Silent Reading, Upaya Komunitas Pontianak Mendekatkan Buku ke Publik
Pontianak (Suara Kalbar) — Sejumlah komunitas literasi di Pontianak menggelar kegiatan Silent Reading di Taman Puzzle Waterfront. Kegiatan ini menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk membaca bersama di ruang terbuka, sekaligus memperkenalkan budaya literasi ke publik secara lebih luas.
Kegiatan ini merupakan gabungan dari tiga komunitas baca di Pontianak, yakni Club Pon, Ponti Baca, dan Pablos. Salah satu penggagas kegiatan, Dedek dan Ejia dari Club Pon, menjelaskan bahwa ide silent reading berangkat dari kegemarannya berkomunikasi dan mengadakan berbagai kegiatan kreatif, mulai dari melukis, bermain klip, hingga membaca jurnal dan buku.
“Saya juga tergabung di beberapa komunitas baca. Awalnya sering lihat di media sosial, terutama di luar negeri, ada kegiatan baca ramai-ramai di ruang publik. Dari situ kepikiran, kenapa di Pontianak belum ada,” ujarnya Minggu (11/01/2026) sore.
Menurut Dedek, kegiatan ini awalnya direncanakan berlangsung di area lapangan golf. Namun karena beberapa kendala, lokasi akhirnya dipindahkan ke Taman Puzzle Waterfront yang dinilai paling memungkinkan sebagai ruang terbuka.
“Kalau jujur, pindah lokasi ini karena terpaksa. Cari ruang terbuka di Pontianak itu cukup sulit. Tidak banyak pilihan taman seperti di Jakarta, yang bisa berpindah-pindah lokasi tiap minggu,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan membaca di kafe sebenarnya sudah sangat sering dilakukan oleh komunitas baca di Pontianak. Namun, silent reading di ruang terbuka memberikan pengalaman yang berbeda.
“Kalau di kafe, baca buku itu sudah biasa. Yang lihat juga cuma orang-orang di kafe. Kalau di outdoor seperti ini, orang lewat jadi penasaran, ‘lagi ngapain sih?’ Harapannya bisa memantik minat baca,” katanya.
Dalam kegiatan ini, peserta dibebaskan membawa dan membaca buku apa pun sesuai minat masing-masing. Tidak ada batasan genre maupun judul buku.
Sementara itu, Ejia dari Club Pon menyebutkan bahwa kegiatan ini masih akan dievaluasi karena merupakan pelaksanaan perdana.
“Ini pertama, pasti banyak kekurangannya. Setelah evaluasi, kalau memungkinkan kami ingin bikin rutin, karena di Pontianak memang belum ada kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Ke depan, para penggiat literasi berharap adanya dukungan dari pemerintah, terutama dalam penyediaan ruang publik yang ramah untuk aktivitas komunitas.
“Kami berharap pemerintah bisa menyediakan lebih banyak public space yang mudah diakses. Jujur saja, kami bosan kalau harus ke kafe terus untuk baca buku,” kata Dedek.
Selain itu, mereka juga berharap partisipasi masyarakat semakin meningkat.
“Semoga ke depannya bisa lebih ramai. Literasi itu bukan cuma untuk komunitas, tapi untuk semua,” tutup Ejiah.
Penulis: Ain Rahmi






