SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sambas Harga Nol Rupiah, Langsat Warga Dusun Sawah Sambas Terbuang Percuma

Harga Nol Rupiah, Langsat Warga Dusun Sawah Sambas Terbuang Percuma

Buah langsat di Dusun Sawah, Desa Sanatab, Sambas, melimpah hingga satu ton. Namun tahun ini harga anjlok dan tak terserap pasar. SUARAKALBAR.CO.ID/Serawati

Sambas (Suara Kalbar) – Warga Dusun Sawah, Desa Sanatab, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat mengeluhkan anjloknya harga buah langsat pada musim panen tahun ini. Salah seorang warga, Lambertus (55), mengatakan hasil panen langsat yang melimpah justru tidak memiliki nilai jual.

Lambertus menjelaskan, di kebunnya terdapat sekitar 20 batang pohon langsat kampung yang berbuah lebat. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seluruh hasil panen tahun ini tidak berhasil dijual karena tidak ada pembeli.

“Pohon langsat saya sekitar dua puluh batang dan buahnya banyak sekali. Tahun ini tidak ada yang dijual sama sekali, padahal tahun lalu masih laku,” kata Lambertus, Kamis (29/1/2026).

Ia menyebutkan, melimpahnya buah langsat membuat pasar mengalami kelebihan pasokan. Akibatnya, buah langsat dibiarkan gugur dan membusuk di tanah.

“Buahnya bisa sampai satu ton. Mau dimakan tidak mungkin habis, mau dijual juga tidak ada pembeli. Akhirnya banyak yang jatuh ke tanah,” ujarnya.

Lambertus membandingkan kondisi tersebut dengan tahun sebelumnya, di mana buah langsat masih memiliki harga jual sekitar Rp10 ribu per kilogram. Namun pada musim panen kali ini, harga sama sekali tidak terbentuk.

“Kalau tahun lalu satu kilo masih dihargai sepuluh ribu rupiah, sekarang tidak ada harga sama sekali. Sedih rasanya melihat hasil alam tidak bernilai,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya dialaminya sendiri, tetapi juga dirasakan oleh warga lain di kampungnya.

“Bukan hanya saya, warga kampung juga mengalami hal yang sama,” katanya.

Lambertus berharap ke depan ada perhatian dan solusi agar hasil panen buah-buahan warga dapat terserap pasar.

“Kami berharap untuk panen berikutnya ada pembeli, supaya hasil kebun tidak terbuang sia-sia,” pungkasnya.

Penulis: Serawati

Komentar
Bagikan:

Iklan