China Atur Drama Mikro Romantis Bertema CEO Kaya Raya
Suara Kalbar – Pihak otoritas China baru-baru ini mengeluarkan pedoman untuk mengatur drama mikro romantis atau dikenal dengan sebutan short drama yang sering menampilkan karakter chief executive officer (CEO) kaya raya. Kebijakan tersebut bertujuan menekan narasi yang mempromosikan pernikahan dengan orang atau keluarga berkuasa dan kaya raya.
Mengutip laporan Global Times, Rabu (17/12/2025) pedoman yang dikeluarkan oleh Administrasi Radio dan Televisi Nasional China tersebut menekankan para kreator harus mematuhi prinsip-prinsip realisme saat memproduksi drama pendek yang menggambarkan komunitas wirausahawan.
Dalam pedoman tersebut, otoritas menekankan drama pendek tidak boleh dengan sengaja menciptakan daya tarik melalui konten yang mempromosikan hal-hal bersifat materialisme, pamer kekayaan, kekuasaan, atau hedonisme. Konten semacam ini dinilai berpotensi membentuk pemikiran yang keliru di kalangan masyarakat.
Akun resmi WeChat dari Guangdianshijie yang berafiliasi dengan China Press and Publishing Media Group Co Ltd menyebutkan, para kreator diminta menghindari menampilkan cerita-cerita absurd dengan kedok realisme. Alur cerita yang dibuat tidak masuk akal dan minim value dikhawatirkan dapat menyesatkan persepsi publik tentang komunitas pengusaha di China serta merusak citra dunia wirausaha itu sendiri.
Pedoman tersebut juga menegaskan para kreator konten sebaiknya mengangkat kisah perjuangan para pengusaha China dari masa lalu hingga masa kini, alih-alih hanya fokus pada tema percintaan dan konflik keluarga. Secara khusus, otoritas China meminta para kreator diminta menghindari promosi konsep pernikahan yang melekat pada individu atau keluarga berkuasa dan kaya.
Tak hanya itu, dalam pedoman juga disebutkan perlunya penguatan pengelolaan drama mikro bertema kisah romansa CEO. Langkah-langkah yang diatur meliputi pengurangan kuantitas, peningkatan kualitas, serta larangan pemakaian istilah sensasional seperti CEO yang otoriter sebagai judul untuk menarik minat para penonton.
Tema dan karakterisasi tokoh utama tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai sosial, serta harus menghindari glorifikasi kesuksesan instan dalam satu malam alias kemudahan memperoleh kekayaan.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






