PT Mayawana Persada Tegaskan Komitmen Konservasi di Kick Off RBP REDD+ GCF Kalbar
Pontianak (Suara Kalbar) – PT Mayawana Persada (PT MWP) menegaskan komitmennya terhadap pengelolaan hutan berkelanjutan dan konservasi lingkungan dalam forum strategis nasional.
Hal itu disampaikan Direktur PT Mayawana Persada, Iwan Budiman, S.Hut, saat menjadi narasumber diskusi panel pada acara Kick Off Program Result Based Payment (RBP) REDD+ – Green Climate Fund (GCF) yang digelar di Hotel Golden Tulip, Pontianak, Kamis (29/1/2026) lalu.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, tersebut menjadi ruang penting bagi para pemangku kepentingan untuk membahas peran dunia usaha dalam mendukung agenda pengurangan emisi, perlindungan hutan, serta pembangunan hijau di Kalimantan Barat.
Dalam pemaparannya, Iwan Budiman menjelaskan secara komprehensif kronologis keberadaan dan operasional PT Mayawana Persada sebagai perusahaan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Mulai dari profil perusahaan, visi dan misi, hingga berbagai capaian yang telah diraih serta kontribusi nyata perusahaan bagi masyarakat sekitar melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Community Development (CD).
Ia juga menampilkan sejumlah sertifikasi dan penghargaan yang telah diraih PT MWP sebagai bukti penerapan tata kelola perusahaan yang baik dan berkelanjutan. Sertifikasi tersebut antara lain PHL, IFCC, SMK3, ISO 14001:2015, serta penghargaan PROPER dari pemerintah.
PT Mayawana Persada (MWP) merupakan perusahaan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dengan izin dari Kemeterian Kehutanan dengan luas area 138.240,4 hektare. Areal PT MWP terletak di Kabupaten Ketapang yang meliputi dua kecamatan dan Kabupaten Kayong Utara mencakup tiga kecamatan.
Dari luasan konsesi PT MWP tersebut, tidak semua dimanfaatkan untuk produksi, tapi juga untuk kepentingan lainnya. Salah satu pemanfaatan areal selain produksi yang terpenting adalah areal konservasi. Perhitungan awal total areal konservasi indikatif PT MWP seluas 38.987,68 hektare.
Tujuan paling utama pemanfaatan areal konservasi tersebut untuk melindungi keberadaan habitat Orangutan, flora dan fauna lainnya. Menurut hasil monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan tim survey Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura Pontianak, kehidupan Orangutan di areal konservasi PT MWP terjaga dan berkembang dengan sangat baik.
“Hal itu dibuktikan dengan hasil rekaman camera trap yang dipasang pada titik-titik tertentu di areal yang disurvey,” kata Iwan Budiman. Camera trap bahkan ada merekam satu keluarga Orangutan yang terdiri dari jantan dan betina dewasa dengan anaknya. “Hasil rekaman tersebut sangat luar biasa, karena jarang ditemukan atau terekam kamera,” kata Iwan.
Selanjutnya hasil kajian Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura Pontianak, juga mengusulkan mengoptimalkan HCS dengan total luas indikatif 42.509 hektare atau 30% dari total konsesi untuk Peta Integrate Conservation and Land Use Plan, sesuai standar HCSA.
Selain itu, Iwan Budiman menjelaskan, PT MWP memiliki Nursery atau pusat pembibitan yang tercanggih dan terbesar di Kalimantan Barat dengan produksi bibit siap tanam 3.730.000 bibit/bulan.
Dalam proses produksi bibit, PT MWP sudah menerapkan teknologi lebih maju. Tidak lagi memulai dari biji benih, tapi sudah menggunakan metode cutting, sehingga mampu menghasilkan bibit yang lebih bagus, diantaranya akar kuat, pertumbuhan cepat dan batang pohon bisa lebih tinggi.
Di sisi kemasyarakatan, PT MWP memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar konsesi melalui CSR serta CD (Community Development). Program CSR, mencakup bidang Kesehatan, Pendidikan, dan keagamaan. Misalnya PT MWP memberikan insentif bagi guru honorer, bea siswa, dan menyumbangkan mobil ambulance untuk lima desa di sekitar areal operasional perusahaan.
Sedangkan untuk program CD, PT MWP melakukan penguatan ekonomi lokal dan harmoni sosial, seperti pelatihan peternakan ayam broiler serta Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yaitu madu. “Kami sekarang sudah menghasilkan produk madu kemasan botol yang kami beri nama Madu Maya,” kata Iwan.
Untuk menangani konflik sosial, PT MWP melakukan pendekatan untuk bisa menjadi kemitraan. Misalkan, menawarkan kemitraan, atau agroforesti. Sehingga masyarakat memperoleh kepastian kelola dan perusahaan mendapat kepastian berusaha.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






