Mengenal Sosok Linggo, Pengerajin Sumpit Asal Kapuas Hulu Hidupkan Kembali Warisan Leluhur
Pontianak (Suara Kalbar)- Di tengah kemeriahan Pekan Gawai Dayak 2025, tampak sosok pria bersahaja sibuk menjelaskan satu persatu jenis kayu dan teknik pembuatan sumpit kepada para pengunjung. Dia adalah Linggo, perajin sumpit asal Kapuas Hulu yang telah menekuni kerajinan ini secara serius sejak tahun 2019.
Namun ketertarikan Linggo terhadap sumpit, senjata tradisional suku Dayak, bukanlah hal baru. Ia telah mengenal dan mencoba membuatnya sejak masa SMA pada awal 1990-an.
Sebagai putra asli suku Dayak, Linggo mengaku memang tertarik dan mengenal sumpit sebagai senjata tradisional suku Dayak yang digunakan untuk berburu pada saat itu. Akan tetapi saat ini, penggunaan sumpit lebih diguanakan sebagai sebuah seni dan aktivitas olahraga.
“Saya mulai benar-benar menjadi pengrajin sumpit sejak tahun 2019. Tapi ketertarikan saya terhadap sumpit itu sendiri sudah sejak SMA, sekitar tahun 1992-1993. Saat itu saya sudah mulai tertarik dan mencoba-coba. Baru di tahun 2019 saya serius menekuninya sebagai pengrajin,” ujar Linggo saat ditemui di Pekan Gawai Dayak 2025 pada Kamis (22/5/2025).
Proses awal pembuatan sumpit ini adalah pemilihan kayu terlebih dahulu, ada beberapa jenis kayu yang kerap kali digunakan untuk sumpit yaitu kayu belian, rengas, tekan dan lainnya.
Setelah pemilihan jenis kayu, kayu tersebut kemudian diukur sekitar 4×2 cm dengan panjang sekitar 2 meter tergantung selera dari pemesan.
Hingga saat ini Linggo masih menggunakan cara manual dan mandiri untuk membuat senjata tradisional tersebut.
“Saya membuatnya secara manual. Biasanya saya potong dua atau tiga bumbungan kayu menjadi satu sumpit. Di dalam sumpit bisa dipasangi pipa, dengan ukuran diameter dalam sekitar 13 sampai 15 milimeter, juga tergantung permintaan,” jelasnya
Pembuatan ini bisa menghabiskan waktu tiga hari karena menunggu lem yang digunakan benar-benar kering.
Ketika sumpit tersebut jadi dan dipergunakan untuk perlombaan, Linggo mengaku sangat bangga karena kerajinan yang dibuatnya dapat digunakan oleh orang lain apalagi jika dapat membawa kemenangan.
“Saya bangga ketika melihat sumpit buatan saya digunakan dan bahkan bisa membawa kemenangan, itu sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi jika atlet yang menggunakannya berhasil, rasanya seperti usaha saya terbayar,” tuturnya.
Hingga kini penjualan sumpit tidak hanya ada di Kalbar atau Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Serawak dengan kisaran harga sekitar 2,5 juta tergantung jenis kayu yang digunakan.
Penggunaan sumpit di zaman moderen saat ini yang lebih ke arah seni dan olahraga membuat sumpit bukan lagi sebuah senjata yang sakral, tapi tetap harus diperlihatkan sebagai senjata tradisional yang kaya akan nilai budaya.
Linggo juga menjelaskan sebagai salah satu senjata tradisional, Sumpit haruslah dilihat sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan agar tidah hilang ditelan jaman.
Penulis: Meriyanti
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






