AS Disebut Ajukan Syarat Sulit dalam Perundingan Nuklir Berisiko Tinggi dengan Iran di Jenewa
Washington (Suara Kalbar) – Dalam putaran terbaru perundingan nuklir Amerika Serikat (AS)-Iran di Jenewa, AS mengajukan kesepakatan yang mengharuskan Teheran membongkar tiga fasilitas nuklir utamanya dan memindahkan seluruh cadangan uranium yang diperkaya kepada AS, lapor The Wall Street Journal pada Kamis (26/2/2026).
Gedung Putih bersikeras agar Iran menghentikan operasional di situs-situs penting mereka di Fordow, Natanz, dan Isfahan dan menerima kesepakatan tanpa tenggat waktu, yang bertujuan memblokir secara permanen akses Iran untuk mengembangkan senjata nuklir, urai laporan itu mengutip pernyataan sejumlah pejabat AS.
Pemerintahan Donald Trump menginginkan setiap kesepakatan berlaku tanpa batas waktu yang secara bertahap menghapus pembatasan di bawah kesepakatan nuklir 2015, dengan alasan perjanjian awal terlalu lemah, kata laporan itu, menambahkan bahwa Gedung Putih kini menghadapi tekanan dari kelompok garis keras di Washington agar tidak menerima persyaratan yang dapat digambarkan sebagai versi yang lebih lunak dari kesepakatan sebelumnya.
AS hanya menawarkan pelonggaran sanksi terbatas pada awal setiap kesepakatan, dengan kemungkinan pengurangan lebih lanjut jika Iran mematuhi ketentuan dari waktu ke waktu, urai laporan tersebut.
Iran menegaskan haknya untuk memperkaya uranium, namun berupaya meredakan ketegangan dengan AS melalui pengajuan sejumlah usulan, termasuk menurunkan kadar pengayaan hingga 1,5 persen dari sebelumnya yang hingga 60 persen, menghentikan sementara proses pengayaan selama beberapa tahun, atau memproses uranium melalui konsorsium Arab-Iran yang berbasis di Iran, menurut laporan tersebut.
AS menuntut penghentian pengayaan uranium sepenuhnya, namun tim negosiasi mereka kemungkinan bersedia mengizinkan Iran mengoperasikan kembali reaktor nuklir di Teheran yang dapat memproses pengayaan uranium dengan kadar sangat rendah untuk tujuan medis, papar laporan tersebut, mengutip pernyataan sejumlah pejabat AS.
Untuk saat ini, Iran sedang tidak melakukan pengayaan uranium, ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu (25/2), sembari menyatakan bahwa dua lokasi pengayaan uranium utama milik Iran mengalami kerusakan parah akibat serangan Israel dan AS pada Juni tahun lalu.
Meski perundingan di Jenewa sebagian besar berfokus pada kemampuan nuklir Teheran, Washington juga berupaya membahas program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok proksi regional.
Dalam pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2) malam, Trump mengatakan Iran sedang mengembangkan rudal balistik jarak jauh yang dapat menjangkau AS dalam waktu dekat.
“Saya tidak akan berspekulasi sejauh mana kemampuan mereka, tetapi mereka jelas berupaya mengembangkan rudal balistik antarbenua,” ujar Marco Rubio kepada para reporter pada Rabu. “Dan menurut saya, keengganan Iran untuk membahas rudal balistik merupakan masalah besar, sangat besar. Dan saya tidak akan menambahkan lebih lanjut.”
Utusan AS Steve Witkoff menyampaikan dalam sebuah pertemuan tertutup pada Selasa bahwa jika kesepakatan nuklir AS-Iran tercapai, Gedung Putih ingin menggelar perundingan lanjutan soal program rudal Iran dan dukungannya terhadap milisi proksi, lapor Axios.
Dalam kesepakatan nuklir 2015 yang dicapai pada masa kepresidenan Barack Obama, sebagian besar pembatasan terhadap program nuklir Iran dijadwalkan berakhir secara bertahap antara delapan hingga 25 tahun setelah kesepakatan tersebut diteken. Iran juga berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Pemerintahan AS telah mengerahkan pasukan militer besar-besaran di Timur Tengah. Trump pada Senin (23/2) memperingatkan dirinya lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi jika kesepakatan tidak tercapai, “itu akan menjadi hari yang sangat buruk” bagi negara tersebut, merujuk pada kemungkinan serangan AS. Teheran memperingatkan bahwa setiap serangan akan memicu balasan berskala besar.
Sumber: Xinhua
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






