Studi Ungkap Night Owls Lebih Rentan Alami Penyakit Jantung
Suara Kalbar – Sebuah studi jangka panjang berskala besar baru-baru ini mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai hubungan antara jam biologis tubuh dengan kesehatan jantung. Orang dewasa yang lebih suka beraktivitas hingga larut malam, atau yang sering disebut sebagai night owls, ditemukan memiliki kesehatan kardiovaskular yang lebih buruk dibandingkan mereka yang bangun lebih awal.
Dikutip Science Daily, Sabtu (31/1/2026), penelitian ini memberikan peringatan khusus bagi masyarakat usia menengah dan lansia untuk lebih memperhatikan ritme harian mereka. Studi yang menganalisis data dari UK Biobank terhadap lebih dari 300.000 orang ini menemukan bahwa mereka yang mengidentifikasi diri sebagai “orang malam” memiliki risiko 79% lebih tinggi untuk mendapatkan skor kesehatan jantung yang buruk.
Selain itu, kelompok ini juga menghadapi risiko 16% lebih tinggi terkena serangan jantung atau strok dalam periode pemantauan selama 14 tahun.
“Menariknya, dampak negatif dari kebiasaan bergadang ini terlihat jauh lebih kuat pada wanita dibandingkan pria,” tulis Science Daily.
Para peneliti menggunakan parameter Life’s Essential 8 dari American Heart Association untuk mengukur kesehatan jantung peserta. Parameter ini mencakup pola makan, aktivitas fisik, status merokok, kualitas tidur, berat badan, kadar kolesterol, gula darah, serta tekanan darah. Hasilnya menunjukkan bahwa para pengidap kronotipe malam seringkali gagal memenuhi standar kesehatan di hampir semua kategori tersebut.
Mengapa menjadi “orang malam” begitu berisiko? Menurut Dr Sina Kianersi dari Harvard Medical School, masalah utamanya terletak pada ketidaksesuaian sirkadian. Ini adalah kondisi di mana jam biologis internal tubuh tidak selaras dengan siklus terang-gelap alami atau jadwal harian sosial.
Ketidakteraturan ini memicu perilaku yang merusak jantung, seperti kualitas diet yang rendah, kebiasaan merokok sebagai kompensasi rasa lelah, dan waktu tidur yang tidak mencukupi. Selain masalah perilaku, ketidaksesuaian sirkadian juga dapat mengganggu metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Ketika seseorang memaksa tubuh tetap aktif saat organ-organ seharusnya beristirahat, tekanan darah dan kadar gula darah cenderung menjadi lebih sulit dikendalikan. Hal inilah yang dalam jangka panjang merusak pembuluh darah dan memperberat kerja jantung.
Namun, temuan ini tidak lantas berarti bahwa menjadi “orang malam” adalah sebuah vonis kesehatan yang buruk. Dr Kristen Knutson dari American Heart Association menjelaskan bahwa risiko ini bersifat modifiable atau dapat diubah.
“Orang malam tidak secara inheren kurang sehat, tetapi mereka menghadapi tantangan lingkungan yang lebih besar,” ujarnya.
Kuncinya adalah dengan secara sadar memperbaiki gaya hidup meskipun memiliki kecenderungan tidur larut. Salah satu solusi yang ditawarkan para ahli adalah penyesuaian gaya hidup yang lebih disiplin.
Bagi para night owls, sangat penting untuk tetap menjaga kualitas makanan dan memastikan durasi tidur tetap tercukupi meski waktu mulainya terlambat. Selain itu, penghentian penggunaan nikotin menjadi faktor paling krusial yang dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan bagi kelompok ini.
Ke depannya, para peneliti menyarankan agar dunia medis mulai mempertimbangkan kronotipe pasien dalam menentukan waktu pengobatan. Beberapa terapi atau obat-obatan tertentu diketahui bekerja lebih efektif jika diberikan sesuai dengan ritme sirkadian spesifik seseorang. Dengan pendekatan yang lebih personal ini, diharapkan risiko serangan jantung di masa depan dapat ditekan, bahkan bagi mereka yang secara alami memang lebih aktif di malam hari.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






