SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sambas Awal Tahun 2026 Tercatat 2.411 Kasus ISPA, Dinkes Sambas Imbau Masyarakat Tidak Lengah

Awal Tahun 2026 Tercatat 2.411 Kasus ISPA, Dinkes Sambas Imbau Masyarakat Tidak Lengah

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. Ganjar Eko Prabowo, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kabut asap yang berpotensi memicu ISPA, terutama di musim kemarau. SUARAKALBAR.CO.ID/Serawati

Sambas (Suara Kalbar) – Angka kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Sambas pada awal tahun 2026 tercatat mencapai 2.411 kasus, namun Dinas Kesehatan memastikan kondisi tersebut masih berada dalam batas normal jika dibandingkan dengan tren tahunan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. Ganjar Eko Prabowo, menyebut jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada awal tahun 2026 masih tergolong wajar jika dibandingkan dengan tren tahunan.

Menurutnya, sepanjang tahun 2025 jumlah kasus ISPA di Kabupaten Sambas mencapai sekitar 52.100 kasus, sementara pada tahun 2024 tercatat 53.267 kasus. Adapun hingga Februari 2026, jumlah kasus yang tercatat baru sebanyak 2.411 kasus, sehingga belum menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan.

“Kalau kita lihat dari data tahunan, angka ISPA di awal 2026 ini masih dalam batas normal dan belum ada lonjakan,” ujar Ganjar, Kamis (5/2/2026).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. ISPA merupakan penyakit menular yang dapat menyebar dengan cepat, terutama saat daya tahan tubuh menurun, cuaca mengalami perubahan ekstrem, serta tingginya paparan polusi udara.

“ISPA mudah menular, apalagi saat kondisi tubuh sedang lemah atau kualitas udara memburuk,” jelasnya.

Ganjar juga mengungkapkan bahwa secara nasional, kasus ISPA pada awal tahun 2026 menunjukkan kecenderungan meningkat di sejumlah daerah di Indonesia. Peningkatan tersebut merupakan lanjutan dari tren yang telah terjadi sejak akhir tahun 2025.

“Secara nasional memang ada beberapa wilayah yang mengalami peningkatan kasus ISPA, dan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor,” ungkapnya.

Ganjar menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang berpotensi memicu meningkatnya kasus ISPA, di antaranya memburuknya kualitas udara, dampak perubahan iklim, serta bertambahnya kasus infeksi virus, termasuk influenza.

dr. Ganjar mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh situasi tersebut dan terus menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini guna menekan risiko penularan.

Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan memiliki peran penting dalam menekan penyebaran Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Menurutnya, keterlibatan aktif dan kesadaran masyarakat menjadi faktor utama agar penularan penyakit tersebut tidak semakin meluas.

“Pencegahan harus dilakukan sejak dini. Tanpa kesadaran bersama, risiko penyebaran ISPA akan semakin besar,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat, di antaranya dengan membiasakan mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit, serta menggunakan masker saat berada di tempat umum atau lokasi keramaian.

Ia menyampaikan, dengan disiplin menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, Ganjar optimistis risiko penularan ISPA di Kabupaten Sambas dapat ditekan.

“Jika masyarakat menerapkan kebiasaan hidup sehat, penyebaran ISPA dapat kita kendalikan,” tutupnya.

Penulis: Serawati

Komentar
Bagikan:

Iklan