Karhutla di Jalan Bandara Singkawang, Lima Hektare Lahan Gambut Terbakar
Singkawang (Suara Kalbar) – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Jalan Bandara Singkawang, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, masih terus dilakukan. Hingga Senin (2/2/2026), api dilaporkan belum berhasil dipadamkan sepenuhnya meski penanganan telah berlangsung sejak Minggu (1/2/2026).
Dandru Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Ersan, menyampaikan bahwa kebakaran terjadi di lahan gambut dengan vegetasi berupa pakis, akasia, kelapa sawit, dan semak belukar. Pada hari pertama, luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar lima hektare, namun area yang berhasil dipadamkan baru sekitar setengah hektare.
“Pada hari pertama penanganan, luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar lima hektare. Sementara yang berhasil dipadamkan baru sekitar 0,5 hektare, dan hingga sore hari api masih aktif dengan kepulan asap cukup tebal,” ujar Ersan.
Ia menambahkan, lahan yang terbakar merupakan milik masyarakat dan berada dalam kawasan APL (Areal Penggunaan Lain).
Operasi pemadaman darat melibatkan 46 personel gabungan dari Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Koramil Singkawang Selatan, Masyarakat Peduli Api (MPA) Padang Cemara Sedau, Kompi Brimob Singkawang, Polres Singkawang, Polsek Singkawang Selatan, BPBD Kota Singkawang, serta MPA RT 59 Kelurahan Roban.
Ia menjelaskan dalam pelaksanaannya, tim didukung berbagai sarana dan prasarana seperti mesin pompa air, selang hisap dan selang kirim, kendaraan pengangkut personel, serta peralatan manual pemadam kebakaran. Sumber air diperoleh dari parit terdekat dengan lebar sekitar satu meter dan kedalaman kurang lebih satu meter.
“Petugas menerapkan teknik lokalisir serta pemotongan sisi api untuk menahan laju rambatan kebakaran dan mengurangi dampak asap yang menghambat pergerakan personel. Jenis kebakaran yang dihadapi merupakan kebakaran permukaan dan kebakaran bawah tanah (ground fire),” ungkapnya.
Ersan mengungkapkan, kondisi cuaca menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman.
“Kecepatan angin sekitar 11 kilometer per jam ditambah bahan bakar yang masih tebal cukup menyulitkan upaya pemadaman. Oleh karena itu, kegiatan pemadaman akan kami lanjutkan hingga api benar-benar padam,” tegasnya.
Penulis: Serawati






