SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Sejarah Barongsai: Dari Legenda Nian hingga Jadi Olahraga Resmi di Indonesia

Sejarah Barongsai: Dari Legenda Nian hingga Jadi Olahraga Resmi di Indonesia

Ilustrasi barongsai. (Pexels/Vlad Vasnetsov)

Suara Kalbar – Perayaan Tahun Baru Imlek di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, selalu identik dengan warna merah, lampion, petasan, serta pertunjukan barongsai.

Pada pusat perbelanjaan, kelenteng, hingga ruang publik terbuka, tarian singa ini tampil memukau dengan gerakan akrobatik dan iringan tabuhan drum yang menggema.

Bagi banyak orang, barongsai bukan sekadar hiburan. Ia merupakan simbol keberuntungan, harapan baik, serta doa untuk kemakmuran di awal tahun baru.

Namun di balik kemeriahannya, barongsai memiliki sejarah panjang yang melintasi ribuan tahun dan mengalami dinamika sosial-politik sebelum akhirnya menjadi bagian penting dari budaya Indonesia modern.

Apa Itu Barongsai?

Barongsai adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk menyebut tarian singa atau lion dance. Pertunjukan ini menggunakan kostum singa besar yang dimainkan oleh dua orang penari, satu mengendalikan kepala, satu lagi menggerakkan tubuh dan ekor.

Dalam bahasa Mandarin, tarian ini dikenal sebagai Wu Shi yang berarti “tarian singa”, sedangkan secara internasional disebut lion dance. Biasanya barongsai tampil berpasangan dan diiringi musik energik dari gendang, simbal, gong, dan alat musik tradisional lainnya.

Nama “barongsai” mencerminkan akulturasi budaya. Kata “sai” berasal dari dialek Hokkien yang berarti singa, sementara “barong” terdengar mirip dengan istilah lokal Indonesia. Perpaduan ini menunjukkan bagaimana tradisi Tionghoa berinteraksi dan beradaptasi dengan budaya Nusantara.

Barongsai bukan sekadar atraksi seni, tetapi juga mengandung nilai sejarah, filosofi, serta makna sosial budaya yang kuat.

Asal-usul Lion Dance di Tiongkok

Sejarah barongsai berakar dari tradisi Tiongkok kuno yang telah berkembang selama ribuan tahun. Tarian singa menjadi bagian penting dalam berbagai upacara tradisional, terutama saat Tahun Baru Imlek dan festival besar lainnya.

Dalam budaya Tionghoa, singa melambangkan keberanian, kekuatan, kewibawaan, dan pembawa keberuntungan. Pertunjukan barongsai dipercaya mampu mengusir roh jahat serta mendatangkan kemakmuran dan kesehatan bagi komunitas.

Salah satu legenda yang sering dikaitkan dengan asal-usul barongsai adalah kisah makhluk bernama Nian. Diceritakan Nian muncul setiap musim dingin untuk meneror desa.

Masyarakat kemudian menemukan bahwa makhluk tersebut takut pada suara keras dan warna cerah. Dari sinilah berkembang tradisi menggunakan tabuhan drum, simbal, dan kostum berwarna mencolok untuk mengusir nasib buruk.

Hingga kini, unsur tersebut tetap menjadi bagian utama dalam setiap pertunjukan barongsai.

Sejarah Barongsai di Indonesia

Barongsai masuk ke Indonesia melalui imigran Tionghoa pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Komunitas Tionghoa membawa serta tradisi lion dance dan mengembangkannya di berbagai kota, seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya.

Namun perjalanan barongsai di Indonesia tidak selalu mulus. Pada masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, hampir seluruh ekspresi budaya Tionghoa, termasuk barongsai, dilarang tampil di ruang publik sebagai bagian dari kebijakan politik saat itu.

Larangan tersebut baru dicabut pada 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sejak saat itu, barongsai kembali dapat ditampilkan secara terbuka.

Setelah pelarangan dicabut, barongsai mengalami kebangkitan besar di Indonesia. Banyak kelompok baru bermunculan, dan pertunjukan ini tidak lagi eksklusif di komunitas Tionghoa.

Kini, barongsai tampil dalam berbagai acara, seperti perayaan Imlek, pembukaan gedung atau usaha, festival budaya, event nasional, dan kompetisi olahraga.

Sejak 2013, barongsai bahkan diakui sebagai olahraga resmi di bawah Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI). Tim Indonesia pun telah meraih prestasi dalam kompetisi internasional.

Perbedaan Barongsai dengan Tari Barong Lain di Indonesia

Istilah “barong” dalam budaya Indonesia juga muncul dalam konteks lain, sehingga perlu dibedakan dari barongsai Tionghoa. Beberapa perbedaan penting:

  • Tari Barong Bali: Mengisahkan pertarungan simbolis antara kebaikan dan kejahatan dalam mitologi Bali.
  • Reog Ponorogo: Menampilkan figur singa besar sebagai bagian dari tradisi lokal Jawa Timur.

Meski sama-sama menggunakan figur mirip singa atau makhluk mitologis, barongsai memiliki akar budaya, filosofi, dan sejarah yang berbeda dari kedua kesenian tersebut.

Makna dan Simbolisme Barongsai

Barongsai tidak hanya menyajikan atraksi akrobatik yang memukau. Di dalamnya terkandung simbolisme kuat, antara lain:

  • Pengusir roh jahat: Berakar dari kepercayaan tradisional Tionghoa.
  • Pembawa keberuntungan dan kemakmuran: Sering ditampilkan saat Tahun Baru Imlek, pernikahan, atau pembukaan usaha.
  • Simbol kekuatan dan kebijaksanaan: Singa dianggap sebagai hewan yang berwibawa dan penuh keberanian.
  • Wadah identitas budaya: Menjadi simbol dialog lintas budaya di masyarakat Indonesia yang majemuk.

Meski kini barongsai semakin populer, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga teknik tradisional agar tidak hilang, menarik minat generasi muda, dan menjaga nilai filosofis di tengah komersialisasi.

Sejumlah kelompok barongsai aktif bekerja sama dengan sekolah dan komunitas untuk memperkenalkan seni ini sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Langkah ini penting agar barongsai tidak hanya menjadi atraksi musiman, tetapi juga dihormati sebagai warisan budaya yang hidup dan berkembang.

Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mengakui barongsai sebagai cabang olahraga resmi melalui FOBI. Dalam kompetisi, terdapat kategori penilaian yang ketat, meliputi teknik gerakan, sinkronisasi, kesulitan akrobatik, serta ekspresi dan artistik.

Kejuaraan dunia barongsai telah menjadi ajang prestasi internasional, menandai transformasi tarian tradisional menjadi cabang olahraga kompetitif tanpa kehilangan akar budayanya.

Sebagai pertunjukan yang sarat filosofi, barongsai bukan hanya tontonan atraktif. Ia mencerminkan perjalanan panjang budaya yang bermigrasi, beradaptasi, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan