncur satelit di permukaan bulan. Pangkalan ini nantinya akan mendukung jaringan komputasi AI miliknya yang diproyeksikan melibatkan hingga satu juta satelit.

Langkah ini menandai pergeseran fokus SpaceX yang cukup signifikan. Selama ini, Musk dikenal sangat konsisten mendorong misi kolonisasi Mars sejak mendirikan perusahaan pada 2002. Bahkan, musim panas lalu ia masih menyebut bulan sebagai sebuah “gangguan”. Namun, dengan rencana IPO SpaceX tahun ini yang diprediksi akan bernilai lebih dari $1 triliun, Musk tampaknya ingin meyakinkan investor bahwa perusahaannya tetap menjadi kekuatan dominan di ruang angkasa.

Di sisi lain, Jeff Bezos melalui Blue Origin tidak tinggal diam. Dalam beberapa pekan terakhir, Blue Origin telah menutup bisnis wisata ruang angkasa suborbitalnya demi memindahkan sumber daya tersebut ke program pendarat bulan “Blue Moon”.

Bezos tampak mengadopsi prinsip “perlahan tapi pasti” sebagaimana sindiran yang ia unggah di media sosial X berupa gambar kura-kura, merujuk pada fabel Aesop. Hal ini sejalan dengan moto perusahaannya, “Gradatim Ferociter”, yang berarti “selangkah demi selangkah, dengan garang.”

Persaingan ini memberikan dampak positif bagi NASA yang sangat mengandalkan kedua perusahaan ini dalam program Artemis. NASA melihat pendaratan di bulan sebagai latihan untuk misi masa depan ke Mars. Namun, urgensi utama tetaplah kompetisi global. Lembaga antariksa tersebut terus mendesak perusahaan-perusahaan ini untuk mempercepat pengembangan agar Amerika Serikat tidak kalah dari China yang menargetkan pendaratan astronot di bulan pada 2030.

Bagi Musk, ambisinya kini melampaui sekadar pendaratan. Ia menyatakan ingin membangun “kota yang dapat berkembang sendiri” di bulan. Selain itu, setelah SpaceX mengakuisisi xAI milik Musk bulan ini, ia berencana meluncurkan satelit AI langsung dari permukaan bulan sebagai bagian dari perluasan jaringan komputasi AI ke ruang angkasa.

Meskipun ambisinya selangit, tantangan teknis tetap membayangi. Roket Starship milik SpaceX belum pernah sekalipun menempatkan muatan ke orbit meski telah melakukan 11 uji coba sejak 2023. Banyak pihak di industri meragukan target pendaratan manusia pada tahun 2028 dapat tercapai.

“SpaceX masih memiliki lebih banyak tahapan dalam pengembangan Starship sebagai pendarat bulan,” ungkap para ahli, merujuk pada proses pengisian bahan bakar di orbit yang rumit serta sistem pendaratan di medan bulan yang kasar.

Geliat persaingan Musk-Bezos ini juga membawa berkah bagi perusahaan antariksa kecil lainnya. Justin Cyrus, CEO Lunar Outpost, mengaku dibanjiri minat dari investor sejak pengumuman perubahan fokus Musk. Menurutnya, terjadi perubahan pola pikir yang nyata di komunitas investasi terkait pemanfaatan permukaan bulan.

“Saya rasa pengumuman Elon telah membuat hal ini terasa lebih mendesak,” ujarnya, menekankan bahwa kehadiran Musk di sektor ini membuat segalanya terasa lebih nyata dan bernilai tinggi.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan