Mengapa Emosi Mudah Meledak Saat Ramadan? Ini Penjelasan Psikolog
Suara Kalbar – Psikolog mengungkapkan alasan, mengapa emosi lebih gampang tersulut pada bulan Ramadan. Diketahui kondisi mental ini menjadi pemicu utama sejumlah kecelakaan di Arab Saudi.
Memasuki bulan suci Ramadan, Otoritas Jalan Raya Umum Arab Saudi mengeluarkan peringatan keras bagi para pengguna jalan. Para pengendara diimbau untuk tetap menjaga ketenangan dan emosi, mengingat statistik menunjukkan bahwa perilaku terburu-buru pada jam sibuk sebelum berbuka puasa menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas yang serius.
Seruan ini merupakan bagian dari inisiatif keselamatan jalan raya yang diluncurkan pemerintah setempat. Program ini tidak hanya berfokus pada imbauan, tetapi juga melibatkan ribuan sukarelawan yang mendistribusikan paket makanan buka puasa kepada pengendara dan pejalan kaki. Langkah ini bertujuan agar pengemudi tidak perlu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi hanya karena mengejar waktu iftar di rumah.
Beberapa menit sebelum azan Magrib berkumandang, suasana jalanan di kota-kota besar seperti Jeddah sering kali berubah menjadi arena “perlombaan” yang berbahaya. Suara klakson yang bersahutan, peningkatan kecepatan yang drastis, hingga manuver sembrono menjadi pemandangan umum.
Kelelahan, dehidrasi, dan penurunan konsentrasi akibat berpuasa seharian menjadi faktor krusial yang meningkatkan risiko insiden. “Saya tidak mengerti mengapa mereka berperilaku seperti itu karena puasa seharusnya membuat mereka disiplin diri dan tidak bertindak kasar,” ujar Nasser Al-Mutbagani (52), seorang warga Jeddah.
Ia menekankan bahwa rasa lapar tidak boleh menjadi pembenaran untuk membahayakan nyawa pengguna jalan lain.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Imad Al-Salahba, warga Yordania yang telah menetap di Jeddah selama 12 tahun. Menurutnya, fenomena hilangnya kontrol emosi ini terjadi hampir di mana-mana.
“Sungguh luar biasa bagaimana orang-orang benar-benar kehilangan kendali atas emosi mereka. Saya telah melihat perkelahian di jalan dan di antara orang-orang yang mengantre di supermarket,” kata Imad.
Ia menambahkan bahwa para perokok cenderung lebih mudah marah karena penurunan kadar nikotin dalam darah saat berpuasa.
Senada dengan hal tersebut, Adnan Al-Jabri (28) mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan kesabaran. “Datang terlambat beberapa menit untuk berbuka puasa jauh lebih baik daripada menyebabkan kecelakaan atau melukai orang lain,” tuturnya.
Psikolog klinis, Dr Fahmy Abduljawad, menjelaskan bahwa ledakan amarah jelang berbuka puasa memiliki dasar biologis dan psikologis. Kurang tidur, rasa lapar yang ekstrem, kemacetan, hingga dehidrasi menciptakan tekanan mental yang besar.
“Mengendalikan emosi menjadi masalah beberapa menit sebelum berbuka puasa. Orang-orang lapar, lelah, mengantuk, dehidrasi, dan terburu-buru. Gabungan efek dari semua ini adalah ledakan amarah dan perkelahian,” jelas Dr Fahmy.
Otoritas keamanan terus mengingatkan agar masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal atau berhenti sejenak di pos-pos pembagian takjil gratis jika waktu berbuka telah tiba saat masih di perjalanan. Keselamatan nyawa harus tetap menjadi prioritas utama di atas keinginan untuk sampai di meja makan tepat waktu.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






