SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Ibu Menyusui Ingin Berpuasa? Ini Panduan Aman Menurut Ahli

Ibu Menyusui Ingin Berpuasa? Ini Panduan Aman Menurut Ahli

Ada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan agar puasa tetap aman tanpa mengganggu produksi ASI maupun tumbuh kembang bayi. (Freepik.com/Freepik)

Suara Kalbar – Puasa Ramadan merupakan ibadah yang sangat dinantikan umat Muslim. Namun, bagi ibu menyusui ada rasa cemas sering muncul, mulai dari produksi air susu ibu (ASI) menurun, bayi kekurangan asupan, hingga kondisi tubuh ibu yang menjadi lemas dan dehidrasi.

Secara medis, ibu menyusui tetap diperbolehkan berpuasa selama kondisi kesehatan ibu dan bayi dalam keadaan baik. Meski demikian, ada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan agar puasa tetap aman tanpa mengganggu produksi ASI maupun tumbuh kembang bayi.

Dihimpun dari berbagai sumber, Sabtu (28/2/2026), berikut panduan lengkap berpuasa aman bagi ibu menyusui.

Bolehkah Ibu Menyusui Berpuasa?

Menurut World Health Organization (WHO), pemberian ASI eksklusif sangat penting bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupan. Namun, WHO tidak secara khusus melarang ibu menyusui untuk berpuasa selama kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan ibu menyusui boleh berpuasa apabila kondisi tubuhnya sehat, bayi tumbuh optimal, dan produksi ASI tetap mencukupi

Dalam ajaran Islam, ibu menyusui juga termasuk golongan yang mendapat keringanan (rukhsah) untuk tidak berpuasa apabila khawatir terhadap kesehatan diri atau bayinya. Artinya, keputusan berpuasa harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu dan bayi.

Dampak Puasa terhadap Produksi ASI

Secara umum, penelitian menunjukkan puasa tidak langsung menghentikan produksi ASI karena tubuh ibu memiliki mekanisme adaptasi yang baik. Namun beberapa hal tetap perlu diperhatikan:

  • Kekurangan cairan dapat menyebabkan dehidrasi
  • Asupan kalori rendah membuat ibu cepat lelah
  • Pola menyusui bisa berubah akibat perubahan jadwal makan

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), produksi ASI lebih dipengaruhi frekuensi menyusui dan pengosongan payudara dibanding jumlah makanan yang dikonsumsi. Meski begitu, kebutuhan energi ibu menyusui lebih tinggi sehingga pengaturan nutrisi selama puasa menjadi sangat penting.

Kiat Aman Berpuasa bagi Ibu Menyusui

Agar puasa tetap aman dan produksi ASI terjaga, berikut sejumlah langkah yang disarankan para ahli kesehatan:

1. Penuhi Kebutuhan Cairan

Dehidrasi menjadi risiko utama saat berpuasa. Ibu menyusui disarankan mengonsumsi sekitar 2,5–3 liter cairan antara berbuka hingga sahur dengan pola sebagai berikut:

  • 2 gelas saat berbuka.
  • 2 gelas setelah makan malam.
  • 2 gelas sebelum tidur.
  • 2 gelas saat sahur.

Air mineral menjadi pilihan terbaik. Batasi minuman berkafein karena dapat menambah risiko dehidrasi.

2. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Ibu menyusui membutuhkan tambahan sekitar 300–500 kalori per hari. Pastikan menu sahur dan berbuka mengandung:

  • Karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal, roti gandum).
  • Protein berkualitas (telur, ayam, ikan, tahu, tempe).
  • Lemak sehat (alpukat, kacang-kacangan).
  • Sayur dan buah kaya serat.

Menurut Kementerian Kesehatan, gizi seimbang tetap penting selama Ramadan untuk menjaga daya tahan tubuh.

3. Tidak Melewatkan Sahur

Sahur menjadi sumber energi utama sepanjang hari. Pilih makanan yang dicerna lebih lambat agar energi bertahan lama, serta tambahkan protein dan cairan yang cukup.

4. Kenali Tanda Bahaya pada Ibu

Segera batalkan puasa jika mengalami pusing berat atau hampir pingsan, mulut sangat kering dan jarang buang air kecil, jantung terasa berdebar cepat, lemas berlebihan karena sejumlah kondisi ini bisa menjadi tanda dehidrasi serius.

5. Rutin Cek Kondisi Bayi

Perhatikan tanda bayi mungkin kekurangan ASI, seperti contohnya bayi lebih rewel dari biasanya, frekuensi buang air kecilnya berkurang, dan berat badan tidak naik sesuai grafik pertumbuhan. IDAI menyarankan untuk melakukan pemantauan berat badan bayi secara rutin.

6. Istirahat Cukup

Kurang tidur dapat memengaruhi stamina dan hormon produksi ASI. Usahakan tidur siang singkat dan hindari aktivitas fisik berat selama berpuasa.

7. Konsultasi dengan Dokter

Jika bayi berusia di bawah enam bulan atau lahir prematur, konsultasi dengan dokter anak atau konselor laktasi sangat dianjurkan sebelum memutuskan berpuasa.

Siapa yang Sebaiknya Tidak Berpuasa?

Ibu menyusui disarankan menunda puasa apabila bayi lahir prematur, produksi ASI rendah, bayi mengalami gangguan pertumbuhan dan ibu memiliki penyakit tertentu seperti diabetes, anemia berat, atau gangguan tiroid. Perlu diingat, dalam Islam, sesungguhnya kesehatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama.

Kiat aman berpuasa bagi ibu menyusui fokus pada tiga hal utama, yaitu kecukupan cairan, asupan gizi seimbang, serta pemantauan kondisi ibu dan bayi.

Secara umum, ibu menyusui boleh berpuasa selama kondisi kesehatan mendukung dan tidak mengganggu produksi ASI. Namun, jika muncul tanda dehidrasi, penurunan ASI, atau gangguan pada bayi, stop berpuasa merupakan langkah bijak dan diperbolehkan secara medis maupun agama.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan