Peluncuran ‘The Man Who Said Yes’, Jiu Kian Bagikan Filosofi Hidup di Tengah Perubahan
Jakarta (Suara Kalbar)— Dunia yang kian sarat ketidakpastian memaksa banyak orang berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit. Ketidakstabilan ekonomi global, perubahan sosial yang cepat, hingga peristiwa tak terduga yang datang silih berganti, kerap membuat masa depan terasa kabur. Dalam situasi semacam itu, tak sedikit orang memilih berhenti melangkah—ragu untuk bermimpi, apalagi mengambil keputusan besar.
Di tengah keraguan itu, sebuah kata sederhana justru ditawarkan sebagai jalan keluar: YES.
Gagasan tersebut menjadi benang merah buku The Man Who Said Yes, karya Jiu Kian, seorang entrepreneur sekaligus pemimpin jaringan bisnis nasional yang membangun ekosistem usaha dengan total omzet mencapai Rp120 miliar. Buku ini diluncurkan sebagai refleksi perjalanan hidupnya, sekaligus tawaran inspiratif bagi mereka yang tengah mencari arah di tengah perubahan zaman.
Bagi Jiu Kian, kata YES bukan sekadar ungkapan optimisme, melainkan sikap hidup. Keberanian membuka diri terhadap peluang—meski sarat risiko—kerap menjadi titik mula perubahan besar.
“Ketidakpastian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, yang membedakan hasil hidup setiap orang adalah bagaimana ia merespons kondisi tersebut,” ujar Jiu Kian. Ia menambahkan bahwa kata YES telah menjadi prinsip yang membimbing setiap langkah perjalanannya. “Bagi saya, kata YES dapat menjadi tiket masuk menuju level kehidupan berikutnya.”
Perjalanan hidup Jiu Kian sendiri jauh dari kata mudah. Dalam buku ini, ia secara gamblang mengisahkan masa kecilnya yang sederhana, ketika ia sudah terbiasa bekerja sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan berjualan es mambo. Setelah itu, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik batu bata, sebelum akhirnya merantau ke Pulau Jawa dengan keterbatasan dan ketidakpastian yang besar.
Berbagai pekerjaan pernah ia jalani demi kelangsungan hidup, mulai dari bekerja di toko kelontong, menjadi kuli panggul di pasar, hingga menjaga toko di pusat perbelanjaan. Ia mengakui bahwa tidak sedikit momen di mana rasa malu, takut gagal, dan kelelahan mental datang silih berganti.

Namun di setiap fase tersebut, terdapat satu benang merah yang selalu ia pegang, yaitu keberanian untuk mengatakan YES terhadap kesempatan yang datang, sekecil apa pun peluang itu. Salah satu pengalaman yang paling ia kenang adalah ketika pertama kali menawarkan produk asuransi secara langsung dari rumah ke rumah, berjalan kaki sambil menghadapi penolakan demi penolakan.
“Kalau saat itu saya memilih berkata tidak karena malu atau takut ditolak, mungkin cerita hidup saya akan berhenti di situ,” ungkapnya.
Tidak hanya berisi kisah perjalanan personal, buku The Man Who Said Yes juga ditulis sebagai panduan reflektif yang dapat diterapkan oleh para pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Jiu Kian merangkum pembelajarannya ke dalam sebuah kerangka berpikir yang ia sebut sebagai filosofi 368, yang merepresentasikan tiga fase kehidupan, enam prinsip abadi, dan delapan kunci kesuksesan.
Fase kehidupan menggambarkan proses manusia dari masa ditempa oleh keadaan, kemudian bertumbuh melalui pembelajaran, hingga akhirnya mencapai tahap berbagi kepada sesama. Prinsip abadi menjadi nilai yang menjaga arah dalam setiap fase kehidupan, sementara kunci kesuksesan membahas sikap dan kebiasaan yang perlu dijaga agar tujuan hidup dapat tercapai secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, buku ini tidak hanya bersifat inspiratif, tetapi juga aplikatif. Pembaca diajak untuk melakukan refleksi personal, memahami posisi hidupnya saat ini, serta membangun keberanian untuk melangkah ke fase berikutnya.
“Buku ini bukan hanya tentang kisah saya, melainkan undangan bagi para pembaca untuk mulai berkata YES dan menuliskan versi The Man Who Said Yes mereka sendiri,” jelasnya.
Saat ini, Jiu Kian memimpin jaringan bisnis yang tersebar di 16 kota di seluruh Indonesia dengan 11 kantor agensi aktif. Jaringan tersebut menjadi tempat bertumbuh dan bekerja bagi lebih dari 2.500 mitra dan karyawan yang ia sebut sebagai para pejuang kehidupan. Baginya, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian bisnis, tetapi juga dari dampak sosial yang dapat dihadirkan bagi banyak orang.
Buku The Man Who Said Yes kini tersedia di berbagai toko buku serta platform marketplace di Indonesia. Buku ini ditujukan bagi kalangan profesional muda, pelaku usaha, mahasiswa, serta siapa pun yang tengah mencari keberanian untuk melangkah di tengah ketidakpastian saat ini.
Dengan gaya penulisan yang lugas dan reflektif, buku ini diharapkan dapat menjadi teman perjalanan bagi pembaca dalam menghadapi dinamika kehidupan, sekaligus pengingat bahwa terkadang satu kata sederhana dapat menjadi awal dari perubahan terbesar dalam hidup.






