SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Kuliner Bodo Kupat, Tradisi Masyarakat Jawa Sarat Makna Filosofis dan Spiritualitas

Bodo Kupat, Tradisi Masyarakat Jawa Sarat Makna Filosofis dan Spiritualitas

Ketupat dan Lepat [Dok Foto 2017/AI]

Suara Kalbar – Tradisi Bodo Kupat atau Lebaran Ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Jawa yang dirayakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen kebersamaan, tetapi juga sarat makna filosofis dan nilai spiritual.

Bodo Kupat dikenal luas sebagai penanda berakhirnya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Tradisi ini diyakini mulai dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga sebagai bagian dari dakwah Islam melalui pendekatan budaya lokal pada masa Walisongo, khususnya di era Kesultanan Demak.

Secara filosofis, ketupat atau kupat memiliki makna mendalam. Istilah “kupat” diartikan sebagai “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Anyaman janur yang membungkus ketupat melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sementara isi beras putih di dalamnya mencerminkan hati yang bersih setelah saling memaafkan.

Selain itu, santan yang digunakan dalam hidangan khas seperti opor ayam atau sambal goreng dimaknai sebagai “pangapunten” atau permohonan maaf. Filosofi ini memperkuat esensi Bodo Kupat sebagai momentum introspeksi diri dan mempererat hubungan antarsesama.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat biasanya memasak ketupat dalam jumlah besar yang kemudian disajikan bersama hidangan bersantan. Kegiatan lain yang turut mewarnai tradisi ini antara lain ziarah kubur, selamatan, hingga kenduri di masjid atau musholla.

Tak hanya itu, tradisi berbagi makanan kepada tetangga dan kerabat juga menjadi bagian penting sebagai wujud syukur dan mempererat silaturahmi. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan sangat terasa dalam setiap rangkaian kegiatan Bodo Kupat.

Tradisi ini hingga kini masih kuat dilestarikan, terutama di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bodo Kupat bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan simbol refleksi spiritual dan penguatan nilai-nilai persaudaraan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Dengan berbagai makna yang terkandung di dalamnya, Bodo Kupat menjadi warisan budaya yang terus hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat, sekaligus menjadi pengingat pentingnya saling memaafkan dan menjaga keharmonisan sosial.

Sumber: Berbagai sumber

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan