SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah Empat Hari Berlalu, Keberadaan Firman Anak Autis di Benteng Belum Ditemukan

Empat Hari Berlalu, Keberadaan Firman Anak Autis di Benteng Belum Ditemukan

Personel BPBD Mempawah saat melakukan pencarian Firman, anak autis, di perairan Kampung Benteng, Kelurahan Terusan, Jumat (1/1/2021). SUARAKALBAR.CO.ID/Ist

Mempawah (Suara Kalbar)-Bima Arung Diokza alias Firman, anak
autis berusia 13 tahun, di Kampung Benteng, Jalan M. Thaha, Kelurahan Terusan, Kecamatan
Mempawah Hilir, yang hilang secara misterius, hingga kini belum ditemukan.

Kasubbid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah, Mulyadi, mengatakan, sejak dinyatakan
hilang pada Selasa, (29/12/2020) pagi, pihaknya bersama Basarnas dan warga setempat,
belum berhasil menemukan keberadaan Firman.

“Kita telah menggunakan segala upaya untuk melakukan
pencarian bersama Basarnas, Potensi SAR dan warga. Pencarian di darat dan air,
bahkan menggunakan drone. Namun Firman belum terlacak,” ujar Mulyadi, Jumat (1/1/2021) siang.

Warga setempat, tambahnya, juga telah menggunakan jasa orang
pintar maupun lauya, namun tetap tak berhasil menemukan anak penderita autis,
buah pasangan Darma dan Mila, warga Kampung Benteng itu.

Mulyadi juga mengatakan, personel Basarnas dan BPBD Mempawah
dalam sehari tiga kali turun melakukan pencarian. Dimulai pukul 05.00-09.00,
pukul 10.00-12.00 dan pukul 15.00-18.00 WIB.

“Namun kita telah berikhtiar, yang bersangkutan (Firman)
hingga kini masih misterius. Pihak keluarga juga terus berdoa. Mudah-mudahan
Allah SWT memudahkan upaya kita semua,” tutup Mulyadi.

Seperti yang diberitakan suarakalbar.co.id, warga Jalan M.
Thaha RT. 26/RW.03, Kampung Benteng, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah
Hilir, dihebohkan dengan menghilangnya seorang anak laki-laki penderita autis,
Selasa (29/12/2020) pagi.

Nama anak tersebut adalah Bima Arung Diokza yang akrab
disapa Firman, usia 13 tahun. Kedua orangtua Bima, yakni Darma, 49 tahun, dan
Mila, 44 tahun, mengatakan, peristiwa hilangnya Bima baru diketahui sekitar
pukul 05.00 WIB.

Ketika itu, Darma yang sejak subuh turun dari rumah untuk
bekerja di pecetakan batako, pulang ke rumah. Rencananya, Darma hendak membawa
istrinya, Mila, ke Puskesmas Mempawah Hilir, untuk berobat. Namun ketika tiba
di rumah, pintu depan masih terkunci.

“Lalu saya masuk lewat pintu belakang untuk membangunkan
istri saya. Ternyata pintu belakang sudah terbuka. Saya dan istri kaget
ternyata anak saya Bima telah tidak ada di kamar,” ungkap Darma dengan nada
pilu.

Niat untuk berobat pun dibatalkan. Darma dan Mila kemudian
berupaya mencari anaknya Bima ke sekeliling kampung. Termasuk di rumah adik
Mila, yang berjarak 100 meter dari rumah mereka. Biasanya, Bima bermain di
situ.

“Namun adik saya mengaku tak ada melihat Bima. Saya pun panik,
lalu terus mencari sampai di steigher tepi laut,” tambah Mila.

Di tepi laut, ada tetangga yang melihat Bima berdiri di
steigher dan terlihat melompat-lompat. Namun warga tak terlalu mengkhawatirkan.

“Sejak pukul 06.00 WIB itu lah, anak kami Bima lalu tak
terlihat lagi. Saya lalu melapor ke warga untuk bersama-sama melakukan
pencarian,” uar Darma.

Bersama 50-an warga, pencarian pun dilakukan di laut
menggunakan sampan dan berjalan kaki menyusuri hutan bakau di sekitar Kampung
Benteng. Namun keberadaan Bima tak kunjung ditemukan.

 

Penulis : Distra

Komentar
Bagikan:

Iklan