SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Dunia Trump Perintahkan Rencana Invasi Greenland, Denmark Murka

Trump Perintahkan Rencana Invasi Greenland, Denmark Murka

Dalam foto yang dirilis oleh Gedung Putih ini, Presiden Donald Trump memantau operasi militer AS di Venezuela bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe, di tengah, di Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, Sabtu, 3 Januari 2026. (AP/AP)

Suara Kalbar – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan penyusunan rencana militer untuk menginvasi Greenland. Langkah sepihak ini memicu kemarahan diplomatik Kerajaan Denmark.

Rencana tersebut ditentang sejumlah perwira senior Pentagon, meski didorong kuat oleh penasihat kebijakan Stephen Miller. Ketegangan memuncak setelah utusan khusus AS untuk Greenland, Jeff Landry, mengonfirmasi ambisi Washington menjadikan pulau otonom tersebut sebagai wilayah kedaulatan Amerika Serikat.

“Greenland tidak dijual dan tidak akan pernah dijual,” tegas mantan Perdana Menteri Greenland, Mute Egede, Minggu (11/1/2026) dilansir dari Antara.

Senada dengan itu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bersama PM Greenland Jens-Frederik Nielsen memperingatkan AS untuk menghormati integritas teritorial mereka.

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen berencana memanggil Duta Besar AS di Kopenhagen guna meminta penjelasan resmi. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu otoritas Denmark pekan depan guna meredam situasi, meski Trump tetap enggan berjanji untuk tidak menggunakan kekuatan militer.

Secara geopolitik, Greenland memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Selain deposit mineral tanah jarang (rare earth), wilayah kutub ini diperkirakan menyimpan cadangan energi fosil dalam skala masif. Trump berdalih penguasaan wilayah tersebut krusial untuk perlindungan dunia bebas.

Meski memiliki status otonomi sejak 2009, Greenland secara konstitusional tetap merupakan bagian dari Kerajaan Denmark. Para pejabat Eropa kini khawatir Trump akan memaksakan intervensi fisik sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang.

Persoalan ini menandai titik terendah hubungan diplomatik transatlantik antara Washington dan Kopenhagen pasca-Perang Dunia II.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan