SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Yayasan Moderasi Lintas dan Etnis Siap Menjadi Inisiator Seminar Bersama Tokoh Masyarakat Adat dan Cendekiawan Singbebas

Yayasan Moderasi Lintas dan Etnis Siap Menjadi Inisiator Seminar Bersama Tokoh Masyarakat Adat dan Cendekiawan Singbebas

Firdaus

Dalam Mewujudkan Provinsi Sambas Raya di Kalimantan Barat

Oleh: Firdaus., S.Ip.M.Sos

Kalimantan Barat mendominasi pembangunan terpusat di Kota Pontianak pada umumnya sudah beberapa 10 Tahun terakhir hingga hari ini pergantian Gubernur infrastuktur jalan dan listrik di Singbebas serta Beasiswa dari Provinsi tidak merata dirasakan oleh putra putri Daerah di Singbebas.  Berdasarkan kajian ilmiah dan faktual. Secara kajian SDM dan IPM banyak SDM Cendikiawan berasal dari Sambas, bengkayang dan sigkawang berdomisili di Pontianak mampu bersaing dalam tatakelola Pemerintahan dan Pemikir dalam kemajuan Provinsi Kalimantan Barat. Hal inilah sebetulnya Langkah tepat dalam mewujudkan secara nyata dan terbangun dari tidur panjang untuk pembentukan Provinsi Sambas Raya.

Sedangkan kajian  historis  masa kejayaan Tokoh Adat dan Cendikiwan Singkawang, Bengkayang dan  Sambas  sangatlah  mengukir kemajuan daerahnya. Singkawang dengan Multikultural merupakan ICON Moderasi Lintas Etnis yang berhasil. Sedangkan Bengkayang dengan SDA dan SDM yang mempuni dalam penyelamatan kekayaan Sumber Alam Hayati tokoh putra putrinya yang energik dan cerdas.   Begitu juga Sambas Budaya yang hidup serta banyak pemikir dari kalangan historis kerajaan yang tersistematis dalam  pusat kajian agama yaitu seikh khatib As-Sambasy yang terkenal di kota Mekah dan Nusantara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat selama dua dekade terakhir, pertumbuhan pembangunan infrastruktur, akses listrik, serta pelayanan pendidikan tinggi secara signifikan memang lebih terkonsentrasi di Kota Pontianak dibandingkan wilayah perbatasan dan pesisir seperti Singkawang, Bengkayang, dan Sambas (Singbebas). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Kalimantan Barat tahun 2024 mencatat bahwa Kota Pontianak menempati peringkat tertinggi dengan skor di atas 78, sementara daerah Singbebas masih berada pada kisaran 66–70, menunjukkan kesenjangan pembangunan dan akses pelayanan publik.

Dalam kajian akademik oleh beberapa lembaga penelitian daerah, seperti Universitas Tanjungpura, disebutkan bahwa banyak tokoh dan intelektual dari Sambas, Bengkayang, dan Singkawang yang telah berkontribusi besar dalam pemerintahan provinsi, baik sebagai akademisi, birokrat, hingga tokoh masyarakat. Ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia (SDM) di kawasan Singbebas sangat kompetitif dan mampu mendukung otonomi daerah bila diwujudkan dalam bentuk pembentukan Provinsi Sambas Raya.

Secara historis, wilayah Sambas telah memiliki struktur pemerintahan tradisional yang kuat melalui Kesultanan Sambas, yang pernah menjadi pusat studi keislaman di Nusantara melalui tokoh seperti Sheikh Khatib As-Sambasy yang dikenal luas di Mekkah. Singkawang dengan identitas multikulturalnya juga dinobatkan sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia versi Setara Institute, membuktikan keberhasilan dalam moderasi lintas etnis dan agama.

Sementara itu, Bengkayang dikenal sebagai daerah dengan kekayaan sumber daya alam hayati, termasuk kawasan hutan lindung dan potensi energi terbarukan, yang dikelola oleh masyarakat lokal yang memiliki kecakapan tinggi dalam menjaga ekosistem. Semua ini menjadi bukti bahwa Singbebas bukan hanya layak dari sisi historis dan budaya, tetapi juga dari aspek sumber daya manusia dan potensi ekonomi, sehingga pembentukan Provinsi Sambas Raya memiliki dasar ilmiah dan empiris yang kuat

Sangatlah wajar isu wacana pembentukan Provinsi Sambas Raya digaungkan di acara temu kegiatan organisasi Persaudaraan Sambas Serantau waktu lalu. Alasan emprik saya amati SDM Singbebas ( Singkawang, Bengkayang, Sambas) Sudah banyak mendirikan Perguruan Tinggi Negri dan Swasta. Sebut saja Universitas Sultan Muahammad Safiuddin Sambas. Singkawang dengan STIS dan Politeknik dan PTN lainya di Singkawang. Coba kita berpikir ilmiah dan harus sadar. Banyak SDM dan SDA yang harus kita selamatkan untuk kemakmuran anak cucu kita. Dari Sumber Alam Singkawang sebagai sumber pendapatan wisata dan wisata bahari. Sangatlah wajar jika wacana pembentukan Provinsi Sambas Raya kembali digaungkan dalam acara temu organisasi Persaudaraan Sambas Serantau yang lalu. Secara empiris, potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di kawasan Singbebas (Singkawang, Bengkayang, dan Sambas) menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir. Data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencatat bahwa di wilayah ini telah berdiri sejumlah institusi pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta. Misalnya, Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS). sebagai perguruan tinggi negeri pertama di Kabupaten Sambas, serta STISIPOL Pahlawan 12, Politeknik Negeri Sambas, dan Politeknik Negeri Singkawang, yang menjadi pusat pengembangan ilmu terapan dan vokasi.

Di bidang ekonomi lokal, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Singkawang tahun 2023 mencatat sektor pariwisata sebagai salah satu penyumbang PDRB terbesar, dengan lebih dari 800 ribu kunjungan wisatawan domestik per tahun. Keunggulan geografis seperti garis pantai, destinasi wisata bahari, dan budaya multietnis menjadi kekuatan ekonomi yang potensial bila dikelola secara mandiri oleh provinsi baru. Di sisi lain, Bengkayang memiliki cadangan hutan tropis dan potensi energi baru terbarukan yang strategis, sementara Sambas dikenal dengan kekayaan budaya, pertanian, dan kawasan pesisirnya yang produktif.

Jika dilihat dari perspektif ilmiah dan perencanaan pembangunan berkelanjutan, maka menjaga dan mengelola potensi SDM dan Sumber Daya Alam (SDA) di Singbebas merupakan langkah strategis untuk memastikan kemakmuran jangka panjang bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, pembentukan Provinsi Sambas Raya bukan sekadar isu politik, melainkan sebuah urgensi yang didukung oleh data pembangunan, potensi wilayah, dan kesiapan SDM lokal yang telah terbukti berdaya saing.

Kemajuan di Singkawang sudah ada Bandara dan Pusat Pembelanjaan Mall di Singkawang. Singkawang tempat transit turis local insyallah kedepan jadi bandara Internasional semoga terwujud. Semua ini harus ada Kerjasama Pemda Singkawang, Pemda Bengkayang dan Pemda Sambas yang populis. Kemajuan pembangunan di Kota Singkawang semakin terlihat nyata dengan telah beroperasinya Bandara Singkawang yang diresmikan pada 18 Maret 2024 oleh Presiden Joko Widodo. Bandara ini menjadi bandara pertama di Indonesia yang dibangun dengan skema kerja sama antara pemerintah daerah dan swasta, dan ditargetkan mampu melayani lebih dari 150.000 penumpang per tahun pada tahap awal operasional. Kehadiran bandara ini memperkuat posisi Singkawang sebagai kota transit strategis bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah Kalimantan Barat bagian utara, khususnya daerah Singbebas (Singkawang, Bengkayang, Sambas).

Selain infrastruktur transportasi, sektor ekonomi ritel juga mengalami pertumbuhan dengan hadirnya Singkawang Grand Mall, pusat perbelanjaan modern pertama di kota ini yang menjadi magnet ekonomi lokal serta ruang ekspresi UMKM. Menurut data dari BPS Kota Singkawang tahun 2023, sektor perdagangan dan pariwisata menyumbang lebih dari 30% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota, menunjukkan peran vital sektor ini dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Dengan melihat posisi geografis strategis dan keberagaman potensi ekonomi serta budaya yang dimiliki, cita-cita untuk menjadikan Bandara Singkawang sebagai bandara internasional sangat memungkinkan dalam jangka menengah. Namun, hal ini membutuhkan sinergi nyata antar-pemerintah daerah di wilayah Singbebas — yakni Pemda Singkawang, Bengkayang, dan Sambas — melalui kolaborasi populis dan perencanaan jangka panjang berbasis data. Kerja sama regional yang kuat akan memastikan bahwa pembangunan infrastruktur besar seperti bandara dapat memberikan dampak ekonomi merata bagi seluruh kawasan, bukan hanya kota inti.

Saya, Firdaus, S.IP., M.Sos, selaku Sekretaris Jenderal, menyatakan dukungan penuh terhadap pembentukan Provinsi Sambas Raya sebagai langkah strategis untuk mendorong pemerataan pembangunan dan akselerasi kemakmuran di wilayah utara Kalimantan Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kawasan Singbebas (Singkawang, Bengkayang, Sambas) memiliki jumlah penduduk gabungan lebih dari 1,2 juta jiwa, angka yang secara demografis sudah memenuhi salah satu syarat pembentukan daerah otonomi baru sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Selain itu, secara administratif, wilayah Singbebas memiliki potensi ekonomi, sosial, dan budaya yang saling melengkapi. Kota Singkawang, misalnya, merupakan kota wisata unggulan nasional dan tercatat sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia (Setara Institute, 2023). Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah 6.394 km² dengan potensi perikanan, pertanian, dan budaya kerajaan yang masih hidup. Sementara Bengkayang kaya akan sumber daya alam dan energi terbarukan.

Maka dari itu, saya menyarankan kepada Wali Kota Singkawang, Bupati Sambas, dan Bupati Bengkayang untuk segera menginisiasi MoU kerja sama lintas daerah (Singbebas) sebagai bentuk komitmen bersama. Salah satu langkah awal konkret yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan Seminar Bersama di Sambas atau Singkawang dengan menghadirkan tokoh-tokoh adat, cendekiawan, akademisi, dan perwakilan ormas dari ketiga wilayah. Forum ini akan menjadi ruang ilmiah dan kultural untuk mengkaji kelayakan, manfaat, serta strategi pembentukan Provinsi Sambas Raya berdasarkan pendekatan akademik, historis, dan kebutuhan masyarakat lokal.

Langkah ini akan memperkuat legitimasi publik sekaligus membangun narasi pembangunan yang inklusif, terencana, dan berorientasi pada keadilan wilayah di Kalimantan Barat.

*Penulis adalah Dosen Ilmu Politik Universitas Tanjungpura / Sekjen Moderasi Lintas dan Etnis

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan