Mengapa Korban Child Grooming Sulit Pergi Meski Disakiti?
Suara Kalbar – Selain karena terkuaknya pengalaman artis Aurelie Moeremans sebagai korban, kasus child grooming ramai menjadi sorotan publik, salah satunya karena kompleksitas perilaku pelaku dan dampaknya terhadap korban. Banyak korban tetap bertahan dalam hubungan manipulatif meski mengalami penyalahgunaan, eksploitasi, atau kekerasan, yang membingungkan bagi orang dewasa di luar situasi tersebut.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah proses manipulatif di mana pelaku membangun hubungan emosional dengan anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi, sering kali berupa kekerasan seksual atau bentuk kontrol yang merugikan secara psikologis dan fisik. Proses ini berlangsung secara bertahap dan sistematis, bukan instan.
Menurut psikolog, pelaku grooming sering menunjukkan perhatian dan kasih sayang berlebihan di awal. Mereka membangun kepercayaan sehingga korban merasa nyaman dan bahkan merasa istimewa atau dipahami.
Dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (23/1/2026), berikut enam faktor yang bisa membuat korban child grooming tetap bertahan meski sudah disakiti:
Manipulasi dan Isolasi Emosional
Pelaku menggunakan manipulasi psikologis untuk menciptakan ketergantungan emosional korban:
- Memberi perhatian dan dukungan intens agar korban merasa dipedulikan.
- Mengisolasi korban dari keluarga atau teman.
- Membuat korban merasa pelaku adalah satu-satunya yang mengerti atau melindungi.
Trauma Bonding
Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk akibat siklus kekerasan dan penghargaan dari pelaku. Pola reward-punishment cycle ini membuat korban sulit meninggalkan pelaku meski mengalami kekerasan.
Persepsi Normalitas dan Ketidakmampuan Menilai Bahaya
Karena grooming sering dimulai tanpa kekerasan langsung, korban mungkin tidak menyadari bahwa mereka disalahgunakan. Pelaku tampak seperti teman atau sosok dewasa yang peduli, sehingga proses manipulatif sering tidak terdeteksi oleh orang di sekitar korban.
Ketidakmatangan Neurologis dan Emosional
Bagian otak anak dan remaja yang mengatur pengambilan keputusan, evaluasi risiko, dan kontrol impuls belum matang. Hal ini membuat korban lebih rentan terhadap manipulasi dan kesulitan membedakan kasih sayang otentik dari perhatian yang dimotivasi eksploitasi.
Perasaan Bersalah dan Takut Kehilangan
Korban sering takut kehilangan perhatian atau perlindungan pelaku, yang menimbulkan rasa bersalah atau malu. Beberapa takut menghadapi stigma sosial jika keluar dari hubungan, sehingga memilih bertahan.
Kurangnya Dukungan Lingkungan dan Keluarga
Isolasi fisik dan emosional diperparah jika keluarga atau lingkungan tidak menyadari manipulasi. Kurangnya dukungan sosial membuat korban merasa sendirian dan tetap bertahan untuk bertahan hidup.
Kesimpulan
Korban child grooming tetap bertahan bukan semata karena takut atau tidak berani melawan. Fenomena ini merupakan kombinasi manipulasi emosional, trauma bonding, ketidakmatangan otak, isolasi sosial, dan persepsi hubungan yang terdistorsi.
Pendekatan untuk membantu korban keluar dari situasi berbahaya harus empatik, edukatif, dan suportif, melibatkan keluarga, institusi pendidikan, serta sistem hukum dan perlindungan anak.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





