Sahur atau Mandi Wajib Dulu? Ini Penjelasan Hukum dan Dalilnya
Suara Kalbar- Mandi wajib sering menjadi topik pertanyaan ketika Ramadan tiba. Tidak sedikit umat muslim yang bertanya, apakah harus makan sahur terlebih dahulu atau melakukan mandi wajib (ghusl) sebelum waktu sahur?
Pertanyaan ini penting, khususnya bagi mereka yang berada dalam kondisi hadas besar (junub) akibat hubungan suami-istri, mimpi basah, maupun bagi perempuan yang baru selesai haid atau nifas.
Agar tidak keliru dalam menjalankan ibadah, berikut penjelasan lengkap berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadis sahih, serta pendapat para ulama mengenai hukum, niat, dan urutan yang benar sesuai syariat Islam.
Apa Itu Sahur dan Mandi Wajib?
Sahur atau suhur adalah makanan yang dikonsumsi sebelum terbit fajar (masuk waktu Subuh) sebagai persiapan menjalankan puasa dari pagi hingga waktu berbuka di bulan Ramadan.
Sahur sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Ambillah sahur, karena di dalamnya ada keberkahan”. (HR Bukhari)
Hadis ini menunjukkan sahur bukan sekadar kebiasaan, melainkan ibadah yang mengandung nilai keberkahan dan manfaat fisik bagi orang yang berpuasa.
Sementara, mandi wajib atau ghusl adalah mandi untuk menyucikan diri dari hadas besar. Kondisi hadas besar dapat terjadi karena hubungan suami-istri, keluarnya mani, haid, nifasm dan sebab-sebab lain yang mewajibkan bersuci.
Ghusl merupakan bentuk penyucian diri yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Tanpa mandi wajib, seseorang tidak dapat melaksanakan ibadah tertentu seperti salat.
Hukum Sahur dan Mandi Wajib dalam Islam
1. Sahur sangat dianjurkan
Mengambil sahur hukumnya sunnah muakadah, yaitu sunah yang sangat dianjurkan. Praktik ini telah menjadi tradisi umat muslim di seluruh dunia sebelum menjalankan puasa Ramadan. Selain bernilai ibadah, sahur juga membantu menjaga stamina dan kesiapan fisik selama berpuasa seharian penuh.
2. Mandi wajib tidak membatalkan puasa
Sebagian umat Islam merasa khawatir mandi wajib dapat membatalkan puasa jika dilakukan setelah sahur atau bahkan setelah waktu Subuh tiba. Pemahaman ini tidak tepat. Puasa ditentukan oleh niat sebelum fajar, serta tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum.
Mandi wajib bukan termasuk perkara yang membatalkan puasa. Selama niat puasa telah dilakukan sebelum waktu fajar, maka puasanya tetap sah meskipun dalam keadaan junub ketika Subuh tiba.
3. Sahur tetap sah meski mandi wajib dilakukan setelahnya
Mayoritas ulama fikih sepakat puasa tetap sah walaupun mandi wajib dilakukan setelah sahur, selama niat puasa sudah dibuat sebelum fajar. Terdapat riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah berada dalam keadaan junub ketika fajar telah tiba, kemudian beliau mandi dan tetap melanjutkan puasa.
Imam An-Nawawi menjelaskan seseorang yang masih dalam keadaan junub saat fajar terbit tetap sah puasanya, asalkan niat telah dilakukan sebelumnya.
Namun demikian, sangat dianjurkan untuk segera mandi wajib sebelum melaksanakan salat Subuh agar ibadah lainnya dapat dilakukan dalam keadaan suci.
Niat Mandi Wajib
Niat merupakan bagian penting dalam mandi wajib. Niat dilakukan bersamaan saat air pertama kali disiramkan ke tubuh. Berikut bacaan niat mandi wajib karena hadas besar:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla lirof’il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya niat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala”.
Niat ini boleh dilafalkan secara lisan atau cukup di dalam hati.
Urutan yang Dianjurkan antara Sahur dan Mandi Wajib
Meskipun mandi wajib boleh dilakukan setelah sahur puasa Ramadan 2026 dan puasa tetap sah, secara syariat terdapat urutan yang lebih utama agar ibadah berjalan sempurna. Urutan yang dianjurkan adalah:
- Bangun sebelum fajar.
- Melakukan mandi wajib (ghusl) terlebih dahulu jika dalam keadaan junub.
- Berwudu.
- Makan sahur.
- Berniat puasa.
- Melaksanakan salat Subuh.
Dengan urutan ini, seseorang dapat menjalankan puasa dan salat dalam kondisi suci secara jasmani maupun spiritual.
Sahur merupakan sunah yang sangat dianjurkan dan mengandung keberkahan dalam ibadah puasa Ramadan. Sementara itu, mandi wajib (ghusl) tidak membatalkan puasa dan boleh dilakukan setelah sahur, selama niat puasa telah dilakukan sebelum fajar. Rasulullah SAW pernah berpuasa meskipun mandi wajib dilakukan setelah waktu fajar tiba.
Namun, yang lebih utama adalah melaksanakan mandi wajib sebelum sahur dan sebelum salat Subuh agar seluruh rangkaian ibadah pagi hari dilakukan dalam keadaan suci.
Dengan memahami hukum dan tata cara mandi wajib yang benar sesuai dalil Islam, umat muslim dapat menjalankan puasa Ramadan 2026 dengan lebih tenang, yakin, dan sesuai tuntunan syariat.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






