SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional Lebaran 2011 Dikenang sebagai “Lebaran Batal”, Takbiran Berubah Jadi Tarawih

Lebaran 2011 Dikenang sebagai “Lebaran Batal”, Takbiran Berubah Jadi Tarawih

Ilustrasi – Nonton Sidang Isbat [int]

Jakarta (Suara Kalbar) – Perayaan Idulfitri tahun 2011 atau 1 Syawal 1432 Hijriah menjadi salah satu momen yang paling dikenang umat Muslim di Indonesia. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “lebaran batal” ini terjadi akibat perbedaan penetapan hari raya antara pemerintah dan sebagian kelompok masyarakat.

Awalnya, banyak warga meyakini Idulfitri akan jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011. Suasana malam pun dipenuhi gema takbir di berbagai masjid dan permukiman. Namun, hasil sidang isbat yang digelar pemerintah pada Senin malam, 29 Agustus 2011, justru menetapkan bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011.

Keputusan tersebut diambil setelah posisi hilal dinyatakan belum memenuhi kriteria visibilitas, yakni masih berada di bawah 2 derajat dan tidak terlihat di sejumlah titik pemantauan. Dengan demikian, bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.

Perubahan mendadak itu membuat suasana malam takbiran berubah drastis. Sejumlah masjid yang semula mengumandangkan takbir kembali menggelar salat tarawih, karena umat Muslim harus melanjutkan puasa satu hari lagi.

Fenomena ini juga berdampak pada tradisi rumah tangga. Banyak keluarga yang telah menyiapkan hidangan khas Lebaran seperti ketupat dan opor ayam sejak sehari sebelumnya. Namun, menu tersebut akhirnya dinikmati sebagai santapan sahur terakhir, sementara aneka kue Lebaran harus “menunggu” sehari lagi untuk disajikan.

Peristiwa ini turut dipengaruhi perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Organisasi Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal pada 30 Agustus 2011 menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi. Sementara pemerintah melalui sidang isbat menggunakan metode rukyat atau pengamatan langsung hilal.

Situasi tersebut menciptakan semacam “plot twist” nasional yang tak terlupakan. Dari gegap gempita takbiran, masyarakat mendadak kembali ke rutinitas Ramadan dengan salat tarawih dan sahur.

Lebaran 2011 pun menjadi catatan tersendiri dalam sejarah perayaan Idulfitri di Indonesia, sekaligus menggambarkan dinamika perbedaan penetapan hari besar keagamaan yang tetap berlangsung dalam semangat toleransi di tengah masyarakat.

Sumber: Berbagai sumber

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan