SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak Beny Than Heri dan Jalan Panjang Merawat Kota Pontianak

Beny Than Heri dan Jalan Panjang Merawat Kota Pontianak

: Potret Beny Than Heri saat menanam bibit pohon di Pontianak pada Senin (22/12/2025) lalu. SUARAKALBAR.CO.ID/Instagram @benythanheri

Di Pontianak, perubahan tidak selalu datang dari rapat resmi atau proyek berskala besar. Kadang, ia tumbuh diam-diam dari satu pohon yang ditanam tanpa seremoni, dari parit yang dibersihkan bersama warga, atau dari kampung yang ditata perlahan agar lebih layak dihuni. Di balik kerja-kerja sunyi itu, ada nama Beny Than Heri.

Penulis: Maria

Pontianak (Suara Kalbar) – Beny Than Heri (40) bukan pejabat publik. Ia juga tidak berdiri di balik podium kebijakan. Namun bagi banyak warga, namanya lekat sebagai sosok yang konsisten mengalokasikan diri untuk Kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat (Kalbar), terutama dalam isu lingkungan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Julukan “local hero” muncul bukan karena klaim pribadi, melainkan dari jejak panjang kerja-kerja komunitas yang ia rawat sejak dua dekade terakhir.

Keterlibatan Beny dalam aktivitas sosial bermula sejak ia berstatus mahasiswa di Pontianak pada 2002.

“Sebenarnya mulai bergerak itu sejak saya kuliah di Pontianak tahun 2002,” katanya saat ditemui di sebuah warung kopi di Pontianak pada Jumat (16/01/2026) sore.

Saat itu, ia aktif di berbagai organisasi kampus seperti Silva, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), hingga Korps Sukarela (KSR) PMI Indonesia. Pengalaman berorganisasi tersebut membentuk kepekaannya terhadap persoalan sosial.

Selepas kuliah, Beny mulai terlibat lebih jauh dalam gerakan kemanusiaan. Pada 2009, ia mendirikan komunitas Darah Segar Pontianak. Dari komunitas ini lahir berbagai kegiatan sosial, salah satunya yang membantu warga sakit melalui penggalangan dana.

“Kami sebenarnya komunitas yang awal-awal menggalang dana di jalan,” ujar Beny sambil tersenyum, mengenang awal perjalanannya.

Gerakan tersebut sempat menuai kesalahpahaman dan berujung penertiban, meski akhirnya dapat dijelaskan karena organisasi dan pelaporannya jelas.

Menanam Pohon sebagai Jalan Perubahan

Sekitar 2013-2014, arah gerak Beny mulai menguat pada isu lingkungan. Ia membangun komunitas lingkungan dan menginisiasi kegiatan penanaman pohon serta bersih-bersih parit, salah satunya melalui Gerakan Senyum Kapuas. Dari gerakan ini, ribuan pohon telah ditanam di Pontianak dan sejumlah wilayah lain di Kalimantan Barat.

“Mulai dari situ kami sudah menanam ribuan pohon,” katanya.

Bagi Beny, menanam pohon adalah bentuk gerakan yang paling mungkin dilakukan oleh siapa saja.

“Kenapa pohon? Karena itu sebenarnya gerakan yang bisa kita lakukan dengan mudah dan murah,” ujarnya.

Ia terbiasa menanam pohon seorang diri, tanpa menunggu agenda besar atau seremoni.

“Misalnya, setelah ada kegiatan, setelah kerja, saya menanam lima pohon,” katanya.

Lokasi penanaman pun beragam, mulai dari halaman rumah, pinggir bangunan pemerintah, hingga kawasan hutan kota. Dari kebiasaan itu, Beny merumuskan tiga pola gerakan lingkungan: gerakan sendiri, gerakan komunitas kecil, dan gerakan kolaboratif yang melibatkan banyak pihak.

“Tujuannya satu, bagaimana kualitas lingkungan hidup kita semakin meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, gerakan lingkungan tidak boleh terhambat persoalan biaya atau kerumitan teknis. Karena itu, ia memilih aktivitas yang bisa dilakukan secara sukarela, murah, dan berkelanjutan.

Kampung Caping dan Budaya yang Menghidupi

Gerakan Beny kemudian berkembang melampaui isu lingkungan semata. Sejak 2018, ia terlibat aktif dalam pengembangan Kampung Wisata Budaya Caping di Pontianak. Kawasan ini ditata dengan pendekatan budaya Melayu, lingkungan, dan ekonomi kreatif.

“Di Kampung Caping ini tidak sekadar kita mengembangkan budaya, khususnya budaya Melayu,” kata Beny.

Baginya, budaya tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga harus memberi manfaat ekonomi bagi warga.

“Bagaimana dari budaya itu menghasilkan cuan untuk masyarakat,” ujarnya.

Dari gagasan tersebut lahir berbagai paket wisata berbasis budaya, seperti makan saprahan, melukis dan membuat caping, permainan tradisional, hingga susur sungai. Prinsip yang dipegang Beny sederhana namun tegas: budaya harus hidup, dan budaya juga harus menghidupi.

Sampah, Ekonomi Hijau, dan Anak Muda

Seiring waktu, perhatian Beny, tertuju pada persoalan sampah yang kian mendesak di Pontianak. Melalui pembentukan Koperasi EKA (Ekosistem Kreatif Hijau Khatulistiwa), ia berupaya mengubah persoalan sampah menjadi peluang ekonomi.

