SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Bisnis Era Warren Buffett Berakhir, Saham Berkshire Hathaway Dibuka Melemah

Era Warren Buffett Berakhir, Saham Berkshire Hathaway Dibuka Melemah

Pada usia 94 tahun, Warren Buffett masih rutin minum Coca-Cola. (X.com/Wolf Financial)

Suara Kalbar – Saham Berkshire Hathaway dibuka melemah pada awal perdagangan 2026. Hal itu terjadi seiring berakhirnya kepemimpinan legendaris Warren Buffett dan dimulainya era baru di bawah penerusnya, Greg Abel.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/1/2026), pada hari pertama Abel menjabat sebagai CEO, saham Kelas A Berkshire tercatat turun sekitar 1,4%. Penurunan ini terjadi setelah Buffett secara resmi menyerahkan tongkat kepemimpinan dan menutup perjalanan lebih dari enam dekade sebagai nakhoda perusahaan.

Sepanjang 2025, Berkshire Hathaway membukukan kenaikan saham 10,9%. Kinerja tersebut memang masih di bawah penguatan S&P 500 yang naik 16,4% dan menandai 10 tahun berturut-turut Berkshire mencatatkan imbal hasil positif.

Meski tak lagi menjabat CEO, Buffett yang kini berusia 95 tahun tetap menduduki posisi ketua dewan dan menegaskan keyakinannya terhadap masa depan perusahaan. Ia juga menyebut Abel akan memegang kewenangan penuh dalam pengambilan keputusan alokasi modal.

Saat pergantian kepemimpinan berlangsung, Berkshire tercatat memiliki cadangan kas jumbo sebesar US$ 381,6 miliar per akhir September 2025, setelah periode panjang penjualan bersih saham. Kondisi ini memberi ruang strategis bagi Abel dalam menentukan arah investasi ke depan.

Sejumlah investor sempat bersikap hati-hati sejak Buffett mengumumkan pengunduran dirinya pada Mei lalu. Pasar menilai tantangan utama Abel adalah menjaga kinerja ratusan unit usaha dan portofolio investasi Berkshire, sekaligus mempertahankan valuasi premium perusahaan.

Buffett meninggalkan warisan kinerja yang nyaris tak tertandingi. Sejak mengambil alih Berkshire pada pertengahan 1960-an, ia mengubah perusahaan tekstil yang nyaris runtuh menjadi raksasa investasi global.

Pada periode 1964 hingga 2024, saham Berkshire mencatat pertumbuhan tahunan majemuk 19,9%, hampir dua kali lipat dibandingkan S&P 500 yang berada di kisaran 10,4%, dengan total imbal hasil melampaui 5,5 juta %.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan