Mobil Listrik China Gempur Pasar Eropa di IAA Mobility 2025
Jakarta (Suara Kalbar)- Pameran otomotif IAA Mobility 2025 di Munich, Jerman, menjadi panggung bagi produsen mobil listrik China yang kian agresif berekspansi ke Eropa. Nama-nama seperti Xpeng dan Guangzhou Automobile Group (GAC) tampil dengan percaya diri, membawa strategi harga kompetitif dan teknologi canggih untuk menantang dominasi BMW, Mercedes, Volkswagen, hingga Renault.
Mengutip CNBC, Minggu 14/9/2025), Eropa kini menjadi fokus utama ekspansi karena produsen mobil tradisional dinilai tertinggal dalam transisi kendaraan listrik. Bahkan, Tesla yang dahulu memimpin pasar juga mencatat penurunan penjualan di kawasan ini.
CEO Xpeng He Xiaopeng bahkan menargetkan peluncuran seri Mona di Eropa tahun depan. Di China, model ini dijual di bawah US$ 17.000, yang bisa memicu persaingan harga ketat di pasar Eropa.
Sementara itu, Presiden GAC International Wei Haigang menargetkan penjualan 3.000 unit mobil listrik tahun ini di Eropa, dan melonjak menjadi 50.000 unit pada 2027.
Dua model andalan yang dibawa ke Eropa adalah Aion V dan Aion UT, salah satunya dilengkapi fitur unik seperti kursi pijat dan lemari es mini.
Menurut data Jato Dynamics, pangsa pasar mobil China di Eropa naik hampir dua kali lipat pada paruh pertama 2025 dibanding tahun sebelumnya, meski masih di kisaran 5%.
Produsen China menekankan citra sebagai perusahaan teknologi, serupa dengan Tesla. Banyak model kendaraan mereka dibekali layar besar, asisten suara pintar, dan fitur hiburan yang semakin menarik generasi muda Eropa.
“Keunggulan mereka ada pada harga terjangkau, teknologi baterai, dan skala produksi,” ujar Murtuza Ali, analis Counterpoint Research.
Produsen mobil lama Eropa tentu tidak tinggal diam. BMW menampilkan arsitektur otak super berbasis komputer pusat untuk menggantikan perangkat keras tradisional. Sementara Mercedes mendominasi ruang pamer dengan iklan besar-besaran, dan Volkswagen bersama Renault meluncurkan sejumlah mobil listrik baru.
Namun, sejumlah analis menilai kecepatan inovasi Eropa masih kalah dibanding China. BMW iX3 terbaru misalnya, masih menggunakan platform mobil listrik yang diluncurkan dua tahun lalu.
“Komitmen pada struktur lama membuat produsen Eropa lebih lambat beradaptasi, sementara pemain China bergerak cepat,” ujar profesor manajemen di Santa Clara University Tammy Madsen.
Meski begitu, merek Eropa tetap memiliki keunggulan dari sisi heritage dan reputasi global. Tantangannya adalah bagaimana mengejar produksi massal dan mengadopsi teknologi baru lebih cepat.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






