Personel Coffternoon Kenang Wing sebagai Sahabat dan Pencipta Karya: Paling Setia Kawan
Pontianak (Suara Kalbar) – Dunia musik Kalimantan Barat kehilangan salah satu sosok pentingnya. Edwin Setyadi Raharja, vokalis sekaligus figur sentral band Coffternoon yang akrab disapa Wing, meninggal dunia pada Senin,(3/2/2026), di Malang, Jawa Timur. Almarhum dimakamkan sehari kemudian, Selasa (4/2/2026).
Kepergian Wing meninggalkan duka mendalam bagi para personel Coffternoon. Dalam wawancara pada Selasa (4/2/2026), tiga personel Coffternoon yang tersisa Ajir, Galih, dan Rio Kacang mengenang Wing sebagai sosok yang tidak hanya berperan penting dalam band, tetapi juga dalam kehidupan mereka secara personal.
Ajir menyebut Wing sebagai pribadi yang penuh kebaikan dan selalu mengutamakan orang lain. Menurutnya, hampir setiap langkah yang diambil Wing selalu berangkat dari kepedulian terhadap sesama.
“Kalau secara pribadi, memang nggak bisa kita lupakan kebaikan dia. Setiap langkah dia itu selalu untuk kebaikan kawan-kawan,” ujar Ajir.
Wing juga dikenal sebagai sosok yang sangat setia kawan. Galih mengungkapkan, Wing kerap berada di garis depan saat ada rekan yang sakit, tertimpa musibah, hingga meninggal dunia. Ia bahkan sering menjadi penggerak awal penggalangan dana dan berbagai aksi solidaritas.
“Dia itu orang paling setia kawan. Kalau ada apa-apa, Wing selalu ada. Itu Wing yang kami kenal,” kata Galih.
Kedekatan Wing dengan personel Coffternoon telah terjalin sejak lama. Ajir mengenalnya sejak 2009, ketika keduanya aktif berkesenian di Taman Budaya Pontianak. Dari pertemanan tersebut, proses kreatif Wing berkembang hingga akhirnya melahirkan Coffternoon sebagai sebuah band.
Dalam perjalanan Coffternoon, Wing memegang peran penting sebagai penulis lagu utama. Hampir seluruh karya Coffternoon lahir dari tangannya, termasuk lagu-lagu yang dikenal luas seperti Amira, Sepanjang Hari, dan Disudut Pontianak. Kekuatan diksi dan kedalaman makna dalam lirik-liriknya membuat personel lain sepenuhnya mempercayakan urusan penulisan lagu kepadanya.
“Setiap kali dia bikin tulisan baru, kami selalu jatuh cinta. Sampai aku sendiri di Coffternoon nggak berani nulis lirik, karena nggak mungkin lebih bagus dari dia,” tambah Ajir.
Salah satu momen yang paling dikenang adalah proses penciptaan lagu Disudut Pontianak, yang digarap hanya dalam waktu dua hari untuk mengejar momentum peringatan ulang tahun Kota Pontianak. Ide tersebut sepenuhnya datang dari Wing, yang dikenal selalu ingin merespons momen penting dengan sebuah karya.
Meski Coffternoon telah lama vakum, para personelnya menegaskan band ini tidak pernah resmi bubar. Namun mereka mengakui, kepergian Wing membuat Coffternoon tak lagi bisa berjalan seperti sebelumnya.
“Menurut aku pribadi, wajah Coffternoon itu ya Wing. Nggak ada vokalis lain yang bisa menggantikan dia,” tegas Ajir.
Kini, Coffternoon menyisakan tiga personel yakni Ajir, Galih, dan Rio Kacang. Meski demikian, mereka sepakat Coffternoon akan tetap hidup melalui karya-karya yang telah ditinggalkan Wing.
“Harapan kami, lagu-lagu Coffternoon sampai kapan pun tetap didengar. Di situlah cara kami mengenang Wing, mengenang karya-karyanya,” tutup Ajir.
Penulis: Meriyanti






