SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Headline Menembus Lumpur Demi Sekolah, Perjuangan Guru SD di Perbatasan RI-Malaysia

Menembus Lumpur Demi Sekolah, Perjuangan Guru SD di Perbatasan RI-Malaysia

Menyeret motor, mengenakan sepatu boot, dan tetap tersenyum inilah perjuangan Guru Titin menuju sekolah. SUARAKALBAR.CO.ID/Istimewa

Sambas (Suara Kalbar) – Di balik semangat belajar anak-anak SDN 18 Sungai Dungun, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, tersimpan kisah perjuangan seorang guru bernama Titin. Sejak pagi hari, ia harus menaklukkan jalan rusak, berlumpur, dan berlubang demi bisa sampai ke sekolah dan menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Setiap hujan turun, akses menuju sekolah berubah menjadi kubangan. Genangan air bercampur lumpur menutup badan jalan, membuat sepeda motor sulit melaju. Tak jarang, Titin harus turun dan menyeret motornya perlahan melewati jalan licin. Seragam guru yang seharusnya rapi pun kerap ternoda lumpur. Meski demikian, senyum tetap terukir di wajahnya.

Berbeda dengan guru pada umumnya yang mengenakan sepatu pantofel, Titin memilih sepatu boot sebagai perlengkapan utama. Alas kaki itu menjadi pelindung agar ia tetap bisa melintasi medan ekstrem yang setiap hari dihadapinya.

“Kalau hujan jalannya becek, kalau air pasang jalanan banjir air asin karena berdampingan langsung dengan sungai,” ungkap Titin, Kamis (15/1/2026).

Titin telah mengabdi di sekolah tersebut sejak 2003. Ia memulai karier sebagai guru honorer hingga akhirnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Selama lebih dari dua dekade, ia menyaksikan perubahan demi perubahan pada akses jalan menuju sekolah. Namun, karena badan jalan masih berupa tanah, perbaikan yang dilakukan sebatas penimbunan batu. Seiring waktu, timbunan itu kembali terbenam dan rata dengan tanah.

Risiko yang dihadapi bukan sekadar pakaian kotor atau motor mogok. Titin mengaku pernah mengalami kecelakaan hingga terjatuh. Peristiwa itu berdampak serius: ia mengalami keguguran dan tulang paha kiri retak.

Meski pernah mengalami kejadian pahit, semangat Titin untuk mengajar tak pernah surut. Perjuangannya menjadi potret nyata dedikasi guru di daerah terpencil, yang rela mempertaruhkan keselamatan demi masa depan anak-anak bangsa.

“Selama saya masih mampu, saya akan tetap mengajar. Anak-anak di sini berhak mendapatkan pendidikan yang layak, meskipun jalan menuju sekolah penuh dengan risiko,” tutup Titin.

Penulis: Serawati

Komentar
Bagikan:

Iklan