Lautan ARMY Padati Seoul, Data Penonton Konser BTS Picu Perdebatan
Suara Kalbar – Kerumunan massa dalam jumlah besar memadati pusat kota Seoul untuk merayakan kembalinya grup megabintang BTS. Namun, apa yang seharusnya menjadi perayaan murni kini berubah menjadi perdebatan mengenai angka, setelah estimasi jumlah penonton yang hadir menunjukkan perbedaan hingga lebih dari dua kali lipat antara pihak otoritas dan agensi.
Disebutkan Korea Times, Senin (23/3/2026), grup pelantun lagu populer ini menggelar konser comeback di Gwanghwamun Square pada Sabtu (21/3/2026) malam, menandai peluncuran album penuh kelima mereka yang bertajuk “Arirang.” Acara tersebut menampilkan penampilan perdana lagu utama berjudul “Swim”, serta lagu-lagu hit lama seperti “Butter” dan “Dynamite” yang memukau para penggemar.
Meskipun area lapangan dan jalan-jalan di sekitarnya terlihat sangat padat, perkiraan jumlah kehadiran yang sebenarnya sangat bervariasi tergantung pada sumber datanya. Ketimpangan angka ini memicu perdebatan hangat di media sosial, di mana banyak pihak menyoroti perbedaan metode penghitungan sebagai penyebab utama selisih tersebut.
Berdasarkan data real-time yang dirilis oleh Pemerintah Metropolitan Seoul, sekitar 40.000 hingga 42.000 orang hadir di area Gwanghwamun dan Deoksugung pada pukul 20.00 waktu setempat. Estimasi tidak resmi dari pihak kepolisian juga berada pada kisaran yang serupa, yaitu sekitar 42.000 orang. Mengingat kapasitas tempat duduk resmi hanya sekitar 22.000, pihak berwenang menyatakan, “Total kerumunan, termasuk area sekitarnya, kemungkinan besar tetap berada di kisaran 40.000 orang.”
Sebaliknya, agensi yang menaungi BTS, HYBE, memberikan angka yang jauh lebih besar. Mereka mengklaim sekitar 104.000 orang menghadiri acara tersebut. Pihak perusahaan menjelaskan bahwa angka mereka memperhitungkan koneksi jaringan seluler dari tiga operator besar di Korea, pengunjung asing, hingga pengguna ponsel anggaran. Hal ini menunjukkan metode yang lebih luas yang mencakup akumulasi lalu lintas pejalan kaki selama acara berlangsung, bukan sekadar potret satu waktu.
Pihak otoritas biasanya mengukur berapa banyak orang yang hadir di area tertentu pada saat yang spesifik. Di sisi lain, penyelenggara cenderung memasukkan kerumunan yang bergerak dan populasi di sekitar lokasi dalam kurun waktu tertentu. Perbedaan mendasar inilah yang membuat angka dari pihak agensi melonjak drastis dibandingkan data pemerintah.
Sebelum acara dimulai, beberapa proyeksi memperkirakan bahwa sebanyak 260.000 orang bisa berkumpul dari area panggung hingga Sungnyemun. Namun, jumlah kehadiran nyata tampaknya belum mencapai angka 200.000 hingga 250.000 orang seperti yang terlihat saat perayaan Piala Dunia 2002 silam, yang sering menjadi tolok ukur kerumunan skala besar di Seoul.
Beberapa pengamat berpendapat bahwa kontrol keamanan yang lebih ketat mungkin telah membatasi jumlah kehadiran. Karena kekhawatiran akan potensi kecelakaan kerumunan, pihak berwenang mengirimkan beberapa pesan teks darurat yang menyarankan masyarakat untuk menghindari area tersebut. Kereta bawah tanah bahkan melewati stasiun terdekat tanpa berhenti, ditambah dengan pemeriksaan keamanan yang ditingkatkan.
Meski beberapa kritikus menganggap langkah-langkah tersebut berlebihan, pihak lain berpendapat bahwa tindakan pencegahan seperti itu tidak dapat dihindari mengingat skala acara dan tingginya kesadaran akan keamanan kerumunan saat ini. Terlepas dari perdebatan angka tersebut, satu hal yang disepakati semua pihak: penampilan ini sekali lagi membuktikan kemampuan BTS untuk memadati jantung kota Seoul dengan penggemar setia mereka.
Sumber: Beritasatu.com






