Tanabar Hadirkan Slowbar di Event, Edukasi Pengunjung Soal Rasa Kopi Asli
Pontianak (Suara Kalbar) Coffee shop pendatang baru asal Pontianak, Tanabar, mencoba tampil berbeda dengan menghadirkan stand berkonsep slowbar.
Konsep ini dihadirkan sebagai upaya edukasi kepada masyarakat bahwa kopi tidak melulu soal kopi susu, tetapi juga tentang karakter biji kopi itu sendiri.
Owner Tanabar, Abu Bakar Justitia Musti, mengatakan ide menghadirkan slowbar muncul dari keinginannya agar masyarakat lebih memahami kopi secara utuh.
“Alasan saya sih biar beberapa orang lebih paham soal kopi. Kopi bukan hanya soal kopi susu, tapi juga lebih banyak variasi. Seperti kalau manual brew itu kan dia identik yang paling kuatnya sebenarnya lebih ke biji kopinya,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Rabu (14/01/2026).
Melalui konsep tersebut, Tanabar ingin memperkenalkan rasa kopi yang sebenarnya kepada para pelanggan.
“Maka dari itu kita di Tanabar pengen orang-orang, customer kita, bukan cuma tau kopi susu, tapi juga tahu gimana rasa kopi yang sebenarnya,” katanya.
Namun, menghadirkan slowbar di tengah stand event bukan tanpa tantangan. Abu Bakar mengakui proses manual brew membutuhkan waktu lebih lama dibanding kopi susu.
“Tantangan kita sendiri sih, yang pastinya untuk pembuatan manual brew itu kan lama ya. Jadi dengan flow yang cepat, apalagi di event-event seperti ini, kita harus bisa ngerjain dua produk sekaligus, manual sama kopi susu,” jelasnya.
Karena itu, Tanabar menuntut baristanya untuk memiliki kemampuan multitasking.
“Maka dari itu kita pinginnya juga barista bisa multitasking, bisa semua. Itu tantangannya,” tambahnya.
Keputusan menghadirkan slowbar juga menjadi strategi Tanabar untuk tampil berbeda di tengah menjamurnya coffee shop kopi susu.
“Karena menurut saya untuk menjual kopi susu itu umum sih. Rata-rata seluruh kopi shop di sini semuanya kopi susu. Kalau kita hanya bersaing untuk jual kopi susu, ya menurut saya semua kopi susu di sini enak semua,” ungkap Abu Bakar.
Ia menegaskan sejak awal konsep stand Tanabar memang dirancang memiliki slowbar sebagai pembeda.
“Jadi maka dari itu kita di sini pingin jadi pembeda di antara yang lain,” katanya.
Terkait respons pengunjung, Abu Bakar mengakui minat terhadap manual brew tidak langsung terlihat.
“Untuk di hari pertama event kemarin, pembeli manual brew belum ada. Tapi setelah hari kedua, dan kita juga edukasi beberapa customer, akhirnya penjualan manual brew di hari kedua lumayan tinggi sih. Mencapai 11 cup,” tuturnya.
Event berskala besar tersebut juga menjadi pengalaman pertama Tanabar menghadirkan stand secara maksimal.
“Jadi untuk stand yang besar seperti event itu baru pertama kali. Kalau sebelum-sebelumnya kita juga udah pernah ada event. Tetapi event-event pertama kita tuh masih dalam adaptasi,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran Tanabar di event ini bisa menunjukkan bahwa coffee shop baru pun mampu bersaing.
“Jadi dengan adanya event kemarin, kita pingin Tanabar yang coffee shop yang baru, pendatang baru, itu juga matang juga. Nggak kalah jauh sama coffee shop-coffee shop yang udah punya nama,” katanya.
Bagi pihak yang ingin menghadirkan stand Tanabar di acara mereka, Abu Bakar mengatakan cukup menghubungi akun Instagram Tanabar.
“Bisa hubungin via DM Instagram @tanabarcoffee. Nanti akan saya langsung respon sendiri. Jadi saya fast respon sih kalau untuk di Instagram,” jelasnya.
Soal harga, Tanabar bersifat fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan acara.
“Kalau untuk harga di wedding, umumnya kita tuh biasanya menyesuaikan dari budget yang wedding sendiri. Jadi kita biasanya nyesuaikan takaran gitu,” ujarnya.
Penulis: Maria






