SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Virus Nipah, Ancaman Sunyi dengan Risiko Kematian Tinggi

Virus Nipah, Ancaman Sunyi dengan Risiko Kematian Tinggi

Ilustrasi kelelawar. (Freepik/Byrdyak)

Suara Kalbar – Virus Nipah (NiV) kembali menjadi perhatian serius dunia kesehatan global. Meski belum berkembang menjadi pandemi berskala luas, karakteristik virus ini menjadikannya ancaman nyata yang tidak bisa dianggap remeh.

Tingkat fatalitas yang tinggi, kemampuan menular dari hewan ke manusia, serta gejala awal yang kerap menyerupai penyakit umum membuat virus Nipah berpotensi luput dari deteksi dini.

Pemahaman mengenai virus Nipah bukan bertujuan menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai langkah preventif agar masyarakat dapat mengenali risiko, jalur penularan, dan gejalanya sejak dini.

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada akhir 1990-an dan diketahui berasal dari kelelawar buah. Infeksinya dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga peradangan otak (ensefalitis) yang berakibat fatal.

Apa Itu Virus Nipah?

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus Nipah adalah virus zoonotik yang termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus. Virus ini mampu menular dari hewan ke manusia, serta dalam kondisi tertentu dapat menyebar antarmanusia.

Reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae. Selain itu, virus ini juga dapat menginfeksi hewan lain, seperti babi, yang kemudian berperan sebagai inang perantara dalam penularan ke manusia.

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1999 saat terjadi wabah besar di Malaysia dan Singapura, yang berkaitan erat dengan industri peternakan babi. Sejak saat itu, kasus virus Nipah dilaporkan berulang, terutama di Bangladesh dan beberapa wilayah di India.

Virus Nipah tergolong endemik di beberapa wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kasus infeksi telah dilaporkan di Bangladesh, India (terutama wilayah timur dan selatan), Malaysia, dan Singapura.

Keberadaan reservoir alami berupa kelelawar buah di berbagai negara membuat potensi penyebaran virus ini tetap relevan, termasuk bagi negara-negara tetangga yang memiliki kondisi ekologis serupa.

Cara Penularan Virus Nipah

Berdasarkan fakta epidemiologis, virus Nipah dapat menyebar melalui beberapa jalur utama berikut ini.

1. Penularan dari hewan ke manusia

Penularan paling umum terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar buah. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar.

Contoh yang sering dilaporkan adalah konsumsi getah buah mentah atau buah yang jatuh dan telah dijilat oleh kelelawar. Selain itu, hewan ternak seperti babi dapat terinfeksi setelah terpapar virus dari kelelawar, lalu menularkannya ke manusia melalui kontak dekat.

2. Penularan antarmanusia

Virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Penularan terjadi melalui cairan tubuh, seperti air liur, lendir pernapasan, atau sekresi lainnya.

Kasus penularan antarmanusia sering dilaporkan pada anggota keluarga atau tenaga perawat yang merawat pasien tanpa perlindungan memadai.

3. Melalui makanan atau minuman terkontaminasi

Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi cairan hewan pembawa virus juga menjadi jalur penularan yang signifikan, khususnya di wilayah endemik seperti Bangladesh.

Gejala Infeksi dan Perkembangan Penyakit

Setelah terpapar virus Nipah, masa inkubasi umumnya berlangsung 4 hingga 14 hari, meskipun dalam beberapa laporan dapat mencapai hingga 45 hari.

Pada tahap awal, gejala yang muncul sering kali tidak spesifik dan menyerupai penyakit infeksi umum, seperti demam, sakit kepala, batuk atau sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, mual dan muntah, serta nyeri otot.

Karena kemiripan ini, infeksi virus Nipah kerap sulit dikenali pada fase awal. Namun, pada sebagian pasien, kondisi dapat berkembang dengan cepat menjadi ensefalitis (radang otak) yang serius.

Gejala lanjutan meliputi kebingungan atau disorientasi, mengantuk berlebihan, kejang, serta koma dalam waktu 24–48 jam pada kasus berat.

Mengapa Virus Nipah Dianggap Berpotensi Menjadi Pandemi Global?

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan virus Nipah sebagai salah satu patogen dengan potensi pandemi global. Hal ini didasarkan pada beberapa faktor utama.

Pertama, tingkat fatalitas virus Nipah sangat tinggi, dengan angka kematian yang dilaporkan mencapai lebih dari 50%. Kedua, hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk mencegah atau mengobati infeksi virus Nipah.

Selain itu, kemampuan virus ini untuk menular dari hewan ke manusia dan antarmanusia, ditambah dengan meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar, memperbesar risiko terjadinya wabah berskala luas.

Tanpa sistem pencegahan dan deteksi dini yang kuat, virus Nipah berpotensi memberikan tekanan besar pada sistem kesehatan global.

Upaya Pencegahan dan Pengendalian Virus Nipah

Pencegahan menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyebaran virus Nipah. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Mengurangi paparan terhadap hewan

Masyarakat disarankan menghindari kontak langsung dengan kelelawar atau hewan yang berpotensi terinfeksi. Konsumsi makanan yang diduga terkontaminasi cairan hewan, seperti buah yang jatuh atau minuman mentah dari sumber terbuka, sebaiknya dihindari.

  • Menjaga kebersihan dan perlindungan diri

Mencuci tangan secara rutin sangat penting, terutama setelah menyentuh hewan atau merawat orang sakit. Bagi tenaga kesehatan dan pengurus pasien, penggunaan alat pelindung diri (APD), seperti sarung tangan, masker N95, dan pelindung wajah merupakan langkah krusial untuk mencegah penularan.

  • Edukasi dan deteksi dini

Edukasi kepada masyarakat dan tenaga medis mengenai gejala serta cara penularan virus Nipah sangat membantu dalam mendukung deteksi dini. Identifikasi dan isolasi kasus secara cepat dapat menekan risiko penyebaran lanjutan.

Kemunculan dan penyebaran virus Nipah tidak dapat dilepaskan dari perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Deforestasi dan alih fungsi lahan memaksa kelelawar buah meninggalkan habitat alaminya dan mencari sumber makanan di dekat pemukiman atau lahan pertanian.

Kondisi ini meningkatkan peluang terjadinya spillover, yaitu perpindahan virus dari hewan ke manusia. Perubahan iklim juga turut memperburuk situasi dengan mengganggu pola migrasi satwa liar dan mempersempit batas antara ekosistem alami dan wilayah hunian manusia.

Oleh karena itu, upaya pencegahan virus Nipah tidak cukup hanya melalui pendekatan medis. Diperlukan strategi terpadu yang mencakup pelestarian lingkungan dan penerapan konsep One Health, yaitu integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mencegah munculnya wabah di masa depan.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan