SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Universitas Kyoto Luncurkan Buddharoid, Biksu Robot Berbasis AI

Universitas Kyoto Luncurkan Buddharoid, Biksu Robot Berbasis AI

Buddharoid, robot biksu Jepang. (Tokyo Weekender/Tokyo Weekender)

Suara Kalbar – Di tengah tantangan penurunan populasi dan krisis tenaga kerja, sebuah universitas terkemuka di Jepang meluncurkan inovasi yang menggabungkan tradisi spiritual dengan teknologi mutakhir. Universitas Kyoto secara resmi memperkenalkan “robot biksu” bertenaga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang diberi nama Buddharoid.

Diluncurkan pada Selasa (24/2/2026), Buddharoid dirancang untuk meringankan dampak kekurangan biksu Buddha di Negeri Sakura. Robot ini tidak hanya sekadar mesin; ia telah dilatih dengan kitab suci Buddha yang paling kompleks, sehingga mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sensitif yang sering kali sulit ditanyakan manusia kepada sesamanya.

Proyek ini merupakan buah karya terbaru dari Seiji Kumagai, seorang profesor di Institut Penelitian Masa Depan Masyarakat Manusia, Universitas Kyoto. Kumagai mengintegrasikan model AI canggih bernama “BuddhaBotPlus” ke dalam kerangka robot humanoid Unittree G1 buatan Tiongkok.

Dalam demonstrasi di depan awak media, robot tersebut menunjukkan kemampuan motorik yang halus dengan menyatukan kedua tangannya dalam posisi berdoa dan berjalan tenang. Selain aspek fisik, keunggulan utamanya terletak pada kemampuan konselingnya.

Seorang reporter wanita muda sempat meminta nasihat karena merasa terlalu sering cemas dan banyak pikiran (overthinking). Robot itu memberikan jawaban yang menenangkan.

“Buddhisme mengajarkan bahwa penting untuk tidak mengikuti pikiran sendiri secara membabi buta atau terburu-buru dalam melakukan sesuatu,” kata robot itu kepada reporter NHK.

“Salah satu pendekatannya adalah menenangkan pikiran dan melepaskan pikiran-pikiran itu sendiri,” ungkap robot itu.

Tak hanya masalah personal, Buddharoid juga mampu merespons pertanyaan tentang hubungan sosial. Ketika Profesor Kumagai bertanya mengenai hubungan pribadi, sang robot menyarankan agar seseorang menilai kembali tingkat keterikatan dan menjaga keseimbangan batin.

Meskipun pemanfaatan AI dalam ranah religi sedang populer, langkah ini tetap menuai kontroversi di berbagai kalangan agama besar dunia. Universitas Kyoto menyadari bahwa diskusi mendalam mengenai etika penggunaan alat digital dalam praktik keagamaan sangat diperlukan.

Namun, di sisi lain, “biksu robot” dipandang sebagai solusi praktis untuk menjaga rasa kebersamaan di tempat ibadah. Jepang saat ini menghadapi fenomena penuaan penduduk yang ekstrem, yang berdampak pada kosongnya posisi-posisi penting di kuil-kuil tradisional.

“Di masa depan, biksu robot dapat membantu atau menggantikan beberapa upacara keagamaan yang secara tradisional dilakukan oleh biksu manusia,” ungkap pihak Universitas Kyoto.

Langkah ini diprediksi akan menciptakan pergeseran penting dalam budaya keagamaan modern, di mana teknologi menjadi jembatan bagi tradisi yang mulai luntur.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan