Radioterapi Kian Presisi, Pilar Penting Penanganan Kanker Serviks
Suara Kalbar – Radioterapi saat ini telah berkembang menjadi salah satu metode penanganan kanker yang efektif dan presisi, tidak hanya untuk kanker serviks, tetapi juga kanker ginekologi lainnya.
Radioterapi merupakan salah satu dari tiga pilar utama terapi kanker, selain pembedahan dan terapi sistemik. Dokter spesialis onkologi radiasi, dr Fauzan Herdian mengatakan sekitar 50–60% pasien kanker membutuhkan radioterapi sebagai bagian dari rangkaian pengobatannya.
“Seiring bertambahnya kesadaran masyarakat terhadap skrining kanker serviks, semakin banyak pasien yang terdeteksi pada stadium yang masih dapat ditangani secara optimal dengan radioterapi, khususnya pada stadium II dan III,” kata dr Fauzan, mengutip Antara, Rabu (31/12/2025).
Perkembangan teknologi radioterapi dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan teknik presisi tinggi, seperti 3D conformal radiotherapy, dan intensity modulated radiation therapy (IMRT), termasuk teknik lanjutan VMAT dan IGRT. Teknologi ini memungkinkan pengaturan dosis radiasi yang lebih akurat, efektif menargetkan tumor serta mengurangi paparan ke jaringan sehat.
“Dengan teknik modern seperti IMRT dan VMAT, radioterapi kini semakin aman dan nyaman. Tingkat keberhasilan terapi juga bertambah, sementara efek samping dapat lebih terkontrol, termasuk pada kanker serviks pascaoperasi atau yang telah menyebar ke kelenjar getah bening,” tambah dr Fauzan
Untuk pengobatan kanker, radioterapi dilakukan dengan dua pendekatan utama, yaitu radioterapi eksternal dan brakiterapi. Radioterapi eksternal menjadi metode yang paling umum, melibatkaan sinar pengion berenergi tinggi yang diarahkan secara presisi ke area tumor melalui mesin khusus, dengan durasi sekitar 10–30 menit per sesi tanpa timbul rasa sakit.
Sementara itu, brakiterapi dilakukan dengan menempatkan aplikator langsung ke area tumor. Brakiterapi menjadi bagian penting, bahkan wajib bila tidak ada kontraindikasi, dalam terapi kanker serviks untuk melengkapi dosis radiasi secara optimal. Efek samping radioterapi umumnya bersifat lokal dan sementara, seperti iritasi kulit, gangguan pencernaan, atau keluhan berkemih.
Pada kanker serviks, radioterapi berperan penting di berbagai stadium, mulai dari terapi tambahan pascaoperasi, terapi utama pada stadium lokal lanjut, hingga pengendalian gejala pada stadium lanjut.
Dokter Fauzan mengingatkan, deteksi dini tetap menjadi kunci karena memberikan peluang kesembuhan sangat tinggi, bahkan mendekati 100% bila ditemukan pada tahap stadium awal. Terapi menjadi lebih singkat, efek samping lebih ringan, dan biaya pengobatan juga jauh lebih rendah.
Skrining kanker serviks dianjurkan dilakukan secara berkala melalui pap smear setiap 3–5 tahun setelah menikah, atau melalui tes inspeksi visual dengan asam asetat sebagai skrining awal, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan yang memadai.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