“Bagaimana dari masalah itu kita bisa mengubahnya menjadi cuan,” katanya.

Di saat yang sama, Beny menggagas Gerakan Satu Pohon Indonesia yang diluncurkan pada 28 Oktober 2025. Gerakan ini mengajak anak muda menanam satu pohon per orang per tahun.

“Satu pemuda, satu pohon. Satu tahun untuk satu bumi. Bayangkan, anggaplah anak muda di Kalbar ini ada 1 juta orang, dalam setahun kita bisa menanam 1 juta pohon. Itu hanya satu pohon, tidak lebih,” ujarnya bersemangat.

Gerakan ini dilengkapi dengan sistem barcode dan laman satupohonindonesia.com untuk mengedukasi masyarakat mengenai jenis dan manfaat pohon yang ditanam.

Bagi Beny, persoalan lingkungan Pontianak tidak berhenti pada sampah. Pencemaran badan air, rusaknya ekosistem gambut, serta minimnya ruang terbuka hijau menjadi tantangan serius. Ia menilai gambut harus dijaga sebagai kawasan lindung karena berfungsi sebagai penahan banjir alami.

“Gambut ini sebagai spons yang bisa melindungi Pontianak juga dari banjir,” katanya.

Komitmennya pada gerakan kolaboratif juga membawanya terlibat dalam Ekosistem Kawasan Gaharu Pontianak, sebuah inisiatif yang didorong oleh Ashoka Indonesia. Gerakan ini tumbuh di Kampung Yuka, di tepian Sungai Kapuas, sebagai upaya membangun kampung berbasis pemberdayaan warga.

Dalam ekosistem tersebut, para changemakers, komunitas, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga pelaku usaha bergandeng tangan membangun kawasan yang adil, lestari, dan bermartabat melalui gotong royong, pengetahuan lokal, dan inovasi sosial.

Di dalamnya, Beny berperan sebagai salah satu ecosystem builder atau penggerak yang merajut koneksi antar individu dan komunitas agar perubahan tidak berjalan sendiri-sendiri. Peran itu selaras dengan pola gerakan yang selama ini ia bangun: memulai dari langkah kecil, lalu menghubungkannya dalam jejaring yang lebih luas.

Bertahan di Pontianak

Beny bukan warga asli yang lahir dan besar di Pontianak. Ia berasal dari Ketapang, yang berjarak sekitar 12 jam perjalanan darat dari Kota Pontianak. Meski demikian, ia memilih menetap dan berkarya di kota ini.

“Karena ‘dapur’ kita sudah di Pontianak, sudah nyaman di sini,” ujarnya tersenyum.

Selain aktif dalam kerja-kerja komunitas, Beny juga menjalankan usaha berbasis produk lingkungan. Namun jalan yang ditempuhnya tidak selalu mudah.

“Kita harus banyak berkorban, berkorban waktu, berkorban macam-macam,” ujarnya.

Baginya, keberhasilan tidak diukur dari seremonial penanaman, melainkan dari pohon-pohon yang tumbuh bertahun-tahun kemudian.

“Keberhasilan program itu bukan saat kita menanam pohon sebenarnya, tapi saat pohon itu sudah tumbuh lima-enam tahun ke depan,” katanya.

Beny di Mata Warga

Kerja-kerja yang dilakukan Beny tidak berhenti pada program atau angka penanaman. Dampaknya terasa di tengah warga, salah satunya di Kampung Caping. Sinta Devianti, penggerak Kampung Caping sekaligus Sekretaris Pokdarwis Kampung Caping Pontianak, mengenal Beny sejak 2018 saat masih menjadi relawan Akademi Ide Kalimantan.

“Saya cukup mengenal Bang Beny sebagai salah satu penggerak kegiatan sosial dan lingkungan di Kampung Caping Pontianak. Beliau aktif mendorong gotong royong, bersih-bersih lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta memimpin komunitas yang melibatkan warga agar lebih peduli terhadap kampung,” ujarnya.

Menurut Sinta, perubahan paling terasa bukan hanya pada tampilan fisik kampung yang lebih tertata, tetapi juga pada kesadaran warganya.

“Lingkungan jadi lebih rapi dan warga lebih sering bergotong royong. Sekarang warga tidak lagi menunggu disuruh. Saat ada kegiatan bersih lingkungan atau acara kampung, partisipasinya jauh lebih ramai dibanding sebelumnya,” katanya.

Ia menilai kekuatan Beny terletak pada pendekatan personalnya.

“Bang Beny tidak memerintah, tapi mengajak dan memberi contoh langsung. Cara komunikasinya santai tapi mengena, dan beliau mudah berbaur dengan semua kalangan,” ujarnya.

Sinta berharap gerakan tersebut terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak generasi muda, serta memberi dampak yang lebih luas hingga menginspirasi kampung-kampung lain.

Pada akhirnya, apa yang dilakukan Beny mungkin tampak sederhana, menanam pohon, membersihkan parit, menata kampung, atau mengajak warga duduk bersama. Namun dari langkah-langkah kecil itu, tumbuh perubahan yang perlahan mengakar.

Jika bagi Beny menanam pohon adalah tentang masa depan lima atau enam tahun mendatang, bagi warga, hasilnya sudah terasa hari ini yaitu lewat lingkungan yang lebih bersih, kampung yang lebih hidup, dan kebersamaan yang kembali menemukan ruangnya di Kota Pontianak.

Komentar
Bagikan:

Iklan