SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Bisnis Harga Minyak Dunia Ambruk Lebih 15 Persen Sepanjang 2025

Harga Minyak Dunia Ambruk Lebih 15 Persen Sepanjang 2025

Ilustrasi minyak mentah (EPA FOTO)

Suara Kalbar – Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan akhir tahun, namun secara keseluruhan mencatat penurunan tajam sepanjang 2025. Tekanan pasokan yang melimpah, perlambatan permintaan global, serta kebijakan produksi OPEC+ menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak merosot lebih dari 15% sepanjang tahun ini.

Minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$ 61,42 per barel, naik tipis dibandingkan sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berada di level US$ 58,05 per barel. Meski relatif stabil secara harian, kedua acuan harga tersebut berada dalam tren pelemahan tajam secara tahunan.

Sepanjang 2025, harga Brent tercatat turun hampir 18%, menjadi penurunan persentase tahunan terdalam sejak 2020. Penurunan ini sekaligus menandai tahun ketiga berturut-turut Brent mencatatkan kinerja negatif, rekor terpanjang sepanjang sejarah perdagangan minyak global. Di sisi lain, harga WTI mengalami koreksi lebih dalam, dengan penurunan tahunan mendekati 19%.

Rata-rata harga minyak sepanjang 2025 juga tercatat sebagai yang terendah dalam 5 tahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di tengah dinamika geopolitik global yang kompleks.

Analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying, memperkirakan harga Brent masih berpotensi melemah pada awal 2026. Ia memproyeksikan Brent turun ke kisaran US$ 55 per barel pada kuartal I 2026, sebelum pulih secara bertahap ke sekitar US$ 60 per barel pada sisa tahun 2026.

Menurut Ying, salah satu faktor utama yang menekan harga dalam jangka pendek adalah strategi lindung nilai (hedging) produsen minyak serpih Amerika Serikat. Produsen telah mengunci harga jual pada level tinggi sebelumnya, sehingga pasokan tetap stabil meskipun harga pasar bergerak turun.

“Pasokan dari produsen minyak serpih menjadi lebih konsisten dan relatif tidak sensitif terhadap pergerakan harga,” ujarnya seperti dilansir dari Reuters.

Tekanan terhadap harga minyak juga tercermin dari data persediaan. Persediaan minyak mentah dan bahan bakar di Amerika Serikat dilaporkan meningkat pada pekan terakhir Desember, mengindikasikan lemahnya serapan pasar di tengah pasokan yang terus bertambah.

Secara bulanan, pergerakan harga minyak mentah sepanjang 2025 menunjukkan tren menurun setelah sempat menguat pada awal tahun. Pada Januari, harga Brent rata-rata masih berada di kisaran US$ 78 per barel, didorong oleh ketegangan geopolitik dan sanksi baru terhadap Rusia. Februari dan Maret mencatatkan harga rata-rata masing-masing US$ 75 dan US$ 73 per barel.

Memasuki kuartal II, tekanan mulai meningkat. Harga Brent rata-rata turun ke US$ 70 per barel pada April dan kembali melemah ke US$ 68 per barel pada Mei. Juni sempat mencatat kenaikan terbatas ke US$ 72 per barel akibat eskalasi konflik Iran dan Israel yang memicu kekhawatiran gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Pada Juli hingga September, harga Brent kembali tertekan di kisaran US$ 65–67 per barel seiring percepatan peningkatan produksi OPEC+ dan kekhawatiran terhadap dampak tarif perdagangan Amerika Serikat terhadap pertumbuhan ekonomi global. Oktober hingga Desember mencatatkan pelemahan lanjutan, dengan harga bergerak di rentang US$ 60–62 per barel.

Pada awal 2025, pasar minyak sempat menguat signifikan setelah Presiden Amerika Serikat saat itu, Joe Biden, memberlakukan sanksi yang lebih ketat terhadap Rusia menjelang akhir masa jabatannya. Langkah tersebut sempat mengganggu pasokan ke negara pembeli utama seperti China dan India.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan